Liputan6.com, Jakarta - Pemerintah memastikan stok beras nasional berada dalam kondisi aman. Namun, di tengah ketersediaan beras yang disebut lebih dari 4 juta ton, persoalan harga masih menjadi perhatian.
Menteri Pertanian sekaligus Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) Andi Amran Sulaiman mempertanyakan alasan harga beras masih tinggi ketika pasokan nasional dalam kondisi melimpah.
Advertisement
Menurut Amran, pemerintah saat ini tidak hanya memiliki stok yang cukup, tetapi juga terus melakukan berbagai intervensi untuk menjaga harga beras tetap terjangkau bagi masyarakat.
“Dulu, kalau tidak ada stok, harga naik kan? Wah, menterinya salah nih. Import. Sekarang banyak beras, apa alasannya lagi? Tidak import, apa alasannya lagi? Berarti memang ada mafia dari dulu. Ini harus diberesin,” tegasnya dikutip dari Antara, Jumat (25/9/2026).
Pemerintah menjalankan sejumlah program untuk menambah pasokan beras ke pasar. Salah satunya melalui operasi pasar yang dilakukan untuk membantu memenuhi kebutuhan masyarakat sekaligus menekan harga.
Selain itu, pemerintah menyalurkan bantuan pangan beras kepada masyarakat dan memperkuat program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP).
“Kita sekarang operasi pasar. Kemudian bantuan pangan beras disalurkan untuk 33,24 juta orang seluruh Indonesia. Kemudian beras SPHP ada penambahan 1 juta ton untuk stabilitas harga,” ujar Amran.
Dengan berbagai intervensi tersebut, pemerintah berharap tekanan harga beras dapat segera mereda. Pemerintah juga terus memantau kondisi pasokan dan harga di pasar.
Memproses 102 Tersangka
Amran menilai ketersediaan stok yang besar seharusnya memberikan ruang bagi pemerintah untuk menjaga harga beras tetap stabil. Karena itu, ketika harga masih menjadi persoalan, pemerintah juga menyoroti tata niaga beras.
Menurut dia, persoalan perberasan tidak semata-mata berkaitan dengan jumlah stok. Praktik perdagangan yang tidak sesuai ketentuan juga perlu ditindak agar keuntungan yang terbentuk dalam rantai pasok tidak membebani masyarakat.
“Nggak ada ruang bagi mafia beras di Indonesia. Kita berhadapan,” kata Amran terkonfirmasi di Jakarta, Jumat.
Amran menyebut pemerintah telah memproses 102 tersangka dalam kasus perberasan. Penindakan tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah membenahi tata kelola perdagangan beras.
“Tersangka ada 102 tersangka. Sampai detik ini untuk beras,” beber Amran.
Pemerintah juga menindaklanjuti sekitar 25 perusahaan dalam kasus terbaru yang berkaitan dengan beras fortifikasi. Produk yang terbukti bermasalah dapat ditarik dari peredaran, sedangkan pelaku usaha dapat dikenai tindakan hingga proses hukum.
Di sisi pasokan, Amran memastikan pemerintah tetap memiliki cadangan untuk melakukan intervensi. Stok beras nasional yang disebut lebih dari 4 juta ton menjadi salah satu modal pemerintah dalam menjaga ketersediaan pangan sekaligus menstabilkan harga.
Dengan kombinasi penguatan pasokan, operasi pasar, bantuan pangan, SPHP, dan penindakan terhadap pelanggaran tata niaga, pemerintah berharap harga beras dapat kembali lebih terkendali di tingkat konsumen.