Bukan Enggak Berbakat, Ini yang Bikin Kamu Susah Lancar Nyetir

Ada sejumlah faktor teknis dan mental yang dapat membuat proses adaptasi berlangsung lebih lama.

oleh Muhammad Luthfi Naufal AqilahDiterbitkan 30 September 2026, 20:14 WIB
mimpi menyetir mobil orang lain ©Ilustrasi dibuat AI

Liputan6.com, Jakarta - Menguasai keterampilan mengemudi mobil menjadi impian banyak orang. Namun, bagi sebagian pengemudi pemula, proses belajar mengemudi tidak selalu berjalan mulus.

Sudah berulang kali berlatih, tetapi rasa gugup ketika berada di balik kemudi masih muncul. Mobil juga masih terasa sulit dikendalikan, posisi kendaraan belum bisa diperkirakan dengan baik, hingga mesin mobil manual kerap mati atau stalling.

Kondisi tersebut sebenarnya tidak selalu berkaitan dengan bakat seseorang dalam mengemudi. Ada sejumlah faktor teknis dan mental yang dapat membuat proses adaptasi berlangsung lebih lama.

Dilansir dari laman Daihatsu, Rabu (30/9/2026), terdapat sejumlah kendala yang umum dialami pengemudi pemula sehingga proses belajar mengemudi terasa stagnan.

1. Rasa Takut dan Cemas Berlebihan

Rasa takut menjadi salah satu hambatan terbesar bagi pengemudi pemula. Kekhawatiran menabrak kendaraan lain, menyenggol pembatas jalan, atau membuat kemacetan ketika mesin mati dapat memicu kepanikan.

Ketika rasa cemas terlalu tinggi, tubuh cenderung menjadi tegang. Kondisi tersebut dapat membuat gerakan tangan dan kaki menjadi kaku sehingga koordinasi antara pedal, setir, dan pandangan ikut terganggu.

Padahal, ketenangan menjadi salah satu aspek penting ketika belajar mengemudi. Pemula perlu membangun kepercayaan diri secara bertahap, bukan langsung memaksakan diri menghadapi kondisi lalu lintas yang padat.

2. Belajar Tanpa Instruktur Profesional

Belajar mengemudi bersama anggota keluarga atau kerabat memang dapat menjadi pilihan. Namun, cara tersebut tidak selalu memberikan suasana belajar yang ideal.

Pendamping yang ikut panik ketika mobil melakukan kesalahan justru dapat meningkatkan tekanan kepada pengemudi pemula. Ekspektasi yang terlalu tinggi juga berpotensi membuat proses belajar menjadi semakin menegangkan.

Sebaliknya, instruktur kursus mengemudi umumnya memiliki pengalaman menghadapi berbagai karakter pengemudi pemula. Pada kendaraan latihan tertentu, tersedia pula pedal tambahan atau dual pedal yang memungkinkan instruktur membantu mengendalikan mobil ketika terjadi situasi darurat.

3. Belum Menemukan Feeling Dimensi Mobil dan Pedal

Kemampuan memperkirakan dimensi kendaraan tidak langsung muncul ketika seseorang pertama kali belajar mengemudi. Pengemudi perlu membangun kebiasaan untuk mengetahui posisi bagian depan, belakang, serta sisi kiri dan kanan mobil.

Kesalahan yang sering dilakukan pemula adalah terlalu fokus melihat area dekat kap mesin. Padahal, pandangan sebaiknya diarahkan lebih jauh ke depan untuk membantu membaca arah jalur dan posisi kendaraan.

Pada mobil manual, tantangan lainnya adalah menemukan titik gigit kopling atau bite point. Jika pedal kopling dilepas terlalu cepat tanpa koordinasi yang tepat, mesin dapat mati.

Salah satu latihan yang dapat dilakukan adalah mencari bite point di jalan datar dan area yang aman. Pedal kopling dilepas secara perlahan tanpa menginjak pedal gas hingga terasa mobil mulai bergetar halus dan bergerak maju.

4. Frekuensi Latihan Tidak Konsisten

Belajar mengemudi membutuhkan latihan berulang agar koordinasi tangan, kaki, mata, dan respons tubuh semakin terbiasa.

Jika latihan hanya dilakukan sesekali, misalnya satu minggu atau bahkan satu bulan sekali, pengemudi pemula berpotensi membutuhkan waktu lebih lama untuk membangun kembali refleks yang sebelumnya sudah dilatih.

Karena itu, latihan singkat tetapi rutin dapat menjadi pilihan. Durasi sekitar 30-45 menit yang dilakukan setiap hari atau dua hari sekali dapat membantu membangun kebiasaan mengemudi secara bertahap.

Cara Belajar Mengemudi agar Lebih Cepat Lancar

arti mimpi nyetir mobil ©Ilustrasi dibuat AI

Selain mengetahui penyebab proses belajar mengemudi terhambat, pemula juga perlu menerapkan metode latihan yang tepat.

Beberapa langkah berikut dapat dilakukan untuk mempercepat proses adaptasi.

Mulai di area lapang dan sepi

Latihan pertama sebaiknya dilakukan di area yang aman, lapang, dan minim lalu lintas. Pengemudi dapat berkonsentrasi pada kontrol gas, rem, kopling, serta putaran setir tanpa terlalu banyak gangguan dari kendaraan lain.

Kuasai titik gigit kopling

Bagi pengguna mobil manual, memahami bite point merupakan keterampilan dasar yang penting. Latihan dapat dilakukan secara perlahan di permukaan datar hingga pengemudi mengenali respons kendaraan saat kopling mulai terhubung.

Atur posisi duduk dan pandangan

Pastikan posisi jok memungkinkan kaki mengoperasikan pedal dengan nyaman. Jangan terlalu jauh atau terlalu dekat dengan setir.

Selain itu, arahkan pandangan ke depan mengikuti jalur kendaraan. Kebiasaan melihat jauh ke depan membantu pengemudi membaca situasi jalan dan menjaga arah mobil.

Gunakan instruktur kursus mengemudi

Mengikuti kursus mengemudi resmi dapat menjadi alternatif bagi pemula yang kesulitan belajar secara mandiri.

Instruktur dapat memberikan arahan secara bertahap sekaligus membantu ketika pengemudi mengalami kepanikan.

 

Lakukan Latihan Secara Rutin

Daripada berlatih dalam waktu berjam-jam tetapi hanya sesekali, latihan singkat dengan jadwal konsisten dapat membantu membangun koordinasi dan kebiasaan mengemudi.

Pada tahap awal, tidak perlu langsung mengejar kemampuan berkendara di jalan raya yang ramai. Tingkatkan kesulitan secara bertahap setelah kontrol dasar kendaraan sudah terasa lebih natural.

Pada akhirnya, kemampuan mengemudi merupakan kombinasi antara penguasaan teknik dan kemampuan mengendalikan rasa cemas. Pemula tidak perlu terburu-buru menguasai semua kondisi jalan dalam waktu singkat.

Dengan berlatih secara rutin di area yang aman, mendapatkan pendampingan yang tepat, serta memahami karakter kendaraan, rasa percaya diri di balik kemudi dapat terbentuk secara bertahap.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya