Wall Street Ditutup Menguat, Dow Jones Naik 478 Poin di Tengah Gejolak Pasar

Wall Street menguat di akhir perdagangan pekan setelah pasar bergejolak akibat lonjakan imbal hasil obligasi AS.

oleh Arthur GideonDiterbitkan 26 September 2026, 10:00 WIB
Director of Trading Floor Operations Fernando Munoz (kanan) saat bekerja dengan pialang Robert Oswald di New York Stock Exchange, AS. (AP Photo/Richard Drew)

Liputan6.com, Jakarta - Wall Street menguat pada perdagangan Jumat setelah mengakhiri pekan yang penuh gejolak. Kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS turut memengaruhi pasar keuangan.

Mengutip CNBC, Sabtu (26/9/2026), indeks S&P 500 naik 0,51% ke level 7.743,41. Nasdaq Composite bertambah 0,5% menjadi 27.068,72. Sementara Dow Jones Industrial Average naik 478,64 poin atau 0,93% ke posisi 51.828,62.

Akamai Technologies menjadi salah satu saham yang mencatat kenaikan terbesar dengan menguat 3% setelah mengumumkan kerja sama selama beberapa tahun dengan Anthropic.

Sentimen pasar juga terbantu oleh penurunan harga minyak. Investor optimistis Selat Hormuz dapat kembali dibuka setelah Iran meminta AS kembali menjalankan nota kesepahaman yang dibuat pada Juni untuk mengakhiri konflik di Timur Tengah.

Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) turun 2,33% menjadi US$ 92,41 per barel. Sementara minyak Brent melemah 2,14% menjadi US$ 104,32 per barel.

 

Kenaikan Wall Street Sepanjang Pekan

Spesialis Michael Mara (kiri) dan Stephen Naughton berunding saat bekerja di New York Stock Exchange, AS. (AP Photo/Richard Drew)

Berkat penguatan pada perdagangan Jumat, Dow Jones mencatat kenaikan 0,3% sepanjang pekan. S&P 500 naik 1,2%, sedangkan Nasdaq menguat 2%.

Kinerja tersebut turut ditopang saham teknologi, seperti Meta Platforms yang melonjak hampir 13% sepanjang pekan karena antusiasme terhadap agen kecerdasan buatan (AI) Muse.

Sektor teknologi informasi naik 3,1% dan menjadi sektor dengan kinerja terbaik di indeks S&P 500.

Di sisi lain, pasar obligasi masih menjadi perhatian. Imbal hasil Treasury AS tenor 10 tahun naik ke level tertinggi sejak 2007. Sementara imbal hasil obligasi tenor 30 tahun mencapai level tertinggi sejak 2004.

Imbal hasil Treasury 10 tahun terakhir berada di 5,163%, sedangkan tenor 30 tahun mencapai 5,488%.

Kenaikan imbal hasil sepanjang pekan dipicu sejumlah faktor, termasuk pernyataan hawkish Gubernur Federal Reserve Michael Barr, harga energi yang masih tinggi akibat perang Iran, serta laporan purchasing managers’ index (PMI) yang kuat.

 

Kenaikan Imbal Hasil Obligasi

Ekspresi spesialis David Haubner (kanan) saat bekerja di New York Stock Exchange, Amerika Serikat atau sering disebut Wall Street. (AP Photo/Richard Drew)

Data perdagangan kontrak berjangka suku bunga The Fed menunjukkan peluang sekitar 64% untuk kenaikan suku bunga pada Oktober, berdasarkan CME FedWatch.

Presiden The Wealth Alliance Eric Diton mengatakan sentimen investor melemah seiring kenaikan imbal hasil obligasi. Sentimen bearish bahkan meningkat tajam dibandingkan dua pekan sebelumnya.

Meski demikian, ia menilai pasar masih menunjukkan ketahanan.

“Jika suku bunga terus naik, pada suatu titik nanti kenaikan tersebut akan memberikan dampak yang lebih besar terhadap kinerja pasar,” ujarnya.

Sementara itu, pelaku pasar juga memantau kunjungan Presiden China Xi Jinping ke AS. Perwakilan Dagang AS Jamieson Greer mengatakan lebih banyak informasi mengenai negosiasi perdagangan AS-China akan dirilis pada Senin.

Menteri Keuangan AS Scott Bessent sebelumnya mengatakan kedua negara sepakat memperpanjang gencatan perdagangan selama dua bulan.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya