Bosch Ungkap Alasan Mobil Listrik Berisiko Cepat Masuk Tempat Rongsokan

Biaya baterai yang terlalu mahal berisiko memperpendek masa pakai mobil listrik secara ekonomis

oleh Muhammad Luthfi Naufal AqilahDiterbitkan 01 Oktober 2026, 08:06 WIB
teknisi menunjukkan satu sel baterai silindris di depan rakitan paket baterai EV (battery pack) (motor1)

Liputan6.com, Jakarta - Raksasa pemasok komponen dan teknologi otomotif global, Bosch, melontarkan peringatan terkait masa depan industri kendaraan listrik (Electric Vehicle/EV). Salah satu persoalan yang dinilai perlu mendapat perhatian adalah tingginya biaya perbaikan dan penggantian baterai.

Dilansir dari Motor1, Rabu (30/9/2026), Kepala Bosch Mobility Aftermarket, Rupert Hoellbacher, mengatakan biaya baterai yang terlalu mahal berisiko memperpendek masa pakai mobil listrik secara ekonomis.

Menurutnya, secara teknis kendaraan listrik sebenarnya dapat digunakan selama puluhan tahun. Namun, kondisi tersebut bisa berubah apabila biaya perbaikan komponen utama, khususnya baterai, tetap tinggi setelah masa garansi kendaraan berakhir.

Pemilik mobil listrik berpotensi memilih menjual kendaraan untuk dibongkar atau bahkan membawanya ke tempat penampungan rongsokan (scrap yard) apabila biaya perbaikan sudah lebih mahal dibandingkan nilai kendaraan di pasar.

Baterai merupakan salah satu komponen paling mahal pada kendaraan listrik. Meski demikian, Bosch menilai kerusakan baterai tidak selalu berarti seluruh battery pack harus diganti.

Sejumlah masalah pada baterai dapat ditangani dengan melakukan diagnosis dan memperbaiki modul individual yang mengalami gangguan. Pendekatan tersebut berpotensi memangkas biaya perbaikan dibandingkan mengganti satu unit baterai secara keseluruhan.

Karena itu, keberadaan industri aftermarket dan bengkel independen yang memiliki kemampuan menangani sistem baterai kendaraan listrik dinilai semakin penting.

Bengkel yang dibekali peralatan dan keahlian untuk mendiagnosis serta memperbaiki modul baterai dapat membantu memperpanjang usia kendaraan listrik setelah masa garansi pabrikan berakhir.

"Jika kita gagal membuat perbaikan atau penggantian baterai menjadi lebih menarik secara finansial, masa pakai mobil dipastikan akan menurun. Ini tidak hanya berarti hilangnya potensi pasar purna jual, tetapi juga langkah mundur signifikan bagi praktik bisnis berkelanjutan," ujar Hoellbacher.

Persoalan biaya perbaikan baterai juga berkaitan dengan perkembangan teknologi kendaraan modern. Mobil listrik generasi terbaru semakin dibekali sistem elektronik kompleks dan komponen bertegangan tinggi.

Teknologi tersebut menawarkan berbagai fungsi serta kemampuan baru yang dapat meningkatkan daya tarik kendaraan ketika pertama kali dipasarkan. Namun, kompleksitas teknologi juga membuat aspek perawatan dan perbaikan jangka panjang menjadi perhatian.

Pada akhirnya, usia kendaraan di jalan raya tidak hanya ditentukan oleh ketahanan komponen, tetapi juga seberapa terjangkau biaya pemeliharaan dan perbaikannya.

 

Tantangan di Balik Perkembangan Mobil Listrik

Hal serupa sebenarnya telah terjadi pada kendaraan bermesin pembakaran internal (Internal Combustion Engine/ICE). Komponen seperti mesin, transmisi, alternator, hingga berbagai bagian pendukung dapat diperbaiki, dibangun ulang, atau diganti dengan suku cadang aftermarket.

Ekosistem tersebut memungkinkan kendaraan tetap digunakan meski telah berusia cukup tua.

Bosch melihat kendaraan listrik membutuhkan pendekatan serupa. Kemampuan bengkel independen untuk menangani baterai, sistem kelistrikan, dan komponen elektronik kendaraan menjadi bagian penting dalam membangun ekosistem aftermarket EV.

Dengan tersedianya suku cadang dan layanan perbaikan yang lebih terjangkau, pemilik kendaraan tidak selalu harus mengganti komponen dalam bentuk satu unit penuh ketika terjadi kerusakan.

Hal ini juga dapat membantu memperpanjang masa operasional kendaraan listrik sekaligus mengurangi potensi pembuangan mobil yang sebenarnya masih dapat digunakan.

Pada akhirnya, elektrifikasi kendaraan tidak hanya berkaitan dengan pengurangan emisi saat mobil digunakan.

Siklus hidup kendaraan, termasuk perawatan, perbaikan, penggunaan suku cadang, hingga masa akhir kendaraan, juga menjadi bagian dari pembahasan mengenai keberlanjutan.

Dengan demikian, mobil listrik idealnya tidak berkembang menjadi produk yang memiliki masa pakai ekonomis pendek hanya karena biaya perbaikannya terlalu tinggi.

Sebaliknya, kendaraan listrik diharapkan tetap menjadi investasi jangka panjang yang dapat dipelihara, diperbaiki, dan digunakan selama mungkin.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya