Prediksi Harga Emas Sepekan, Data Ekonomi AS Membayangi

Berikut prediksi harga emas sepekan dan sentimen yang mempengaruhinya berdasarkan survei Kitco.

oleh Agustina MelaniDiterbitkan 28 September 2026, 07:30 WIB
Ilustrasi harga emas dunia. (Gambar by AI)

Liputan6.com, Jakarta - Survei Emas Mingguan Kitco menunjukkan pelaku pasar terutama investor ritel mempertahankan pandangan optimistis terhadap harga emas meski kinerja mingguan emas melemah. Sementara itu, analis tidak memiliki keyakinan yang jelas mengenai arah pergerakan emas dalam jangka pendek.

Mengutip Kitco, Senin, (27/9/2026), 14 analis berpartisipasi dalam Survei Emaas Kitco News. Dari partisipasi itu menunjukkan pandangan kalangan wall street terbagi cukup merata menjadi tiga kelompok. Pihak yang optimistis, pesimistis dan yang bersikap netral Hal ini berbeda dengan pekan lalu yang menunjukkan konsensus bullish atau menguat.

Lima atau 36% analis memprediksi harga emas menguat pada pekan ini. Sementara itu, 29% lainnya memperkirakan logam mulia kembali turun. Lima analis lainnya mencakup 36% dari total responden memprediksi, pergerakan harga emas cenderung mendatar, tetapi fluktuatif pada pekan ini.

Sementara itu, jajak pendapat daring Kitco mencatat 152 suara, dengan mayoritas investor ritel tetap mempertahankan pandangan bullish yang persentasenya hampir tidak berubah. Sebanyak 57% atau 86 pedagang ritel memprediksi harga emas naik pekan ini. Sedangkan 23% atau 35 orang memprediksi penurunan harga. Sebanyak 20% sisanya atau 31 investor memperkirakan pergerakan harga mendatar.

Direktur Pelaksana Bannockburn Global Forex, Marc Chandler memprediksi harga emas menguat pekan ini. Hal ini dengan asumsi harapan terhadap the Federal Reserve (the Fed) telah bergerak dan hampir sejauh yang mungkin terjadi, serta rangkaian data penting, menurut Chandler akan memperkuat hal itu.

“Pekan ini, AS akan merilis data deflator PCE Agustus yang mencakup penyesuaian metodologis yang akan sedikit menurunkan angka inflasi dan pertumbuhan lapangan kerja September tampak lebih lemah dibandingkan Agustus,” ujar dia.

 

Harga Emas Perlu Melampaui US$ 4.400

Harga emas dunia. (Ilustrasi by AI)

Chandler menuturkan, harga emas perlu naik melampaui US$ 4.400 agar pergerakannya dianggap signifikan.

Analis Senior Barchart.com, Darin Newsom menuturkan, harga emas akan naik. Ia mengatakan, secara teknikal, kontrak berjangka emas untuk pengiriman Desember berada dalam kondisi oversold atau jenuh jual pada grafik harian jangka pendeknya.

Akan tetapi, ia mengatakan, seperti kata pepatah lama, pasar bisa tetap berada dalam kondisi overbought atau jenuh beli atau oversold lebih lama dari pada kemammpuan untuk tetap bertahan secara finansial.

“Perlu dicatat, secara fundamental tidak ada yang berubah. Imbal hasil obligasi pemerintah AS terus meningkat akibat inflasi, sementara bank-bank sentral terus membeli emas,” Newsom menambahkan.

 

 

Kata Analis

Ilustrasi harga emas (Ilustrasi by AI)

Demikian juga Presiden dan COO Asset Strategis International, Rich Checkan mengatakan, harga emas bakal naik. Ia menuturkan, investor mulai menyadari fakta ada batas sejauh mana the Fed dapat menaikkan suku bunga. Hal ini karena beban pembayaran bunga utang saat ini mencapai US$ 1,6 triliun atau Rp 28.843 triliun (asumsu kurs dolar AS terhadap rupiah 17.920) per tahun atau 4% dari total utang US$ 40 triliun.

"Dan karena Kongres tidak akan pernah berhenti melakukan pengeluaran berlebih, harga emas akan naik. Ini ada kesimpulang yang sangat jelas,” ujar Checkan.

Sementara itu, Chief Market Strategist SIA Wealth Management, Colin Cieszynski bersikap netral terhadap emas pekan ini. “Saya tidak melihat banyak katalis utama,” kata dia.

Sementara itu, Senior Market Strategist Forex.com, James Stanley menuturkan, harga emas akan turun. Ia menilai, sentimen imbal hasil tidak akan segera hilang dan pasar obligasi tampak rentan sehingga mendorong lonjakan imbal hasil yang dapat memicu titik terendah harga emas.

"Selama harga bertahan di atas level US$ 4.000, menurut saya masih ada alasan kuat untuk mempertahankan pandangan bullish jangka panjang. Level 4.100 akan menjadi titik support yang lebih ideal, mengingat level itu sempat berperan kuat sebagai resistance sebelum penembusan pada Agustus,” kata dia.

 

Serangkaian Data Ketenagakerjaan

Harga emas dunia. (Ilustrasi by AI)

Head of Currency Strategy InvestingLive, Adam Button menuturkan, sebagian besar pelemahan harga emas belakangan ini disebabkan oleh imbal hasil yang mencapai puncaknya. “Anda bisa melihat korelasi yang jelas saat imbal hasil kembali menembus 5%,” kata dia.

Ia menuturkan, imbal hasil melonjak naik sementara harga emas turun. “Emas juga memiliki karakteristik aset berisiko, jadi itulah faktor penekannya. Kondisi pasar cukup berat kemarin dan sehari sebelumnya. Faktor musiman biasanya mulai berpengaruh kuat pada bulan November, jadi Anda bisa mencari kesempatan beli saat harga turun,” kata dia.

Pada pekan ini akan diwarnai oleh serangkaian data ketenagakerjaan, serta gambaran terkini mengenai sektor manufaktur dan kondisi konsumen Amerika Serikat.

Pada Selasa pagi waktu setempat, Reserve Bank of Australia akan mengumumkan keputusan kebijakan moneternya, sementara data Keyakinan Konsumen AS dan lowongan kerja JOLTS akan dirilis pada awal sesi perdagangan Amerika Utara. Selanjutnya, pada Rabu pagi, akan dirilis data ADP Nonfarm Payrolls, serta angka final PDB AS kuartal kedua dan indeks PCE.

Kemudian pada Kamis, para pelaku pasar akan mencermati data ISM Manufacturing PMI untuk September serta data klaim tunjangan pengangguran mingguan.

Rangkaian berita ekonomi pekan ini akan ditutup pada Jumat pagi dengan publikasi laporan Nonfarm Payrolls untuk September.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya