Liputan6.com, Jakarta - Bagi Maolana Purwa Wibowo, perjalanan menuju Kalimantan bukan sekadar perjalanan mencari pekerjaan. Pemuda 18 tahun asal Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, itu membawa harapan besar: memperbaiki perekonomian keluarga dan menghidupi sang kakek yang telah renta.
Dengan bekal atau modal hanya Rp 13.000, Maolana berangkat merantau. Jumlah itu mungkin terlihat kecil, tetapi bagi pemuda seusianya, ada tekad besar yang ikut dibawa dalam perjalanan tersebut.
Advertisement
Ia ingin bekerja. Ia ingin membantu keluarga. Lebih dari itu, ia ingin membuat sang kakek bisa menjalani hari-hari dengan lebih baik.
Namun, perjalanan Maolana ke Kalimantan berakhir tragis.
Ia menjadi salah satu korban meninggal dunia dalam kecelakaan KM Virgo Transport 8. Setelah proses pencarian dan identifikasi, jenazah Maolana berhasil dikenali oleh tim Disaster Victim Identification (DVI) Polda Kalimantan Selatan.
Kabar itu menjadi akhir dari penantian panjang keluarganya di Cilacap.
Selama lebih dari dua pekan, sang kakek masih menyimpan harapan cucunya akan kembali ke rumah. Di tengah ketidakpastian, doa terus dipanjatkan.
“Semoga dalam keadaan selamat dan sehat, bisa pulang,” ucap sang kakek dikutip lembaga filantropi Siaga Peduli.
Harapan itu bertahan selama hari-hari penantian. Keluarga tentu membayangkan Maolana akan kembali dengan selamat, membawa cerita tentang perjalanan merantau dan kehidupan barunya di Kalimantan.
Namun, kepulangan yang dinanti ternyata datang dengan cara yang berbeda.
Maolana akhirnya kembali ke kampung halaman, tetapi bukan dengan langkahnya sendiri. Ia pulang dalam kondisi sudah meninggal dunia.
Bagi keluarga, terutama sang kakek, perjalanan Maolana menyisakan kisah yang jauh lebih besar daripada sekadar kepergian seorang pemuda untuk mencari penghidupan.
Ada seorang cucu berusia 18 tahun yang berangkat dengan modal Rp 13.000 dan harapan sederhana: bekerja, membantu keluarga, serta membahagiakan orang yang telah menantinya di rumah.
Kini, yang tersisa adalah kenangan tentang seorang pemuda yang pergi membawa cita-cita, tetapi takdir membawanya pulang untuk terakhir kalinya.