Liputan6.com, Jakarta - Langkah penguatan struktur permodalan PT Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati dipastikan segera terealisasi. Modal dasar BUMD pengelola bandara tersebut diproyeksikan melonjak signifikan dari Rp 2,5 triliun menjadi Rp 8 triliun.
Suntikan modal tersebut tidak hanya disalurkan dalam bentuk kas, tetapi juga mencakup pengalihan aset tanah (inbreng) yang berlokasi di area strategis kawasan bandara.
Advertisement
Kepala Biro Binaan BUMD, Investasi, dan Administrasi Pembangunan (BIA) Setda Jabar, Deny Hermawan, mengungkapkan penyertaan modal berupa aset (inbreng) lahan itu ada di lahan strategis kawasan bandara.
"Nanti ada peningkatan modal dasar dari Rp 2,5 triliun jadi Rp 8 triliun. Salah satunya dalam bentuk tanah," kata Deny di Bandung, dikutip Antara, Rabu (30/9).
Deny menegaskan bahwa pengesahan Raperda Perubahan ini menjadi fondasi hukum wajib sebelum Pemprov Jawa Barat mengucurkan tambahan modal demi mengakselerasi performa operasional bandara terbesar di Jawa Barat tersebut.
Rencana ekspansi permodalan ini berjalan mulus usai mengantongi lampu hijau dari DPRD Jawa Barat. Mayoritas fraksi sepakat membawa Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) terkait Perubahan Kedua Perda Nomor 22 Tahun 2013 tentang Pembentukan BUMD Pengelola Bandara Kertajati ke tingkat Panitia Khusus (Pansus).
Dukungan penuh dari legislatif didasari oleh posisi BIJB Kertajati yang dinilai sebagai pilar transportasi nasional sekaligus pusat pertumbuhan ekonomi baru di wilayah Cirebon, Indramayu, Majalengka, dan Kuningan (Ciayumajakuning).
Penguatan Struktur Hukum
Anggota DPRD Jawa Barat, Toto Suharto mengungkapkan pihaknya menilai penguatan struktur hukum dan keuangan BIJB Kertajati sangat mendesak mengingat posisinya sebagai infrastruktur transportasi strategis nasional sekaligus mesin pertumbuhan ekonomi baru di kawasan Cirebon, Indramayu, Majalengka, dan Kuningan (Ciayumajakuning).
"Kondisi kini perlu penguatan, BIJB juga untuk motor penggerak ekonomi khususnya wilayah Jawa Barat bagian timur," ujar Toto yang juga Wakil Ketua Fraksi PAN DPRD Jabar itu.
Kendati memberikan persetujuan, pihak legislatif mewanti-wanti agar injeksi modal ini tidak sekadar mempercantik pembukuan korporasi, melainkan memberikan efek ganda (multiplier effect) bagi kesejahteraan masyarakat lokal.
"Kami harap ada integrasi kawasan dan menunjang ekonomi lokal," ujar Toto.
Dengan modal dasar yang membengkak hingga Rp 8 triliun serta penyesuaian bentuk perusahaan, PT BIJB Kertajati diharapkan dapat bergerak lebih lincah dalam menggaet mitra strategis, mempercepat pengembangan kawasan aerocity, dan memperkuat konektivitas udara nasional secara berkelanjutan.