Kekeringan Ekstrem, Warga di NTT Korek-Korek Pohon Pisang Cari Air Demi Bertahan Hidup

Kekeringan ekstrem melanda kampung Tomu, Desa Tuanggeo, kecamatan Palue, Pulau Palue, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur.

oleh Ola KedaDiterbitkan 30 September 2026, 11:25 WIB
Warga kampung Tomu, Palue, kabupaten Sikka, NTT, saat mengorek-ngorek batang pisang demi mendapatkan air bersih (Liputan6.com/ Ola Keda)

Liputan6.com, Jakarta - Krisis air minum bersih memaksa warga kampung Tomu, Desa Tuanggeo, kecamatan Palue, Pulau Palue, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, mencari cara agar tetap bisa bertahan hidup. Di tengah keterbatasan sumber air, mereka menemukan sumber kehidupan yang sederhana namun menyayat hati: mengais-ngais air di batang pohon pisang.

Itulah satu-satunya cara yang bisa dilakukan warga kampung tomu setiap hari untuk bertahan hidup. Mereka mengorek batang pisang untuk memenuhi kebutuhan makan dan minum yang paling mendasar.

Warga terpaksa mengambil air dari batang pohon pisang guna memenuhi kebutuhan air rumah tangga yang tak terpenuhi dari sumber lain. Bukan karena ingin, melainkan karena tak punya pilihan lain.

Untuk mendapatkan air secukupnya, warga harus mengorek beberapa pohon pisang di kebun dekat pekarangan rumah. Setiap batang yang digali tak selalu menghasilkan air yang banyak, sehingga mereka harus berjalan dan mencari lagi pohon pisang, begitu terus, berulang-ulang.

Agar air bisa tertampung, batang pisang yang sudah dilubangi ditancapkan dengan bambu. Air yang keluar dari batang pun mengalir perlahan ke wadah yang sudah disiapkan di bawahnya. Tetes demi tetes, dikumpulkan dengan sabar.

Air yang sudah tertampung di ember itu kemudian dibawa pulang ke rumah, dimasak, dan dikonsumsi. Dalam sehari, dari beragam pohon yang digali, warga rata-rata hanya mampu mengumpulkan sekitar 2 hingga 2,5 liter air untuk dikonsumsi bersama keluarga.

Fransiskus Xaverius Sanda, salah seorang warga Pulau Palue, mengakui hal ini dilakukan karena mereka tak mampu membeli air tangki yang harganya di luar jangkauan.

"Ini satu-satunya cara yang kami miliki. Kami bergantung pada apa yang diberikan alam, dari batang pisang ini," ucapnya dengan nada pasrah.

Selain air dari batang pisang, warga juga memanfaatkan hasil penyulingan uap panas bumi dari gunung api rokatenda untuk minum dan memasak. bahkan untuk mandi dan mencuci, ada warga yang terpaksa menggunakan air asin.

Kesulitan air ini semakin berat setelah bangunan penampungan air hujan yang menjadi tumpuan warga rusak dan ambruk saat gempa Flores pada pertengahan Agustus lalu. Sumber air yang dulu diandalkan kini tak lagi bisa digunakan.

Di tengah perjuangan sehari-hari ini, harapan warga tetap satu, agar pemerintah segera menyalurkan air minum bersih ke pulau palue. agar mereka tak lagi harus mengandalkan air dari batang pisang, dan agar krisis air yang melanda ini segera berakhir.

"Kami berharap pertolongan pemerintah, agar bisa bantu air bersih," pintanya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya