Rupiah Lepas dari Bayang-Bayang 18.000 per Dolar AS, Ada Intervensi BI

Rupiah menguat 87 poin ke 17.894 per dolar AS, didukung intervensi BI dan penurunan harga minyak dunia.

oleh Arthur GideonDiterbitkan 30 September 2026, 19:00 WIB
Karyawan menunjukkan uang dolar AS dan rupiah di Jakarta, Rabu (30/12/2020). Nilai tukar rupiah di pasar spot ditutup menguat 80 poin atau 0,57 persen ke level Rp 14.050 per dolar AS. (Liputan6.com/Johan Tallo)

Liputan6.com, Jakarta - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menguat pada penutupan perdagangan Rabu. Rupiah naik 87 poin atau 0,48 persen menjadi 17.894 per dolar AS, dari posisi sebelumnya 17.981 per dolar AS.

Penguatan juga tercermin pada kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia (BI). Pada perdagangan hari ini, JISDOR menguat ke level 17.877 per dolar AS, dari sebelumnya 17.998 per dolar AS.

Research and Development Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX), Muhammad Amru Syifa, menilai pergerakan rupiah salah satunya dipengaruhi intervensi BI yang konsisten di pasar valuta asing (valas).

“BI tetap konsisten melakukan intervensi setelah rupiah sempat menembus 18.000 per dolar AS,” ucapnya dikutip Antara, Rabu (30/9/2026). 

BI sebelumnya menegaskan intervensi di pasar valas tetap dilakukan untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah sesuai dengan dinamika pasar.

Direktur Eksekutif Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI Erwin G Hutapea menjelaskan, komposisi intervensi spot sekitar 30 persen merupakan komposisi historis dan bukan target dalam pelaksanaan intervensi.

Secara historis, penggunaan instrumen spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), dan Non-Deliverable Forward (NDF) kini semakin berimbang seiring perkembangan pasar valas domestik.

 

Rupiah Menguat, Harga Minyak Dunia Ikut Jadi Penopang

Karyawan menunjukkan uang pecahan dolar Amerika Serikat (AS) di salah satu gerai penukaran mata uang asing, Jakarta. (Kapanlagi.com/Budy Santoso)

Erwin menegaskan perubahan komposisi instrumen tersebut tidak berarti komitmen BI untuk melakukan intervensi di pasar spot berkurang. Kebijakan intervensi tetap disesuaikan dengan kondisi pasar.

Selain faktor domestik, pergerakan rupiah turut dipengaruhi sentimen global. Salah satunya kenaikan yield US Treasury dan penguatan dolar AS.

Yield US Treasury 10 tahun disebut berada di sekitar 5,27 persen. Pada saat yang sama, dolar AS bergerak mendekati level tertinggi tahun ini. Kondisi tersebut membuat aset berbasis dolar lebih menarik dan memberikan tekanan terhadap sejumlah mata uang regional, termasuk rupiah.

Namun, pernyataan Presiden New York Fed John Williams bahwa belum ada urgensi untuk kembali menaikkan suku bunga memberikan ruang bagi pasar untuk mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed dalam waktu dekat.

Analis Doo Financial Lukman Leong menilai penurunan harga minyak dunia juga ikut menopang penguatan rupiah.

“Penguatan ini didukung oleh harga minyak dunia yang turun cukup besar oleh berita bahwa Arab Saudi melanjutkan kembali setengah dari ekspor minyak mentah melalui jalur pipa Timur-Barat,” ujar dia.

Harga minyak Brent turun 2,8 persen atau US$ 2,94 menjadi US$ 102,35 per barel. Sementara itu, minyak West Texas Intermediate (WTI) turun US$ 3,5 atau 3,8 persen menjadi US$ 89 per barel.

Penurunan harga minyak terjadi di tengah tanda-tanda membaiknya pasokan dari Timur Tengah, termasuk kembali berjalannya ekspor minyak Arab Saudi melalui jalur pipa Timur-Barat setelah perbaikan kerusakan akibat serangan pesawat nirawak.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya