Harga Minyak Naik Lebih dari 1%, Trump Tolak Proposal Iran Soal Selat Hormuz

Harga minyak Brent naik 1,8% menjadi US$ 106,31 per barel setelah Trump menolak tawaran Iran terkait Selat Hormuz.

oleh Arthur GideonDiterbitkan 28 September 2026, 08:00 WIB
Sebuah kapal kontainer terlihat di Selat Hormuz di lepas pantai Pulau Qeshm, Iran, Sabtu, 18 April 2026. (AP Photo/Asghar Besharati)

Liputan6.com, Jakarta - Harga minyak mentah naik lebih dari 1% pada perdagangan awal Asia, Senin, setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menolak proposal perdamaian Iran yang bertujuan mengakhiri konflik di Timur Tengah dan membuka kembali Selat Hormuz.

Mengutip CNBC, Senin (28/9/2026), harga minyak mentah AS untuk pengiriman November naik 1,3% menjadi US$ 93,62 per barel. Sementara itu, minyak mentah Brent sebagai patokan global naik 1,8% menjadi US$ 106,31 per barel.

The Wall Street Journal melaporkan Trump menolak tawaran bersyarat Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz. Trump juga mengatakan kepada para pembantunya bahwa serangan AS terhadap Iran diperkirakan kembali berlanjut setelah pemilihan umum paruh waktu pada November.

Trump kemudian mengonfirmasi telah menolak proposal terbaru dari Teheran.

“Mereka mengajukan sebuah proposal, tetapi saya menolaknya,” kata Trump kepada wartawan.

Secara terpisah, koalisi pimpinan Arab Saudi di Yaman mengatakan telah mencegat sejumlah proyektil yang diluncurkan kelompok pemberontak Houthi yang didukung Iran.

Iran Tawarkan Buka Selat Hormuz

Dua anak laki-laki bermain di perairan dangkal di lepas pantai Bandar Abbas, Iran, dengan latar kapal-kapal yang melintas di Selat Hormuz, Selasa (30/6/2026). (Dok. Amirhosein Khorgooi/ISNA via AP)

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi pada Jumat menawarkan pembukaan kembali jalur pelayaran strategis tersebut sekaligus dimulainya kembali perundingan nuklir dengan Washington dalam waktu tujuh hari.

Namun, tawaran itu diberikan dengan sejumlah syarat yang harus dipenuhi pemerintahan Trump.

“Jika kondisi tertentu terpenuhi, Selat Hormuz akan terbuka pada akhir tujuh hari, dan pembicaraan akan dimulai kembali,” kata Araghchi kepada wartawan di sela-sela Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei mengatakan syarat tersebut mencakup penghentian apa yang disebut Teheran sebagai “tindakan agresi” AS, pencabutan blokade laut dan perang ekonomi, serta pelepasan aset-aset Iran.

Trump sebelumnya mengatakan pada bulan ini bahwa konflik yang dimulai setelah serangan udara AS dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari diperkirakan segera berakhir setelah pemilihan paruh waktu.

Pernyataan tersebut sebelumnya turut mendorong penurunan harga minyak.

Kini, penolakan Trump terhadap proposal Iran kembali meningkatkan kekhawatiran terhadap kondisi pasokan minyak global, terutama karena Selat Hormuz merupakan jalur pelayaran penting bagi perdagangan energi dunia.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya