Potensi Ekonomi Sport Tourism Indonesia Tembus Rp 39,5 Triliun

Erick Thohir mendorong Mandalika menggelar agenda internasional di luar MotoGP demi memacu kontribusi industri olahraga yang kini tembus Rp 39,5 triliun.

oleh Rachel AuliaDiterbitkan 30 September 2026, 20:10 WIB
Upacara peluncuran Pertamina Grand Prix of Indonesia 2026 atau MotoGP Indonesia. (dok. InJourney)

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Erick Thohir menargetkan Sirkuit Mandalika di Nusa Tenggara Barat (NTB) dapat beroperasi minimal 100 hari dalam setahun. Target tersebut dipasang sebagai langkah pengoptimalan kawasan Mandalika sebagai destinasi sport tourism unggulan di Indonesia.

“Dari 365 hari, minimal 100 hari harus terpakai. Ini penting agar pembangunan fasilitas sirkuit yang sudah ada tidak memunculkan persepsi mangkrak seperti yang kerap digaungkan banyak pihak terkait sarana olahraga. Tidak mangkrak!” ujar Erick dalam acara Peluncuran Buku Dampak MotoGP Mandalika dan Kick Off Desain Besar Pengembangan Industri Olahraga secara virtual, Rabu (30/9/2026).

Guna mendukung potensi tersebut, Erick mendorong agar Kawasan Mandalika menggelar lebih banyak agenda kegiatan di luar kalender utama MotoGP. Ia mencontohkan Singapura yang sukses memanfaatkan momentum Formula 1 (F1) untuk menghadirkan berbagai ajang berkelas, seperti forum Forbes 400 hingga konferensi investasi internasional selama pekan balapan berlangsung.

Lebih lanjut, Erick menilai potensi industri olahraga dan sport tourism masih sangat luas untuk dikembangkan demi menopang pertumbuhan ekonomi nasional. Saat ini, kontribusi Indonesia baru mencapai 0,5% dari total nilai industri olahraga global atau setara Rp 39,5 triliun.

 

Bappenas Perkuat Ekosistem Pariwisata dan Keamanan

Menteri PPN/Bappenas, Rachmat Pambudy. (Sumber: Kemenimipas)

Pada kesempatan yang sama, Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), Rachmat Pambudy, menegaskan dukungannya terhadap pengembangan sport tourism melalui penguatan ekosistem pariwisata terpadu. Menurutnya, penyelenggaraan ajang olahraga memerlukan ketersediaan kebutuhan dasar hingga jaminan faktor keamanan agar dapat berjalan optimal.

Rachmat menjelaskan bahwa Bappenas bertugas memastikan seluruh elemen pendukung di kawasan pariwisata terbentuk dengan baik, termasuk keterjangkauan pangan, ketersediaan energi, dan akses air bersih.

“Ekosistem inilah yang menjadi ranah pekerjaan Bappenas. Bappenas harus memastikan ekosistem pariwisata berjalan dan berlangsung dengan baik, supaya Ibu Menteri Pariwisata bisa bekerja lebih maksimal. Jadi kalau Menteri Pariwisata belum maksimal, jangan langsung menyalahkan menterinya. Sudahkah ekosistemnya terbentuk? Yang paling dasar, apakah pangan, energi, dan air sudah tersedia di sana? Kalau tidak ada, tentu tidak mungkin berjalan,” tegas Rachmat.

Selain kebutuhan dasar, Rachmat menekankan bahwa aspek keamanan merupakan syarat mutlak dalam industri pariwisata, karena wisatawan membutuhkan jaminan keselamatan saat berkunjung ke suatu destinasi.

 

Event Pariwisata Hasilkan Perputaran Ekonomi Rp 23,76 Triliun

Sementara itu, Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana menyampaikan bahwa sepanjang tahun 2025 lalu, Kementerian Pariwisata telah memberikan dukungan terhadap berbagai ajang pariwisata dan olahraga yang terbukti mampu menghasilkan perputaran ekonomi hingga Rp 23,76 triliun.

“Kami laporkan pada tahun 2025, Kementerian Pariwisata mendukung 217 event yang terdiri dari 19 Karisma Event Nusantara (ajang daerah), 32 event internasional, 54 event nasional, 30 pendukungan event dan promosi MICE, serta 2 event pentas,” ungkap Widiyanti.

Rangkaian ajang tersebut tercatat menyedot hingga 12,2 juta pengunjung, melibatkan lebih dari 20.800 UMKM, serta menyerap sekitar 257.000 tenaga kerja, pelaku seni, dan komunitas lokal.

Widiyanti menambahkan, dukungan terhadap event tidak hanya ditujukan agar kegiatan dapat berlangsung, tetapi juga untuk memperluas dampak ekonomi sekaligus mendorong kemandirian para penyelenggara agar ajang tersebut berkelanjutan.

Kendati mencatatkan capaian positif, Widiyanti mengakui masih ada sejumlah tantangan yang perlu dibenahi secara intensif, seperti pemerataan penyebaran event, daya dukung destinasi, keberlanjutan kunjungan di luar jadwal acara, hingga standardisasi kualitas layanan.

“Empat tantangan ini kami harapkan dapat menjadi bagian integral dari penyusunan Desain Besar Pengembangan Industri Olahraga yang kita mulai bersama hari ini,” pungkasnya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya