Laba Emiten MBMA Melonjak 830%, Intip yang Jadi Penyebab

PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) membukukan pendapatan US$ 1,05 miliar dan laba US$ 54 juta pada semester I 2026.

oleh Arthur GideonDiterbitkan 27 September 2026, 12:20 WIB
PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA). (Foto: Merdeka Battery Materials)

Liputan6.com, Jakarta - PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) mencatat lonjakan kinerja keuangan pada semester I 2026. Laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk (NPATMI) mencapai US$ 54 juta, melonjak sekitar 830% dibandingkan US$ 6 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Pertumbuhan laba tersebut ditopang peningkatan produksi dan penjualan bijih nikel, penguatan kinerja pengolahan, serta kenaikan harga jual realisasi bijih nikel.

Presiden Direktur PT Merdeka Battery Materials Tbk Teddy Oetomo menjelaskan, sepanjang enam bulan pertama 2026, MBMA membukukan pendapatan US$ 1,05 miliar, naik 67% secara tahunan. Sementara itu, EBITDA meningkat 306% menjadi US$ 311 juta.

Kontribusi bijih nikel, Nickel Pig Iron (NPI), dan High-Grade Nickel Matte (HGNM) menjadi penopang utama pertumbuhan. Kinerja tersebut didukung peningkatan volume penjualan dan penerapan formula baru Harga Patokan Mineral (HPM) untuk bijih nikel.

Selain itu, penjualan asam dari operasi Acid, Iron, Metal (AIM) PT Merdeka Tsingshan Indonesia (MTI) turut menambah sumber pendapatan perusahaan.

“Kinerja semester I 2026 mencerminkan penguatan eksekusi di seluruh operasi nikel terintegrasi MBMA. Peningkatan volume penambangan dan kinerja pengolahan yang lebih baik telah mendorong peningkatan laba secara signifikan," jelas dia dalam keterangan tertulis, Minggu (27/9/2026).

"Kami akan menjaga momentum ini melalui disiplin operasional, peningkatan efisiensi secara berkelanjutan, serta eksekusi proyek-proyek pertumbuhan untuk semakin memperkuat posisi MBMA dalam rantai nilai nikel dan material baterai,” tambah Teddy.

 

Produksi dan Penjualan Bijih Nikel

PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA). (Foto: Merdeka Battery Materials)

Dari sisi operasional, produksi bijih nikel MBMA mencapai 15,2 juta wet metric tonnes (wmt) pada semester I 2026. Angka tersebut melonjak 121% dibandingkan 6,9 juta wmt pada periode yang sama tahun lalu.

Penjualan bijih nikel juga meningkat 60% menjadi 12,4 juta wmt, yang terdiri atas 8,2 juta wmt limonit dan 4,2 juta wmt saprolit.

Kenaikan produksi tersebut didukung peningkatan utilisasi peralatan, efisiensi pengangkutan, serta produktivitas yang lebih tinggi dari sejumlah area tambang utama.

Kinerja bisnis pengolahan juga menunjukkan penguatan. Produksi dan penjualan NPI tumbuh 20% secara tahunan setelah perusahaan menyelesaikan kegiatan pemeliharaan pada 2025. Kondisi tersebut membantu menjaga stabilitas operasi tungku.

Sementara itu, produksi HGNM meningkat lebih dari dua kali lipat. Pertumbuhan volume produksi tersebut turut mendorong peningkatan penjualan produk HGNM.

Kinerja operasional yang membaik menjadi fondasi bagi MBMA untuk melanjutkan ekspansi di bisnis material baterai pada paruh kedua 2026.

 

Disiplin Biaya dan Efisiensi Operasional

PT ESG New Energy Material terus meningkatkan produksi atau ramp-up Mixed Hydroxide Precipitate (MHP) setelah menyelesaikan kegiatan pemeliharaan dan beralih ke area penyimpanan tailing baru.

Di sisi lain, PT Sulawesi Nickel Cobalt (SLNC) masih menjalani tahap commissioning. Proses tersebut mencakup energization, pengangkutan bijih, hingga uji coba awal pengumpanan bijih.

Produksi SLNC diperkirakan dimulai pada semester II 2026 dan selanjutnya ditingkatkan secara bertahap menuju operasi penuh pada akhir tahun.

Dengan peningkatan volume penambangan, penguatan pengolahan, serta berlanjutnya ramp-up operasi HPAL, MBMA memasuki semester II 2026 dengan basis pendapatan yang lebih luas.

Meski demikian, perusahaan tetap mencermati kondisi operasional, terutama pergerakan harga dan konsumsi bahan bakar yang dapat memengaruhi struktur biaya.

MBMA menyatakan akan menjaga disiplin biaya dan efisiensi operasional sembari mempertahankan panduan kinerja 2026. Langkah tersebut ditujukan untuk menjaga daya saing biaya dan konsistensi operasional hingga akhir tahun.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya