Bursa Saham Asia Hari Ini Melejit, Indeks Nikkei Naik 1,4%

Berlawanan dengan wall street, bursa saham Asia Pasifik menguat pada perdagangan saham Rabu, (30/9/2026).

oleh Agustina MelaniDiterbitkan 30 September 2026, 08:20 WIB
Orang-orang berjalan melewati sebuah indikator saham elektronik sebuah perusahaan sekuritas di Tokyo, Jepang (AP Photo/Shizuo Kambayashi)

Liputan6.com, Jakarta - Bursa saham Asia Pasifik dibuka menguat pada perdagangan saham Rabu, (30/9/2026). Penguatan bursa saham Asia Pasifik terjadi di tengah bursa saham Amerika Serikat (AS) atau wall street yang melemah.

Mengutip CNBC, Rabu pekan ini, indeks Nikkei 225 di Jepang menguat 1,4% dan indeks saham Topix bertambah 0,65. Indeks Kospi di Korea Selatan dan indeks saham kapitalisasi kecil masing-masing naik lebih dari 1%. Indeks ASX 200 di Australia juga menguat tipis.

Imbal hasil obligasi Treasury tenor 30 tahun sempat menyentuh level tertinggi di atas 5,6% pada Selasa, angka yang belum pernah tercatat sejak Juni 2002.

Sementara itu, imbal hasil tenor 10 tahun naik ke level tertinggi baru sejak 2007, mendekati angka 5,3%. Pergerakan tersebut memicu penurunan indeks Dow lebih dari 100 poin, sedangkan indeks S&P 500 dan Nasdaq masing-masing turun 0,2% dan 0,1%.

Pergerakan pasar ini terjadi di tengah penurunan harga minyak pada hari yang sama.

Ekonom senior di Interactive Brokers, Jose Torres mencatat pasar saham "berusaha untuk bertahan, tetapi kondisi keuangan yang lebih ketat memperkuat posisi kubu bearish (pesimistis) dan meningkatkan minat terhadap lindung nilai (hedging) untuk mengantisipasi penurunan harga."

Meski demikian, komentar terbaru dari Presiden Federal Reserve New York, John Williams, tampaknya telah meredakan kekhawatiran mengenai kenaikan suku bunga bank sentral, setidaknya untuk saat ini. Pada Selasa malam, Williams menyatakan, tidak ada urgensi, dan memiliki waktu untuk mengumpulkan lebih banyak informasi" sebelum pertemuan The Fed Oktober.

 

Menanti Data Ekonomi AS

Ilustrasi wall street (Photo by Robb Miller on Unsplash)

Alat FedWatch milik CME Group menunjukkan para pelaku pasar memperkirakan adanya peluang sebesar 49% untuk kenaikan suku bunga sebesar seperempat poin persentase bulan depan. Angka ini turun dari 71% pada Senin.

Menjelang Rabu, para pelaku pasar akan mencermati data indeks harga Personal Consumption Expenditures (PCE) Agustus, yang merupakan tolok ukur inflasi pilihan Federal Reserve. Para ekonom yang disurvei oleh Dow Jones memperkirakan indikator tersebut akan naik 0,3% pada bulan itu, sehingga laju inflasi tahunan mencapai 3,7%.

Pada Rabu menandai hari terakhir September sekaligus akhir kuartal ketiga. Kinerja pasar tercatat beragam dalam kedua periode waktu tersebut. Selama bulan berjalan, indeks S&P 500 dan Dow mencatatkan penurunan, sementara Nasdaq naik lebih dari 1%. Untuk kuartal ini, S&P 500 dan Nasdaq naik 2%, sedangkan Dow turun hampir 2%.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya