Liputan6.com, Jakarta - Program Magang Nasional nampaknya bisa jadi layaknya minuman pelepas dahaga bagi para lulusan baru perguruan tinggi sembari menunggu lowongan kerja yang diincarnya. Ada yang menyelang, ada pula yang berharap pada peruntungan selepas enam bulan masa pemagangan.
Windy dan Acel, dua contoh peserta Magang Nasional yang menggunakan waktunya sementara ikut terjun di program pemerintah, di tengah sulitnya mendapat panggilan pekerjaan.
Advertisement
Bukan hanya satu-dua lamaran, puluhan bahkan ratusan formulir pendaftaran kerja sudah dikirim dalam kurun waktu satu tahun belakangan, sebelum masuk Magang Nasional.
Windy Nur Aini, alumni Universitas Bengkulu ini mengaku sudah mencoba peruntungan ke 30 lowongan pekerjaan. Hanya 17% dari jumlah itu yang memanggilnya untuk wawancara kerja, yang berujung penolakan.
"Sudah apply 30-an mungkin, ya. Cuma, ya sampai interview doang, sudah itu sudah, enggak ada kepastian lagi gimana selanjutnya. Ada lima doang yang interview," kata Windy saat berbincang dengan Liputan6.com, ditulis Jumat (25/9/2026).
Perempuan yang kini magang di Biro Keuangan dan Barang Milik Negara (BMN) Kementerian Ketenagakerjaan ini mengaku terbantu dengan Magang Nasional Angkatan 2 batch II. Kekosongan waktunya bisa diisi setelah sempat gagal di batch I sebelumnya.
"Sudah coba apply juga di perusahaan-perusahaan juga, cuman masih belum di-hire ya. Jadi alhamdulillah banget di batch kedua ini saya diterima, karena sebelumnya di batch pertama saya gak diterima, gagal," tutur lulusan studi Sistem Informasi ini.
Pengalaman serupa dialami Rahmat Al Fajrihan atau Acel, alumnus Perbanas Institute Jakarta. Bukan lagi puluhan, ratusan lamaran kerja sudah disebarnya dalam kurun waktu kurang dari satu tahun terakhir.
Pria lulusan Manajemen ini mengaku hanya segelintir perusahaan yang memanggil untuk wawancara kerja, termasuk dari kanal pencari kerja. "Dari ratusan mungkin gak banyak, itu juga kita di-reach out sampai interview, habis itu udah kita ke-ghosting, ya mau gimana kan, kita harus cari lagi, cari lagi," keluhnya.
Terbantu dengan Program Magang Nasional
Acel tak sebatas menebar jala pada lowongan pekerjaan. Demi mengisi kekosongan waktu, dia mencoba peruntungan di Magang Nasional Angkatan 2 Batch II dan akhirnya lolos. Meski, dia akan berusaha mencari lowongan lagi menjelang periode magangnya selesai.
"Saya yakin juga ini bukan masalah di Indonesia doang sebenarnya, karena hampir seluruh dunia juga ngerasain susahnya buat ngelamar kerja. Dengan adanya MagangHub ini ya sangat bermanfaat dan terbantu banget untuk bisa kita cari kerja," ungkapnya.
Berharap Usai Lulus Magang
Windy dan Acel nampaknya sepakat lagi soal manfaat usai periode magang. Salah satunya soal benefit yang diberikan selain hasil mengenal ritme kerja profesional dalam enam bulan.
Sertifikasi dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) dipandang bisa kembali jadi penguat upaya mencari kerja. Sertifikat yang dikantongi oleh peserta magang itu bisa menegaskan kompetensi atas pekerjaannya, dan diharapkan jadi pertimbangan bagi perekrut di perusahaan.
"Berharap banget. Soalnya itu nasional. Jadi bisa menunjang CV aku juga, portofolio aku juga untuk (melamar) ke perusahaan berikutnya," ujar Windy.
Begitupun Acel yang semula sempat memandang kemampuannya diragukan, bisa mendapat dorongan dari sertifikat BNSP nantinya.
"Karena mungkin sertifikat itu ya kita bisa bilangnya kayak apa ya... Kayak badge kita lah. Badge diri kita begitu, bukti kompetensi lah, supaya kita, bisa orang tahu, 'Oh, dia punya kompetensi di sini,' begitu," urainya.
Jadi Pengalaman Peserta
Keluhan dan harapan peserta Magang Nasional itu ditangkap Menteri Ketenagakerjaan, Yassierli. Dia mengaku terus melakukan peningkatan dalam pelaksanaan program pemerintah itu setelah sukses di Angkatan I pada 2025.
Pengetatan syarat perusahaan penyedia magang, seleksi peserta magang, hingga ketersambungan disiplin ilmu peserta dengan bidang magang tak luput dari perhatian Yassierli.
"Kita berharap program pemagangan nasional ini hadir memang memberikan kesempatan kepada anak bangsa untuk meningkatkan kompetensi mereka, untuk mendapatkan pengalaman kerja, membangun portfolio, membangun jejaring, sehingga 6 bulan ini benar-benar bermanfaat untuk mereka," jelas dia.