Jurus MRT Jakarta Sulap Blok M Hub Jadi Ruang Publik Makin Hidup

Penerapan konsep placemaking dan perangkulan komunitas sukses mendongkrak kunjungan kawasan Blok M Hub hingga menembus 25.000 orang per hari.

oleh Winda NelfiraDiterbitkan 26 September 2026, 20:30 WIB
Division Head Property Management Division PT MRT Jakarta, Muchamad Iqbal Bimo Arifianto, saat menjawab pertanyaan sejumlah wartawan. (Liputan6/Winda Nelfira)

Liputan6.com, Jakarta - PT MRT Jakarta terus menggenjot aktivasi kawasan Blok M Hub, Jakarta Selatan, untuk menjadikannya sebagai ruang publik yang hidup dan dinamis bagi masyarakat, tak sekadar menjadi titik transit transportasi.

Upaya penataan tersebut membuahkan hasil signifikan. Division Head Property Management Division PT MRT Jakarta, Muchamad Iqbal Bimo Arifianto, menyebutkan bahwa angka kunjungan harian ke kawasan Blok M Hub kini telah menembus puluhan ribu orang."

"Ini resume untuk yang Blok M Hub, daily visitor-nya sudah lebih dari 25.000. Juga lebih dari 100 hari aktivasi,” kata Bimo di Jakarta, Sabtu (26/9/2026).

Bimo menjelaskan, tingginya angka kunjungan tersebut berkat strategi MRT Jakarta yang tidak hanya berfokus pada pembenahan fisik, tetapi juga mengaktifkan keterlibatan tenant, komunitas, serta berbagai kegiatan publik.

“Jadi pekerjaan kami bukan hanya memastikan fasilitas berfungsi, tapi juga bagaimana menghadirkan aktivasi, tenan, komunitas, dan berbagai bentuk engagement,” ujar Bimo.

Menurutnya, kawasan perkotaan yang ideal harus dapat diakses dan memberi ruang seluas-luasnya bagi aktivitas masyarakat.

“Karena bagi kami kawasan yang baik bukan kawasan yang hanya bagus secara fisik tadi ya, tapi juga kawasan yang dapat digunakan masyarakat,” lanjutnya.

 

Terapkan Konsep Placemaking

Blok M Hub kembali ramai pengunjung. (Liputan6.com/Nur Azmi Zain)

Mengingat kembali awal pengelolaan pada 2023, Bimo mengungkapkan kawasan Blok M sempat dihadapkan pada persoalan kebersihan, keberadaan pedagang kaki lima (PKL), hingga parkir liar.

MRT Jakarta kemudian melakukan penataan dengan merangkul para pelaku usaha lokal agar aktivitas ekonomi tetap berputar secara tertata.

“Ini beda lagi kalau tadi satu gedung, Dukuh Atas kan kita mengolah, kita start dari satu gedung yang milik kita. Itu mungkin isu sosialnya tidak terlalu banyak, tapi di sini isu sosialnya jadi sangat menarik gitu ya. Itu tantangan,” jelas Bimo.

Dalam pengelolaannya, MRT Jakarta menerapkan konsep placemaking yang bertumpu pada tiga pilar utama: aksesibilitas, atraksi, dan kolaborasi komunitas. Langkah ini diharapkan mampu menciptakan iklim ekonomi yang berkelanjutan di kawasan tersebut.

“Dan more business ini kembali lagi karena kita juga perlu gitu ya, karena kita butuh untuk melakukan pengelolaan. Akhirnya more business,” pungkas Bimo.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya