5 Tips Mulai Bisnis Baru dari Pendiri Supermarket Produk Organik Terbesar di AS

Simak tips untuk entrepreneur yang memulai babak keduanya, menurut pendiri dan mantan co-CEO Whole Foods.

oleh Cahya Alena FauzaDiterbitkan 30 September 2026, 08:00 WIB
Simak tips untuk entrepreneur yang memulai babak keduanya, menurut pendiri dan mantan co-CEO Whole Foods. (Photo: Hunters Race/Unsplash)

Liputan6.com, Jakarta - Pendiri dan mantan co-CEO Whole Foods, supermarket produk organik terbesar di Amerika Serikat (AS) John Mackey, membagikan tips bagi entrepreneur atau pengusaha yang memulai bisnis baru. Mackey menjual Whole Foods ke Amazon senilai US$ 13,7 miliar, atau Rp 245,9 triliun (asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah di kisaran 17.951) di 2017. Lalu, dia mundur dari jabatannya di 2022 setelah lima tahun menjalani bisnis seiring masa transisi ke kepemilikan baru.

Melansir CNBC Make It, Rabu (30/9/2026), ia mengatakan kekayaannya, yang diestimasikan Forbes lebih dari US$ 75 juta atau Rp 1,3 triliun, membuat orang mengira dia akan pensiun.

"Banyak teman saya yang mengira saya akan pensiun. Saya punya banyak uang. Saya tidak perlu melakukan apapun,” tutur entrepreneur berusia 73 tahun itu.

Pun begitu, dia masih ingin memberi nilai tambah kepada orang lain. "Saya rasa semua orang harus memberi nilai kepada orang lain, dan saya masih bisa,” dia menambahkan.

Maka, dia mendirikan bisnis lagi, Love.Life, sebuah klub kesehatan yang dibukanya di Los Angeles pada 2024. Dijuluki sebagai “klub umur panjang” oleh Mackey dan timnya, Love.Life menawarkan beragam layanan, mulai dari fasilitas kebugaran dan kafe makanan sehat hingga program nutrisi yang disesuaikan dan perawatan medis primer.

Namun, harga layanannya cukup fantastis. Biaya berlangganan bisa mulai dari US$ 400 atau Rp 7,1 juta per bulan hingga US$ 28.500 atau Rp 511,6 juta per tahun, tergantung tingkatan layanan dan keunggulan yang diinginkan.

Love.Life Belum Semantap Whole Foods

Ilustrasi Kata-Kata tentang Bisnis/Unsplash

Meski Love.Life menolak membagikan harga spesifik untuk berlangganan, Mackey jujur bahwa bisnis barunya tidak melesat secepat keinginannya. Dia mengakui bahwa membangun tim dan mengetahui cara memenuhi kebutuhan klien membutuhkan waktu lama.

Mackey juga dapat melihat kembali perjalanan panjang Whole Foods sebagai peta yang diharapkan bisa ditiru oleh Love.Life.

“Visi jangka panjangnya sama dengan Whole Foods,” ujar Mackey.

Dia melanjutkan, “Kami membutuhkan 14 tahun untuk membangun 12 toko, dan saat saya pensiun kami (memiliki lebih dari 500)... Jadi, Love.Life memiliki jalur yang serupa.”

Berikut adalah pelajaran dan tips yang diterapkan Mackey pada babak kedua perjalanannya sebagai entrepreneur atau pengusaha?

1.Jangan Lupa Bersabar

Pelajaran pertama dari Mackey adalah kesabaran, karena saat terbiasa sukses, kesabaran jadi lebih penting. Dia mengatakan ini adalah salah satu pelajaran yang harus dipelajarinya kembali.

"Beberapa pelajaran yang saya ketahui harus saya pelajari kembali,” kata Mackey.

Salah satu pelajaran lainnya adalah bagaimana pemimpin perlu secara sadar membangun budaya perusahaan baru dari nol, yaitu budaya yang berpusat pada tujuan atau misi bersama.

Ia menuturkan, karyawan paling termotivasi oleh seorang pemimpin yang mampu menangkap semangat yang dirasakan dan mengungkapkannya dalam pernyataan tujuan dan visi.

Dia mengakui masih melatih ini dengan “perubahan citra” yang direncanakan, yang akan mencakup pesan-pesan yang diperbarui, berdasarkan visi Mackey sekaligus menggabungkan masukan dari pelanggan, yang akan dipajang di dinding klub Love.Life

Dia mengatakan, ini dilakukan agar tujuan tersebut tertuang secara jelas dan eksplisit sehingga orang-orang dapat melihatnya dan terus diingatkan.

2. Belajar dari Kesalahan

Tips membangun bisnis. Dok Unsplash

Saran lainnya dari Mackey adalah tetap terbuka untuk belajar dari kesalahan sendiri. Ini berlaku untuk kesalahan baru atau yang sudah pernah dilakukan sebelumnya.

“Saya sedang mempelajari kembali beberapa pelajaran yang, sayangnya, seharusnya sudah saya pelajari sejak pertama kali (di Whole Foods),” kata Mackey.

"Jadi, saya memang membuat beberapa kesalahan baru, tapi secara umum saya membuat jauh lebih sedikit kesalahan hanya karena, ‘Ah, kita sudah mencoba itu (di Whole Foods). Itu bukan ide yang bagus. Kita tidak akan melakukannya," ia menambahkan.

3.Cari Masukan dan Lakukan

Perusahaan juga harus terus berkomunikasi dengan pelanggan mereka untuk mengetahui aspek apa yang bekerja dan yang tidak.

Dia mengatakan, perusahaan harus memperhatikan perilaku pelanggan.

"Mereka terus-menerus memberi tahu Anda apa yang mereka sukai dan tidak sukai. (Pelanggan) menunjukkan pilihan mereka melalui tindakan. Mereka menunjukkan pilihan mereka melalui apa yang mereka putuskan untuk lakukan. Dan ketika mereka datang ke Love.Life, Anda harus waspada dan memperhatikan.”

4.Rekrut yang Terbaik

Mackey menambahkan, bidang lain di mana para pemimpin perlu terus perhatikan adalah dalam merekrut karyawan. Membangun tim yang berbakat dan termotivasi sangat penting bagi kesuksesan bisnis.

Mackey mengatakan, cenderung mengikuti nasihat mantan pendiri Apple, Steve Jobs, yang menyarankan para manajer untuk hanya merekrut “orang-orang kelas A (yang) ingin merekrut lebih banyak orang kelas A,” daripada “puas dengan orang-orang kelas B dan C.”

Ia mengatakan,Anda harus memiliki standar yang tinggi saat merekrut.

"Anda membentuk tim terbaik yang Anda bisa, tetapi Anda selalu berusaha untuk meningkatkan kualitasnya, dan Anda harus memiliki standar yang tinggi untuk melakukannya,” kata Mackey.

5.Tunjukkan ke Tim Bahwa Mereka Penting

Rencana membangun bisnis keuarga bersama pasangan. (unsplash.com/@krakenimages)

Faktor terakhir, menurut Mackey, pemimpin terbaik adalah mereka yang menggunakan pengakuan yang tulus untuk memotivasi semangat karyawan dalam mewujudkan misi perusahaan. Karyawan yang menunjukkan semangat yang tulus terhadap bisnis terbukti menjadi yang paling produktif dan paling efektif dalam memenangkan hati klien dan pelanggan, kata Mackey.

Love.Life mengadopsi tradisi Whole Foods, di mana pertemuan selalu diakhiri dengan “apresiasi”. Manajer dan anggota tim akan membagikan umpan balik positif dengan satu sama lain. Kuncinya adalah ketulusan, menurutnya.

Para pakar karier mengatakan, ketika karyawan benar-benar percaya pada tujuan perusahaan dan merasa dihargai secara tulus oleh para pemimpin mereka, mereka umumnya lebih bahagia, lebih produktif, dan juga cenderung tidak akan pindah ke pekerjaan lain.

"Orang-orang menginginkan dua hal: mereka menginginkan tujuan dan mereka menginginkan kasih sayang. Jika Anda memenuhi kedua hal ini, tidak akan ada seorang pun yang ingin keluar dari perusahaan Anda,” tutur Mackey.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya