Rupiah Makin Dekati 18.000 per Dolar AS, Data Ekonomi AS Jadi Pemicu

Rupiah hari ini melemah 98 poin ke Rp 17.916 per dolar AS. Penguatan dolar dipicu PMI AS yang tumbuh kuat.

oleh Arthur GideonDiterbitkan 24 September 2026, 18:15 WIB
Karyawan menunjukkan uang rupiah dan dolar AS di Jakarta. (Liputan6.com/Johan Tallo)

Liputan6.com, Jakarta - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) melemah pada penutupan perdagangan Kamis (24/9/2026). Rupiah turun 98 poin atau 0,55 persen menjadi 17.916 per dolar AS, dari posisi penutupan sebelumnya 17.818 per dolar AS. Pelemahan turut tercermin pada kurs JISDOR Bank Indonesia yang berada di level 17.893 per dolar AS.

Research and Development Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX) Muhammad Amru Syifa mengatakan tekanan terhadap rupiah terutama berasal dari sentimen global setelah data aktivitas bisnis AS menunjukkan pertumbuhan yang kuat.

“Sentimen global masih menjadi faktor utama yang menekan rupiah hari ini. Dolar AS menguat setelah data Flash PMI AS September menunjukkan aktivitas bisnis tumbuh cukup kuat, dengan Composite PMI naik menjadi 58,4 dari 56,0 pada Agustus dan menjadi level tertinggi sejak Juli 2021,” ucapnya dikutip dari Antara. 

Kenaikan PMI tersebut menunjukkan momentum ekonomi AS masih solid. Di sisi lain, tekanan biaya dan inflasi juga masih persisten.

Kondisi itu membuat ekspektasi terhadap kebijakan moneter The Federal Reserve (The Fed) yang relatif ketat tetap terjaga. Akibatnya, dolar AS dan aset berbasis dolar dinilai masih menarik bagi investor.

Penguatan dolar AS tersebut kemudian memberikan tekanan terhadap mata uang negara-negara emerging markets, termasuk rupiah.

 

Sentimen Domestik

Karyawan menunjukkan uang rupiah dan dolar AS di Jakarta. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Selain faktor eksternal, kondisi domestik juga menjadi perhatian pasar. Salah satunya adalah keputusan Bank Indonesia mempertahankan BI-Rate di level 5,75 persen.

Bank sentral juga menegaskan komitmennya untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah melalui optimalisasi berbagai instrumen moneter.

Menurut Amru, posisi cadangan devisa Indonesia yang masih kuat turut menjadi salah satu faktor yang mendukung ketahanan eksternal.

“Posisi cadangan devisa yang masih kuat di sekitar US$ 146,5 miliar juga menjadi salah satu faktor yang dapat membantu menjaga ketahanan eksternal,” ungkap Amru.

Dengan demikian, pergerakan rupiah pada perdagangan Kamis dipengaruhi kombinasi sentimen global dan domestik. Dari eksternal, perhatian pasar tertuju pada penguatan dolar AS setelah data PMI menunjukkan aktivitas ekonomi AS yang tetap kuat. Sementara dari dalam negeri, kebijakan suku bunga BI dan posisi cadangan devisa menjadi faktor yang turut diperhatikan pelaku pasar.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya