Diduga Lokasi Bahtera Nuh, Peneliti Mulai Mengebor Formasi Durupinar di Turki

Ekspedisi pencarian Bahtera Nuh melibatkan arkeolog dan ahli geologi dari berbagai negara, termasuk Cenker Atila dari Sivas Cumhuriyet University.

oleh Khairisa FeridaDiterbitkan 27 September 2026, 19:32 WIB
Penampakan formasi misterius menyerupai kapal di pegunungan Turki bagian timur. Anggota ekspedisi Noah’s Ark Scans meyakini Formasi Durupinar bisa jadi merupakan lokasi terakhir kapal yang dikisahkan dalam Kitab Kejadian alias Bahtera Nuh. (Dok. NoahsArkScans/Facebook)

Liputan6.com, Ankara - Para peneliti mulai melakukan pengeboran di sebuah formasi misterius menyerupai kapal di pegunungan Turki bagian timur. Mereka berharap robot bawah tanah dapat membantu menjawab salah satu misteri terbesar dalam kisah Alkitab.

Anggota ekspedisi Noah’s Ark Scans meyakini Formasi Durupinar, yang terletak di Turki timur dekat Gunung Ararat, bisa jadi merupakan lokasi terakhir kapal yang dikisahkan dalam Kitab Kejadian.

"Selamat pagi dari bagian terluar Bahtera Nuh," tulis Lauren Witzke, direktur pemasaran dan penggalangan dana proyek tersebut yang dikenal sebagai aktivis Kristen kontroversial, dalam pembaruan di akun Facebook-nya pada Selasa (22/9/2026).

"Pengeboran inti sudah dimulai dan para pendukung evolusi serta Teori Big Bang mulai sibuk meredam dampaknya."

Witzke mengatakan ekspedisi tersebut telah memperoleh izin dari pemerintah Turki dan berada di bawah pengawasan sejumlah universitas setempat. Ia menyebut proyek itu melibatkan sejumlah pemikir paling brilian di dunia.

Ia kemudian melontarkan klaim sensasional bahwa, "Setelah kami selesai, kurikulum universitas harus ditulis ulang dan Darwinisme akan runtuh."

"Di tempat inilah penciptaan dimulai kembali," katanya antusias.

Witzke sendiri merupakan sosok kontroversial dalam politik Amerika Serikat (AS).

Mantan calon anggota Senat itu mengaku sebagai penganut teori bumi datar. Ia juga pernah mendukung QAnon, teori konspirasi sayap kanan, serta menyebut vaksin Covid-19 sebagai bagian dari "rencana setan" untuk menyebabkan "kematian massal".

Penuh Perdebatan

Selama bertahun-tahun, banyak peneliti telah mendatangi lokasi yang disebut-sebut sebagai "bahtera" tersebut dan menghasilkan kesimpulan yang berbeda-beda.

Formasi Durupinar secara resmi ditemukan pada 1959 setelah seorang kapten Angkatan Darat Turki memotretnya dari udara saat melakukan pemetaan kawasan.

Peneliti lokal kemudian melakukan survei, penggalian, hingga peledakan di lokasi itu. Namun, mereka tidak menemukan bukti arkeologis dan akhirnya menyimpulkan bahwa formasi tersebut merupakan bentukan alam.

Pandangan serupa juga banyak dianut ahli geologi modern. Formasi itu secara umum dinilai sebagai punggungan berbentuk menyerupai kapal yang tersusun dari batu kapur dan lempung vulkanik lalu terbentuk akibat proses erosi.

Setelah penyelidikan awal tersebut, lokasi itu relatif tidak banyak diteliti hingga 1980-an.

Saat itu, pakar penyelamatan asal AS David Fasold menggunakan radar penembus tanah untuk memeriksa kawasan tersebut. Ia kemudian yakin bahwa yang dilihatnya merupakan sisa fosil bagian atas dek sebuah kapal.

Fasold mengukur panjang formasi itu sekitar 164 meter. Ukuran tersebut mendekati panjang bahtera dalam Alkitab, yakni 300 hasta atau sekitar 157 meter.

Di sebelah barat laut lokasi juga terdapat sejumlah batu besar berukir dengan lubang di bagian atas. Fasold meyakini batu-batu tersebut merupakan jangkar laut kuno yang dilepaskan dari bahtera ketika air bah surut.

Fasold meyakini batu-batu itu merupakan jangkar laut kuno yang dilepaskan dari bahtera setelah air bah surut.

Namun, kalangan skeptis menilai batu-batu tersebut hanyalah penanda peringatan kuno atau batu nisan.

Bertahun-tahun setelah melakukan penelitian di Durupinar, Fasold berubah pikiran. Ia secara terbuka menyebut teori bahwa formasi tersebut merupakan Bahtera Nuh sebagai omong kosong belaka.

Meski begitu, sahabatnya asal Australia yang juga menulis biografinya, June Dawes, mengatakan Fasold tetap percaya hingga akhir hayat bahwa ia telah menemukan bahtera tersebut.

Melibatkan Robot Gopher

Dalam beberapa tahun terakhir, Formasi Durupinar kembali diperiksa dengan radar penembus tanah. Kali ini, penelitian dilakukan oleh ekspedisi Noah’s Ark Scans.

Kelompok tersebut mengklaim telah memetakan sesuatu yang tampak seperti koridor dan ruangan di bawah permukaan, termasuk satu lorong yang membentang sekitar 76 meter.

Menurut halaman penggalangan dana mereka, tahap berikutnya adalah mengebor lubang inti berukuran sempit hingga mencapai ruang-ruang tersebut dan mengirim Gopher, robot bawah tanah yang dirancang untuk menjangkau tempat yang tidak dapat dimasuki manusia.

Gopher dilengkapi perangkat untuk merekam gambar beresolusi tinggi serta mengambil sampel tanah dari bawah permukaan.

Robot itu dirancang oleh insinyur Australia, Robert Ross, dari La Trobe University.

"Robot ini pada dasarnya merupakan hasil modifikasi dari robot yang awalnya saya buat untuk membantu ahli ekologi satwa liar menjelajahi liang wombat, yang disebut WomBot, serta liang armadillo di Guyana Prancis, yang disebut ArmaBot," kata Ross kepada news.com.au.

Dalam halaman penggalangan dananya, Noah’s Ark Scans menyebut proyek tersebut membutuhkan dana sebesar US$ 600.000 untuk memulai pengeboran.

Hingga Selasa, dana yang terkumpul baru sebagian kecil dari jumlah tersebut. Namun, rekaman drone yang dibagikan Witzke menunjukkan bahwa pengeboran sudah dimulai.

Ekspedisi tersebut kini berpacu dengan datangnya musim dingin. Ketika tanah membeku, para peneliti terpaksa menghentikan kegiatan dan menunggu hingga tahun depan untuk melanjutkan pekerjaan.

Gopher diharapkan dapat membantu memberikan jawaban yang lebih pasti atas misteri Formasi Durupinar yang telah diperdebatkan selama puluhan tahun.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya