Heboh Kemunculan 'Cucu' Krakatau, Cikal Bakal Gunung Api Baru?

Cucu Krakatau Muncul di Selat Sunda? Pakar Geologi Ungkap Fakta Daratan Baru GAK

oleh Ardi MuntheDiterbitkan 24 September 2026, 16:00 WIB
Tangkapan layar rekaman video dari akun youtube Yodistara memperlihatkan daratan baru muncul di sekitaran Gunung Anak Krakatau. (Liputan6.com/ Dok Istimewa).

Liputan6.com, Jakarta - Kemunculan daratan baru di kawasan Gunung Anak Krakatau (GAK), Lampung Selatan, memicu perbincangan hangat di tengah masyarakat. Sebagian spekulasi menyebut daratan tersebut sebagai potensi gunung api baru atau yang diistilahkan sebagai 'cucu' Gunung Krakatau.

Dosen Teknologi Geologi Institut Teknologi Sumatera (ITERA), Happy Christin Natalia, menjelaskan bahwa dugaan tersebut belum bisa dipastikan secara ilmiah. Dari kacamata geologi, daratan itu sementara ini lebih memungkinkan merupakan tumpukan material hasil erupsi GAK.

"Kalau dari geologi sendiri kami melihatnya sebagai kumpulan material dari erupsi  Gunung Anak Krakatau sendiri," kata Happy, Kamis (24/9/2026).

Happy menerangkan, material vulkanik yang dimuntahkan saat erupsi dapat terlempar dan longsor ke laut, lalu terendapkan mengikuti arah arus air di sekitar kawasan gunung.

"Semua materialnya begitu longsor ke laut itu akan terendapkan mengikuti arah arus lautnya," jelasnya.

Terkait sebutan "cucu Krakatau", Happy menilai istilah itu sebatas spekulasi populer di masyarakat. Menurutnya, belum ada bukti ilmiah yang menunjukkan adanya pembentukan saluran magmatis atau struktur gunung api baru di titik tersebut.

"Kalau mau mengatakan adanya tumbuh gunung api baru, yang cucu Krakatau-nya itu, kayaknya masih butuh penelitian lanjut," ujar Happy.

 

Ukuran Daratan Berpotensi Terus Bertambah

Panataun Gunung Anak Krakatau. (Istimewa)

Happy menambahkan, ukuran daratan baru itu masih bisa berubah atau bertambah luas di masa depan.

Hal tersebut bergantung pada frekuensi dan intensitas aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau ke depan.

"Kalau Gunung Anak Krakatau terus-menerus erupsi dalam durasi waktu setahun, dua tahun sekali, maka untuk daratannya juga pasti akan jauh lebih luas lagi. Karena akumulasinya akan ada terus," ungkap dia.

Karena itu, Happy menekankan pentingnya studi dan kajian lapangan lebih mendalam untuk menganalisis struktur serta material penyusun daratan baru tersebut secara pasti.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya