Liputan6.com, Jakarta - Ada banyak faktor yang menjadi pertimbangan seseorang sebelum membeli mobil. Selain desain, fitur, performa, dan kenyamanan, harga kendaraan biasanya menjadi salah satu faktor utama dalam menentukan pilihan.
Namun, calon konsumen perlu memahami bahwa angka yang tercantum pada harga jual mobil sebenarnya baru menjadi awal dari pengeluaran selama kendaraan dimiliki.
Advertisement
Setelah mobil berada di garasi, pemilik masih harus menyiapkan biaya untuk berbagai kebutuhan. Mulai dari servis berkala, suku cadang, bahan bakar minyak (BBM), pajak kendaraan, asuransi, hingga depresiasi atau penyusutan nilai kendaraan.
Karena itu, membandingkan mobil berdasarkan harga pembelian saja belum memberikan gambaran secara utuh mengenai biaya yang harus dikeluarkan.
Salah satu konsep yang dapat digunakan adalah Total Cost of Ownership (TCO). Konsep ini membantu calon konsumen melihat keseluruhan biaya yang muncul selama kendaraan dimiliki dan digunakan dalam periode tertentu.
Secara sederhana, TCO merupakan gambaran mengenai total biaya kepemilikan kendaraan selama periode penggunaan.
Harga pembelian memang menjadi pengeluaran terbesar pada awal kepemilikan. Namun, setelah mobil digunakan, muncul berbagai biaya lain yang secara akumulatif dapat memberikan pengaruh terhadap total pengeluaran.
Komponen tersebut antara lain harga pembelian kendaraan, biaya servis berkala, suku cadang, konsumsi BBM, pajak kendaraan, premi asuransi, ban dan komponen habis pakai, biaya perbaikan atau pengeluaran tak terduga, depresiasi kendaraan, dan nilai jual kembali
Sebagai ilustrasi, konsumen membeli sebuah mobil dengan harga Rp 300 juta dan menggunakannya selama lima tahun atau sekitar 75.000 kilometer.
Dalam periode tersebut, pemilik mengeluarkan biaya operasional dan perawatan sebesar Rp 100 juta. Sementara ketika dijual kembali, kendaraan memiliki nilai Rp 180 juta.
Dalam ilustrasi sederhana tersebut, depresiasi kendaraan mencapai sekitar Rp 120 juta.
Artinya, perhitungan biaya kepemilikan tidak cukup hanya melihat selisih antara harga beli dan harga jual kembali. Berbagai pengeluaran selama mobil digunakan juga perlu diperhitungkan.
Besaran TCO tentunya dapat berbeda pada setiap kendaraan. Pola penggunaan, jarak tempuh, harga BBM, biaya servis, pajak, asuransi hingga kondisi pasar mobil bekas dapat memengaruhi hasil akhirnya.
Karena itu, simulasi TCO sebaiknya menggunakan data aktual dari kendaraan yang akan dibeli. Di sinilah layanan purnajual atau after sales memiliki peran penting.
Konsumen tidak hanya perlu mengetahui harga dan spesifikasi kendaraan, tetapi juga perlu mendapatkan gambaran mengenai biaya serta kemudahan perawatan setelah mobil digunakan.
Kemudahan mendapatkan bengkel resmi, ketersediaan suku cadang, biaya servis dan dukungan layanan purnajual dapat menjadi bagian dari pertimbangan sebelum membeli mobil.
Salah satu contohnya adalah Suzuki yang menyediakan fasilitas estimasi biaya servis untuk sejumlah model melalui situs resminya.
Melalui fasilitas tersebut, konsumen dapat memilih model kendaraan, transmisi serta jarak tempuh atau periode perawatan untuk mendapatkan gambaran biaya servis.
Selain itu, Suzuki menyediakan layanan booking servis, jaringan diler dan bengkel resmi, ketersediaan suku cadang serta layanan Suzuki Home Service untuk sejumlah kebutuhan perawatan.
Perawatan berkala sendiri tidak hanya berkaitan dengan menjaga performa kendaraan. Servis sesuai jadwal juga dapat membantu mendeteksi potensi masalah lebih awal sehingga risiko munculnya biaya perbaikan yang lebih besar dapat ditekan.
Riwayat perawatan yang terdokumentasi juga dapat menjadi informasi penting ketika kendaraan nantinya dijual kembali. Perbedaan biaya perawatan dapat memberikan dampak ketika dihitung dalam periode kepemilikan yang lebih panjang.
Sebagai ilustrasi, terdapat dua mobil dengan harga pembelian masing-masing Rp 300 juta dan Rp 320 juta. Artinya, terdapat selisih harga Rp 20 juta pada saat pembelian.
Namun, mobil pertama membutuhkan biaya perawatan dan suku cadang sebesar Rp 25 juta selama lima tahun. Sementara mobil kedua membutuhkan Rp 15 juta.
Pada awal pembelian, mobil kedua terlihat lebih mahal Rp 20 juta. Akan tetapi, ketika biaya perawatan dimasukkan ke dalam perhitungan, selisih biaya kepemilikan menjadi lebih kecil.
Perhitungan tersebut belum memasukkan konsumsi BBM, pajak, asuransi, ban, depresiasi maupun biaya tak terduga.
Dengan demikian, angka tersebut bukan merupakan perbandingan TCO resmi, melainkan ilustrasi sederhana mengenai bagaimana biaya after sales dapat memengaruhi total pengeluaran selama mobil dimiliki.
Cara yang dapat dilakukan konsumen adalah meminta estimasi biaya servis kepada dealer untuk periode tertentu, misalnya lima tahun atau hingga jarak tempuh 75.000 kilometer.
Program servis gratis juga menjadi salah satu aspek yang dapat diperhitungkan ketika konsumen membandingkan biaya kepemilikan kendaraan. Suzuki, misalnya, memberikan program servis gratis untuk sejumlah model.
Pada Suzuki Fronx, perusahaan mencantumkan layanan servis gratis yang mencakup jasa dan komponen tertentu hingga 50.000 kilometer atau 30 bulan.
Jaringan Bengkel Juga Perlu Diperhitungkan
Saat peluncuran Suzuki Fronx, Deputy Managing Director PT Suzuki Indomobil Sales Donny Saputra menyebut layanan tersebut sebagai bagian dari nilai tambah kendaraan, bersama garansi, jaringan purnajual dan jaminan ketersediaan suku cadang.
Bagi konsumen, program seperti ini dapat membantu mengurangi sebagian biaya perawatan rutin pada periode awal kepemilikan. Meski demikian, calon pembeli tetap perlu mencermati detail program yang ditawarkan.
Cakupan jasa dan komponen yang ditanggung dapat berbeda pada setiap model dan mengikuti ketentuan yang tercantum dalam buku servis kendaraan.
Selain nominal biaya, kemudahan mendapatkan layanan juga memiliki nilai tersendiri.
Suzuki menyediakan jaringan diler dan bengkel resmi di berbagai wilayah Indonesia yang dapat dicari berdasarkan kota atau daerah.
Perusahaan juga memiliki layanan Halo Suzuki 24 jam yang menyediakan informasi mengenai produk, after sales, lokasi diler, booking servis hingga bantuan darurat.
Untuk kondisi tertentu, Suzuki juga menyediakan Suzuki Emergency Roadside Assistance (SERA). Layanan tersebut mencakup panduan teknisi melalui telepon dan bantuan teknisi di lokasi sesuai kondisi serta ketentuan yang berlaku.
Untuk kendaraan yang masih berada dalam masa garansi, layanan SERA diberikan secara gratis sesuai ketentuan. Keberadaan jaringan layanan menjadi semakin penting bagi konsumen yang sering melakukan perjalanan antarkota atau luar daerah.
Ketika kendaraan mengalami masalah, akses terhadap bengkel resmi dan suku cadang dapat membantu mengurangi waktu mobil tidak dapat digunakan.
Suzuki juga menyiagakan 71 titik bengkel dalam program Bengkel Siaga 2026 selama periode mudik. Dari jumlah tersebut, 33 outlet beroperasi selama 24 jam, sementara sejumlah titik lainnya beroperasi hingga 12 jam.
Ketersediaan suku cadang juga menjadi bagian dari pertimbangan biaya kepemilikan mobil. Konsumen tidak hanya perlu mengetahui harga sebuah komponen, tetapi juga mempertimbangkan kemudahan mendapatkan suku cadang ketika dibutuhkan.
Hal ini dapat menjadi semakin penting ketika kendaraan telah digunakan dalam jangka waktu panjang.
Suku cadang yang mudah diperoleh dapat membantu pemilik melakukan perawatan sesuai kebutuhan dan mengurangi potensi waktu tunggu ketika kendaraan membutuhkan penggantian komponen.
Karena itu, sebelum membeli mobil, calon konsumen dapat menanyakan harga sejumlah komponen fast moving sekaligus ketersediaannya di jaringan resmi.
Faktor lainnya yang perlu diperhatikan adalah nilai jual kembali kendaraan. Mobil yang dirawat dengan baik dan memiliki riwayat servis yang jelas dapat menjadi salah satu informasi yang dipertimbangkan ketika kendaraan masuk ke pasar mobil bekas.
Dalam perhitungan TCO, nilai jual kembali memiliki fungsi untuk mengurangi beban depresiasi.
Semakin tinggi nilai kendaraan ketika dijual kembali, semakin kecil biaya kepemilikan bersih yang perlu ditanggung pemilik selama periode penggunaan, dengan catatan faktor lainnya tetap sama.
Namun, nilai jual kembali tidak dapat dipastikan hanya dari harga pembelian awal. Kondisi kendaraan, usia, jarak tempuh, riwayat perawatan dan kondisi pasar mobil bekas dapat memengaruhi harga ketika kendaraan dijual.
Cara Sederhana Menghitung Biaya Kepemilikan Mobil
Sebelum membeli mobil, konsumen dapat membuat simulasi sederhana untuk mengetahui gambaran biaya kepemilikan.
Jangan hanya membandingkan harga on the road. Masukkan pula sejumlah komponen biaya, seperti estimasi servis berkala selama lima tahun, harga sejumlah suku cadang fast moving, dan konsumsi BBM.
Masukkan juga pajak kendaraan, premi asuransi, biaya ban dan komponen habis pakai lainnya, perkiraan biaya tak terduga, serta perkiraan nilai jual kembali.
Sebagai contoh, apabila kendaraan digunakan sejauh 15.000 kilometer per tahun, total jarak tempuh selama lima tahun mencapai sekitar 75.000 kilometer.
Dari angka itu, konsumen dapat meminta simulasi biaya servis dan komponen yang perlu diganti. Data tersebut kemudian dapat dibandingkan dengan kendaraan lain menggunakan parameter yang sama.
Dengan cara ini, calon pembeli tidak hanya mengetahui mobil mana yang memiliki harga pembelian lebih rendah, tetapi juga mendapatkan gambaran mengenai biaya yang perlu disiapkan selama kendaraan dimiliki.
Membeli mobil pada akhirnya bukan sekadar memilih kendaraan dengan harga yang sesuai anggaran.
Produk, layanan purnajual, biaya perawatan, ketersediaan suku cadang, jaringan bengkel serta nilai jual kembali merupakan rangkaian faktor yang turut menentukan biaya kepemilikan kendaraan.
Semakin lengkap informasi yang diperoleh sebelum membeli, semakin mudah konsumen menghitung kebutuhan biaya selama menggunakan mobil.
Sebab, harga yang tercantum pada brosur pada dasarnya baru merupakan biaya untuk membawa mobil pulang. Setelah itu, biaya kepemilikan kendaraan baru benar-benar dimulai.