Indonesia Ajukan Tari Zapin ke UNESCO Bersama 3 Negara ASEAN

Tari zapin akan diajukan sebagai daftar Warisan Budaya Takbenda UNESCO pada Maret 2027.

oleh Nurri Indah KholillahDiterbitkan 25 September 2026, 14:00 WIB
Tarian tradisional Melayu Zapin mendapatkan apresiasi dari UNESCO. (Liputan6.com/Aditia Saputra)

Liputan6.com, Jakarta - Rencana pengajuan tari zapin ke UNESCO menjadi langkah Indonesia bersama Brunei, Malaysia, dan Singapura untuk memperkenalkan warisan budaya Melayu ke tingkat dunia. Keempat negara akan mengusulkan zapin sebagai nominasi Warisan Budaya Takbenda Manusia UNESCO.

Dewan Warisan Nasional Singapura (NHB) mengumumkan pengajuan bersama tersebut pada Kamis, 24 September 2026. Berkas nominasi zapin ditargetkan diserahkan ke UNESCO pada Maret 2027, sementara hasil evaluasi diperkirakan keluar dalam dua hingga tiga tahun setelah pengajuan.

Bagi Indonesia, pengajuan multinasional ini turut menyoroti keberadaan zapin sebagai bagian dari tradisi seni dan budaya Melayu yang berkembang di sejumlah daerah. Tarian tersebut dikenal melalui gerakan kaki yang dinamis, serta iringan musik yang ceria dan kerap hadir dalam berbagai kegiatan budaya masyarakat.

Zapin tidak hanya hidup dalam pertunjukan seni, tapi juga menjadi bagian dari perayaan dan festival. Karakter gerakannya yang relatif sederhana membuat tarian ini dapat dipelajari oleh berbagai kalangan, sekaligus membantu keberlangsungannya di tengah generasi muda.

Pengajuan bersama empat negara juga menunjukkan bahwa satu bentuk warisan budaya dapat berkembang melintasi batas wilayah. Kolaborasi tersebut sekaligus membuka peluang bagi masyarakat Indonesia untuk semakin mengenal dan melestarikan tradisi zapin sebagai bagian dari kekayaan budaya Melayu.

UNESCO mencatat 716 unsur dalam daftar Representatif Warisan Budaya Takbenda Manusia hingga Desember 2025. Jika diterima, nominasi zapin akan menambah daftar warisan budaya yang mendapat pengakuan internasional.

Akar Budaya

Tarian tradisional Melayu Zapin Nusantara menjadi akar budaya. (Liputan6.com/Aditia Saputra)

Pencalonan zapin sebagai warisan budaya bersama lahir dari diskusi internasional. Georgina Koh, Direktur Kebijakan dan Penelitian Warisan Budaya Dewan Warisan Nasional Singapura, menyebut pengajuan tersebut mencerminkan zapin sebagai bentuk seni yang memiliki akar budaya di kawasan.

Salah satu bentuk zapin yang berkembang di Singapura, Zapin Asyik, diciptakan Liau Ah Choon, yang lahir di Indonesia pada 1960-an. Ia mengadaptasi gerakan para penari yang disaksikannya saat menghadiri pesta pernikahan di Terengganu.

Singapura kemudian mengembangkan sejumlah varian lokal, termasuk Zapin Telok Blangah dan Zapin Sungei Kallang. Keduanya merekam sejarah serta kehidupan masyarakat di wilayah masing-masing.

Koreografer Zapin Telok Blangah, Som Said, menilai pengakuan UNESCO dapat membuka ruang bagi pengembangan zapin di masa mendatang. Menurutnya, pelestarian tarian tersebut selama ini dilakukan melalui upaya mandiri, sekaligus kerja sama dengan komunitas di Malaysia dan Indonesia.

Proses Pengajuan

Sebanyak 6.000 orang menari tari Zapin secara bersamaan di sepanjang Jalan Gajah Mada Pekanbaru Riau. (Liputan6.com/ Dok Ist)

Proses pengajuan zapin ke UNESCO selanjutnya akan menilai kesesuaiannya dengan definisi warisan budaya takbenda. Evaluasi juga mencakup upaya pelestarian yang telah berjalan maupun direncanakan oleh Indonesia, Brunei, Malaysia, dan Singapura.

UNESCO akan menggelar diskusi kelompok terfokus untuk menghimpun pandangan pemangku kepentingan mengenai nilai budaya zapin serta strategi pelestariannya. Dewan Warisan Nasional Singapura (NHB) turut bekerja sama dengan masyarakat dan praktisi untuk mendokumentasikan praktik zapin, termasuk berbagai varian lokal yang berkembang di Singapura.

Upaya dokumentasi tersebut menjadi salah satu unsur yang akan ditonjolkan dalam berkas nominasi. Keterlibatan generasi muda juga menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan tarian tersebut.

Mohammad Aniq Haqif, asisten koreografer kelompok tari Melayu Dharma Endari di Republic Polytechnic, mengenal zapin sejak mengikuti kegiatan ekstrakurikuler ketika duduk di kelas 3 SD. Ia mengaku terkejut karena tarian yang dipelajarinya sejak kecil kini berkembang menjadi nominasi UNESCO.

Menjangkau Generasi Muda

Selain menampilkan seni budaya melayu nasional dan internasional, pagelaran yang bertemakan Takkan Melayu Hilang di Bumi ini berhasil memecahkan rekor Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI) tarian Zapin Melayu yang diikuti 5 negara serumpun. (dok Ist)

Osman Abdul Hamid, Direktur Artistik Era Dance Theatre sekaligus koreografer "Zapin Sungei Kallang," menilai nominasi UNESCO dapat memperluas apresiasi terhadap zapin dan menarik perhatian lebih banyak generasi muda.

Menurut dia, zapin berkembang dalam beragam bentuk di sejumlah negara, dengan karakter gerakan yang menyesuaikan budaya setempat. 

Pengalamannya mengajar tari pada siswa dari tingkat taman kanak-kanak hingga perguruan tinggi membuat Osman melihat keberlangsungan zapin di kalangan anak muda. Ia menyaksikan semakin banyak siswa, serta pelaku seni pertunjukan Melayu yang tertarik mempelajari tarian tersebut.

Perkembangan itu menjadi salah satu tanda bahwa zapin masih memiliki ruang dalam kehidupan budaya generasi muda. Bagi Osman, keterlibatan mereka juga berperan dalam menjaga praktik tari tersebut agar tetap dikenal dan dipelajari pada masa mendatang.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya