Danantara Kaji Penggabungan Pertagas dan PGN

COO Danantara kaji penggabungan Pertagas dan PGN untuk memperkuat bisnis midstream dan downstream, sekaligus mendorong penggunaan CNG guna menekan impor LPG.

oleh Arief Rahman HDiterbitkan 01 Oktober 2026, 07:40 WIB
PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN), Subholding Gas Pertamina. (Foto:PGN)

Liputan6.com, Jakarta - Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) tengah mempertimbangkan penggabungan dua BUMN di sektor gas, yaitu PT Pertamina Gas (Pertagas) dan PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN). Kedua perusahaan tersebut nantinya dipastikan berfokus pada bisnis gas hingga ke konsumen akhir.

Chief Operating Officer (COO) Danantara sekaligus Kepala Badan Pengaturan BUMN (BP BUMN), Dony Oskaria, menyampaikan bahwa pihaknya masih mengkaji berbagai skema aksi korporasi yang akan diambil. Fokus bisnis mendatang akan berpusat pada lini midstream dan downstream.

"Ini sedang kita kaji bagaimana polanya nanti. Namun, yang paling penting adalah perusahaan gas kita akan bermain di sektor midstream dan downstream," ujar Dony di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, dikutip Kamis (1/10/2026).

Saat ini, Pertagas dan PGN sama-sama menjalankan bisnis penyaluran gas, termasuk jaringan gas (jargas) untuk rumah tangga. Dony mengaku belum menentukan struktur akhir dari penggabungan ini.

"Ada beberapa pilihan struktur yang sedang kita kaji untuk menentukan mana yang terbaik antara Pertagas, PGN, dan entitas terkait lainnya. Intinya, kita cari yang paling menguntungkan bagi Indonesia," jelasnya.

Ketika dikonfirmasi mengenai bentuk perusahaan ke depan, Dony menyebut ada beberapa poin pertimbangan, terutama dari segi efisiensi serta analisis biaya dan manfaat (cost and benefit).

"Belum bisa diputuskan perusahaan holding-nya. Tentu kita lihat cost and benefit-nya dulu. Jika skemanya A manfaatnya apa, jika skemanya B manfaatnya apa. Nanti pasti kita pilih yang terbaik," tambah Dony.

 

Dorong Penggunaan CNG untuk Tekan Impor LPG

Instalasi penyaluran compressed natural gas (CNG). (Liputan6.com/Deon)

Di sisi lain, anak usaha PGN, PT Gagas Energi Indonesia (PGN Gagas), terus mendorong penggunaan compressed natural gas (CNG) sebagai alternatif untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor LPG.

Direktur Utama PGN Gagas, Santiaji Gunawan, menjelaskan bahwa CNG memiliki keunggulan utama karena memanfaatkan gas bumi yang bersumber dari dalam negeri, sehingga dapat mendukung kemandirian energi nasional.

"CNG ini murni domestik, bukan produk impor. Jadi, asli milik Indonesia," ujar Santiaji di Sleman, Rabu (19/8/2026).

 

Perluas Penyaluran ke Sektor Rumah Tangga

Instalasi penyaluran compressed natural gas (CNG). (Liputan6.com/Deon)

Santiaji menambahkan, penggunaan CNG tidak hanya ditujukan bagi sektor industri. PGN Gagas juga mengembangkan pemanfaatannya untuk sektor rumah tangga melalui sistem jaringan klaster, serta pelanggan komersial melalui skema point-to-point.

Pengembangan CNG menjadi solusi PGN Gagas dalam memperluas akses gas bumi ke daerah-daerah yang jauh dari sumber gas, salah satunya Yogyakarta.

"Di Yogyakarta tidak ada sumber gas yang dekat, sehingga pengiriman gas bumi ke wilayah tersebut dilakukan menggunakan sistem CNG," kata Santiaji.

Dalam proses distribusinya, gas terlebih dahulu dikompresi dan diangkut menggunakan Gas Transport Module (GTM). Sesampainya di lokasi tujuan, tekanan gas diturunkan melalui Pressure Regulating Station (PRS) sebelum disalurkan ke pelanggan.

"Biasanya penyaluran gas menggunakan pipa jika lokasinya dekat dengan sumber gas. Karena Jogja jauh dari sumber gas, solusinya adalah memanfaatkan teknologi CNG," jelasnya.

Melalui sistem ini, masyarakat di daerah yang tidak memiliki sumber gas lokal tetap dapat menikmati akses gas bumi secara merata.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya