Harga Emas Antam Turun Rp 14.000 di Awal Oktober 2026

Harga emas batangan Antam melemah Rp 14.000 menjadi Rp 2.581.000 per gram pada Kamis (1/10/2026). Harga buyback juga ikut terkoreksi.

oleh Arthur GideonDiterbitkan 01 Oktober 2026, 09:45 WIB
Pramuniaga menunjukkan emas batangan PT Aneka Tambang (Antam) Tbk di sebuah gerai emas, Jakarta. (Liputan6.com/Johan Tallo)

Liputan6.com, Jakarta - Harga emas batangan yang dijual PT Aneka Tambang Tbk (Antam) kembali melemah pada perdagangan Kamis (1/10/2026). Harga emas Antam hari ini turun Rp 14.000 per gram.

Mengutip laman resmi logammulia.com, harga emas Antam hari ini dipatok Rp 2.581.000 per gram, turun dari posisi sebelumnya di angka Rp 2.595.000 per gram.

Penurunan juga terjadi pada harga buyback (beli kembali) emas Antam. Harga buyback hari ini melemah Rp 14.000 menjadi Rp 2.391.000 per gram.

Sebagai informasi, harga buyback merupakan nominal yang diterima pemilik emas ketika menjual kembali emas batangannya ke Antam. Sementara itu, harga yang tercantum pada awal perdagangan merupakan harga jual emas Antam kepada konsumen.

Sebagai catatan, harga emas Antam pernah mencetak rekor tertinggi sepanjang sejarah (all-time high) pada Kamis (29/1/2026) di level Rp 3.168.000 per gram, dengan harga buyback mencapai Rp 2.989.000 per gram.

Harga emas Antam bersifat fluktuatif dan dapat berubah sewaktu-waktu mengikuti pergerakan harga emas dunia serta kondisi pasar harian.

Rincian Harga Emas Antam Kamis (1/10/2026):

  • 0,5 gram: Rp 1.340.500
  • 1 gram: Rp 2.581.000
  • 2 gram: Rp 5.112.000
  • 3 gram: Rp 7.650.000
  • 5 gram: Rp 12.720.000
  • 10 gram: Rp 25.360.000
  • 25 gram: Rp 63.235.000
  • 50 gram: Rp 126.305.000
  • 100 gram: Rp 252.460.000
  • 250 gram: Rp 630.840.000 (pre-order)
  • 500 gram: Rp 1.261.400.000 (pre-order)
  • 1.000 gram: Rp 2.521.600.000 (pre-order)

Harga Emas Dunia Jatuh 6,6%

Harga emas dunia. (Ilustrasi by AI)

Harga emas dunia kembali turun pada perdagangan Rabu dan berada di jalur penurunan bulanan. Kenaikan harga energi mengalahkan dukungan dari data inflasi Amerika Serikat (AS) yang lebih rendah dari perkiraan.

Mengutip CNBC, Kamis (1/10/2026), harga emas di pasar spot turun 0,7% menjadi US$ 4.152,86 per ons. Harga emas sempat naik setelah data inflasi AS dirilis lebih rendah dari perkiraan. Namun, sepanjang September, harga emas masih turun 6,6%.

Sementara itu, harga emas berjangka AS ditutup naik 0,2% menjadi US$ 4.186,70 per ons.

“Dengan energi yang bergerak lebih tinggi, obligasi telah kehilangan kenaikannya dan kembali menekan logam mulia. Ini menjadi hari yang mengecewakan bagi emas meskipun peluang kenaikan suku bunga pada Oktober turun secara signifikan setelah hasil core PCE lebih rendah dari perkiraan,” kata trader logam independen Tai Wong.

Data Departemen Perdagangan AS menunjukkan indeks harga Personal Consumption Expenditures (PCE) naik 0,3% pada Agustus setelah meningkat 0,1% pada Juli.

Daya Tarik Emas Berkurang

Ilustrasi harga emas (Ilustrasi by AI)

Sementara itu, indeks core PCE yang tidak memasukkan harga pangan dan energi naik 3% secara tahunan pada Agustus. Angka tersebut sama dengan kenaikan pada Juli setelah direvisi.

Data tersebut membuat pasar memperkirakan peluang kenaikan suku bunga The Fed pada Oktober sekitar 39%, turun dari 45% sebelum data PCE dirilis, berdasarkan CME FedWatch Tool. Namun, peluang kenaikan suku bunga pada Desember mencapai 90%.

Dolar AS melemah setelah data tersebut dirilis. Namun, dolar masih berada di jalur penguatan secara bulanan sehingga membuat emas yang dihargai dalam dolar menjadi lebih mahal bagi pembeli di luar AS.

The Fed menggunakan indikator PCE sebagai salah satu acuan untuk mencapai target inflasi 2%. Setelah menaikkan suku bunga ke kisaran 3,75%-4% pada bulan ini, bank sentral AS mengisyaratkan masih terbuka terhadap kenaikan berikutnya.

Harga emas biasanya dipandang sebagai lindung nilai terhadap inflasi. Namun, daya tariknya cenderung berkurang ketika suku bunga tinggi membuat aset berbunga menawarkan imbal hasil lebih menarik.

Di sisi lain, harga minyak naik dan menuju penguatan bulanan setelah perundingan AS-Iran untuk mengakhiri konflik mengalami kebuntuan. Kondisi ini memicu kekhawatiran harga energi tetap tinggi dan dapat memperpanjang inflasi serta mendorong kebijakan moneter yang lebih ketat.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya