Israel Hadapi Krisis Air Akibat Ulah Sendiri

Israel alami krisis air setelah ledakan alga mengganggu desalinasi.

oleh Septian DenyDiterbitkan 26 September 2026, 15:00 WIB
Ilustrasi Israel (AP Photo/Tom Pringle)

Liputan6.com, Tel Aviv - Israel menghadapi kekurangan air selama berminggu-minggu setelah ledakan alga yang tidak biasa mengganggu sebagian besar kapasitas desalinasi negara tersebut.

Dikutip dari The Guardian, Sabtu (26/9/2026), para ilmuwan menyebut krisis ini dipicu oleh kerusakan besar pada infrastruktur pengolahan air limbah di Gaza akibat serangan Israel, yang menyebabkan pembuangan limbah cair tanpa pengolahan dalam jumlah besar ke laut.

“Pencemaran tidak mengenal batas politik,” kata Zalul Environmental Association, organisasi nonpemerintah Israel yang bergerak dalam perlindungan laut dan pesisir negara tersebut.

Menurut Zalul, pembuangan limbah cair tanpa pengolahan dari Jalur Gaza ke laut turut memperburuk krisis yang berdampak pada fasilitas desalinasi Israel. Air limbah tersebut mengandung nutrisi seperti nitrogen dan fosfor yang menjadi sumber makanan bagi mikroalga dan sianobakteri, sehingga berpotensi memperparah ledakan alga.

Meski gencatan senjata yang dimediasi Amerika Serikat tercapai tahun lalu, Gaza masih menghadapi krisis air dan sanitasi yang parah. Wilayah tersebut juga dilanda masalah tikus, sementara limbah cair menggenangi garis pantai setelah fasilitas pengolahan air limbah dihancurkan.

Di seberang perbatasan, ledakan mikroalga membentang hingga sekitar 100 kilometer dan menyumbat filter di lima dari enam fasilitas desalinasi utama Israel. Fasilitas-fasilitas tersebut sempat berhenti beroperasi selama beberapa hari dan kini kembali beroperasi dengan kapasitas yang lebih rendah.

Para pakar mengatakan, setelah hampir tiga tahun perang, dampak lingkungan akibat kehancuran di Gaza kini mulai merembet ke Israel.

“Pembuangan limbah cair tanpa pengolahan dari Gaza ke laut meningkatkan risiko terhadap infrastruktur produksi air Israel di sepanjang pesisir selatan Mediterania,” kata Profesor Emeritus dan Pakar Desalinasi dari Zuckerberg Institute for Water Research, Ben-Gurion University.

Menurut Gilron, insiden tersebut memperkuat kebutuhan untuk mempersiapkan diri menghadapi berbagai ancaman terhadap salah satu sumber utama air minum Israel.

Infrastruktur Air Gaza Hancur

Sejak 7 Oktober 2023, bombardir Israel menghancurkan 90 persen infrastruktur air dan sanitasi Gaza, menurut laporan Médecins Sans Frontières. Serangan langsung dilaporkan menyasar sumur, jaringan penyaluran air, waduk, serta unit desalinasi.

Krisis air di Gaza pun tetap berada dalam kondisi parah. Sebelum perang, sekitar 80 persen pasokan air wilayah tersebut berasal dari akuifer di bawah kawasan pesisir. Kini, sumber air itu telah tercemar air laut dan limbah cair sehingga tidak layak dikonsumsi manusia.

Sebagian besar air minum Gaza sebelumnya berasal dari fasilitas desalinasi dan tiga jaringan pipa yang dikendalikan otoritas air Israel. Namun, jaringan pipa tersebut diputus pada awal perang dan hingga kini baru dibuka kembali sebagian.

Sementara itu, jaringan distribusi air yang rusak atau hancur membuat sebagian besar penduduk bergantung pada truk pengangkut air.

Bagi banyak warga, kondisi tersebut berarti harus menghadapi pilihan sulit: menggunakan tambahan segelas air untuk minum atau menyimpannya untuk mencuci tangan dan mencegah penyakit. Diare akut menjadi salah satu penyebab utama penyakit.

“Kami membawa air menggunakan jeriken,” kata Nas al-Barawi, 34 tahun, ibu lima anak dari Beit Lahia.

Ia mengatakan warga harus berjalan membawa wadah air yang berat atau menunggu berjam-jam dalam antrean. Banyak air yang tersedia tidak aman, sementara anak-anak mengalami infeksi lambung berulang, diare, dan ruam kulit.

Jaringan pembuangan limbah yang rusak dan pompa yang tidak berfungsi juga membuat air limbah mengalir di antara tenda-tenda dan kawasan permukiman.

 

Puluhan Ribu Meter Kubik Limbah Mengalir ke Laut

Wakil Direktur Eksekutif Coastal Municipalities Water Utility di Gaza, mengatakan kelima fasilitas pengolahan air limbah di wilayah tersebut tidak beroperasi.

Akibatnya, diperkirakan 45.000 meter kubik limbah cair tanpa pengolahan mengalir ke Laut Mediterania setiap hari.

Selain itu, sekitar 15.000 meter kubik limbah tanpa pengolahan per hari merembes ke air tanah melalui lubang resapan, terutama di kamp-kamp informal di al-Mawasi.

“Ini merupakan situasi yang sangat buruk dari sisi lingkungan dan kesehatan masyarakat,” kata Shatat. Menurutnya, laut telah tercemar berat dan warga Gaza serta orang-orang yang mengungsi menjadi kelompok yang pertama terdampak karena mereka bersentuhan langsung dengan konsentrasi limbah tertinggi.

Pat Griffiths, juru bicara Komite Internasional Palang Merah di Gaza City, mengatakan kondisi tersebut kemungkinan semakin buruk ketika musim dingin tiba.

“Warga Palestina hidup dikelilingi air limbah. Air limbah ada di sekitar mereka. Di sanalah mereka makan, mendapatkan air, dan berjalan,” ujarnya.

Shaimaa al-Katari, 37 tahun, yang mengungsi ke al-Mawasi, mengatakan warga tidak memiliki tempat untuk membuang air bekas mencuci piring dan pakaian.

Air tersebut akhirnya dialirkan ke jalan dan membentuk genangan. Alga dan nyamuk kemudian berkembang di sekitarnya, sementara kondisi jalan menjadi semakin kotor. Warga juga menghadapi bau tidak sedap, nyamuk pada malam hari, lalat pada siang hari, serta tikus.

Selama berbulan-bulan, tikus telah memenuhi sejumlah wilayah Gaza. Hewan pengerat tersebut berkembang biak di tengah limbah mentah dan tumpukan sampah yang menumpuk di sekitar kamp-kamp pengungsian yang padat.

Komunitas Israel di dekat perbatasan Gaza juga menghadapi serangan tikus yang belum pernah terjadi sebelumnya, dengan hewan pengerat memenuhi rumah dan kebun.

Dampak Lingkungan Melampaui Perbatasan

“Dampak perang tidak berhenti di perbatasan,” kata Nada Majdalani, direktur EcoPeace Middle East untuk Palestina, organisasi yang bergerak dalam pembangunan perdamaian melalui isu lingkungan.

Ia mengatakan peningkatan kasus hepatitis A sudah terlihat di Gaza dan memperingatkan bahwa wilayah tersebut berada di ambang bencana. Menurutnya, wabah serius di Gaza tidak selalu akan berhenti di dalam wilayah Gaza.

Di Israel, pihak berwenang meminta masyarakat menggunakan air secara “bijaksana” hingga sistem kembali sepenuhnya pulih.

Pasokan air di wilayah selatan negara tersebut telah dikurangi. Para petani juga diperintahkan menghentikan irigasi. Para ekonom memperkirakan kebijakan tersebut akan menyebabkan harga pangan meningkat.

Zalul dan EcoPeace mendesak Cogat, lembaga Israel yang bertanggung jawab atas administrasi Gaza, membantu memulihkan sistem pembuangan limbah di wilayah tersebut dan memungkinkan air limbah diolah di wilayah yang berada di bawah kendali Israel.

Cogat tidak memberikan tanggapan atas permintaan komentar.

Zalul memperingatkan bahwa jika pencemaran terus berlanjut, dampaknya pada akhirnya dapat dirasakan di seluruh Israel. Ketika lingkungan laut tercemar, organisasi tersebut mengatakan, manusia dan alam sama-sama terdampak, terlepas dari sisi perbatasan tempat mereka berada.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya