Melonjak 80 Persen, Ekspor Minyak Arab Saudi Capai Level Tertinggi Sejak Perang

Ekspor minyak mentah Arab Saudi melonjak hingga 6 juta barel per hari. Riyadh mengalihkan kembali rute pengiriman di tengah ancaman serangan Iran.

oleh Thurfah Mahira AhnafDiterbitkan 26 September 2026, 17:40 WIB
Ilustrasi fasilitas minyak Aramco Arab Saudi (Creative Commons / Pixabay)

Liputan6.com, Jakarta - Ekspor minyak mentah Arab Saudi melonjak tajam pada September 2026 meskipun eskalasi konflik dengan militan yang didukung Iran meningkat. Hal tersebut diungkapkan oleh perusahaan intelijen perdagangan, Kpler.

Riyadh mencatatkan angka ekspor mencapai 6 juta barel per hari (bpd) pada September. Angka ini menandai kembalinya volume ke rata-rata bulanan tahun 2025.

"Peningkatan ekspor dari kawasan Teluk ini merupakan konsekuensi dari gangguan jalur pipa, tetapi kemungkinan juga menandakan kepercayaan yang lebih besar dalam menggunakan Selat Hormuz seiring meningkatnya lalu lintas kapal," ujar Direktur Riset Komoditas Kpler, Matt Smith, dikutip dari CNBC, Sabtu (26/9/2026).

Pengalihan Rute Lewat Selat Hormuz

Arab Saudi berhasil menggenjot ekspornya meski sempat menutup jalur pipa minyak East-West yang krusial akibat kerusakan serangan drone dari Irak pada 10 September. Padahal, jalur pipa tersebut selama ini menjadi katup pengaman penting bagi pasar minyak untuk menghindari Selat Hormuz dari ancaman Iran.

Melalui jalur pipa itu, Riyadh biasanya mengalihkan ekspor minyak dari wilayah timur menuju terminal Laut Merah di Yanbu. Namun pascaserangan, Arab Saudi mengalihkan kembali ekspor minyak mentahnya melintasi Selat Hormuz.

Langkah ini diambil seiring keputusan militer Amerika Serikat (AS) yang membuka jalur pelayaran baru yang relatif lebih aman di sepanjang pesisir Oman. Meskipun demikian, risiko tetap membayangi mengingat Iran masih terus mengincar kapal tanker yang melintas.

 

Lonjakan Hingga 80 Persen

Data Kpler menunjukkan pengiriman minyak Arab Saudi pada September melonjak hampir 80 persen dibandingkan Agustus yang hanya berada di angka 3,4 juta barel per hari.

Berdasarkan data CNBC, ekspor minyak mentah Arab Saudi sempat stabil di kisaran 5,7 juta hingga 6,5 juta barel per hari sepanjang akhir 2024 hingga awal 2025. Bahkan, posisinya sempat menyentuh rekor sekitar 7,5 juta barel per hari sebelum perang AS-Iran pecah.

Begitu perang dimulai pada 28 Februari, ekspor anjlok ke kisaran 4 juta hingga 4,6 juta barel per hari, lalu terus merosot hingga menyentuh titik terendah 3,4 juta barel per hari jelang serangan drone. Kebangkitan ke level 6 juta barel per hari di September ini menjadi pencapaian tertinggi sejak perang meletus.

 

Dampak ke Harga Minyak Dunia

Sebuah kapal tanker berlabuh di Selat Hormuz di lepas pantai Pulau Qeshm, Iran, Sabtu, 18 April 2026. (AP Photo/Asghar Besharati)

Ancaman pasokan akibat penutupan jalur pipa sempat membuat harga minyak mentah Brent melambung mendekati US$ 110 per barel atau sekitar Rp 1.971.200 (asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah Rp 17.920). Namun, harga kembali melandai seiring meningkatnya keyakinan investor bahwa gangguan tersebut tidak seburuk yang dikhawatirkan.

Di sisi lain, lalu lintas minyak di Selat Hormuz secara keseluruhan masih belum pulih total. Ekspor minyak lewat Hormuz rata-rata berada di angka 13,2 juta barel per hari dalam sepekan terakhir, masih di bawah angka normal 17 juta barel per hari sebelum konflik.

Sementara itu, sumber industri menyebut jalur pipa East-West sudah beroperasi kembali secara bertahap dengan volume rendah sejak awal pekan ini, meski pihak Arab Saudi belum mengonfirmasinya secara resmi.

CEO Saudi Aramco, Amin Nasser, menegaskan bahwa gangguan pada infrastruktur minyak mereka tidak akan berlangsung lama. "Gangguan sementara pada infrastruktur biasanya berlangsung dalam hitungan hari, bukan pekan atau bulan pada setiap kejadian," ujar Nasser.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya