Pidato di PBB, Zelenskyy Sebut Rusia Rekrut Tentara dari 47 Negara

Presiden Zelenskyy menuding Rusia merekrut tentara dari 47 negara untuk perang di Ukraina, termasuk Ghana dan India.

oleh Septian DenyDiterbitkan 24 September 2026, 13:00 WIB
Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy. (Dok.  AP/Jose Luis Magana)

Liputan6.com, Washington, DC - Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy menuding Rusia merekrut para pejuang dari 47 negara untuk ikut berperang melawan Ukraina. Tuduhan itu disampaikan Zelenskyy dalam pidatonya di Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Dikutip dari Euronews, Kamis (24/9/2026), Zelenskyy mengatakan warga dari sejumlah negara, termasuk Ghana, Nepal, dan India, telah ikut bertempur dalam konflik tersebut.

Dalam pidatonya, Zelenskyy menyerukan agar tekanan terhadap Rusia terus dipertahankan. Ia juga menilai pendapatan Rusia harus tetap menjadi sasaran tekanan karena perdagangan yang terus berlangsung dengan Moskow dinilai membantu memperpanjang perang.

“Putin selalu mencari seseorang yang dapat membantunya membunuh lebih banyak, membunuh lebih banyak orang untuk setiap kilometer wilayah, merebut lebih banyak wilayah dan mengambil alih negara lain, alih-alih sekadar berhenti dan menjalankan negaranya sendiri,” kata Zelenskyy.

Ia juga menyoroti hubungan militer Rusia dengan Korea Utara. Menurut Zelenskyy, dua tentara Korea Utara yang ditangkap saat bertempur melawan Ukraina baru-baru ini telah dikirim ke Korea Selatan.

Rusia Tolak Gencatan Senjata Sederhana

Di sisi lain, Rusia mengatakan tetap terbuka untuk melakukan perundingan, tetapi tidak akan menerima penghentian perang secara sederhana.

Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov mengatakan kepada Dewan Keamanan PBB pada Rabu bahwa gencatan senjata tanpa penyelesaian yang lebih luas hanya akan memberikan kesempatan bagi Ukraina dan sekutunya untuk kembali mempersenjatai diri.

Zelenskyy kemudian mempertanyakan kesediaan Rusia untuk mengakhiri perang. Ia menggambarkan Presiden Rusia Vladimir Putin sebagai pemimpin yang terus memperluas konflik, bukan mencari jalan menuju perdamaian.

Zelenskyy juga memperingatkan warga Ukraina untuk bersiap menghadapi musim dingin yang kembali sulit. Ia mengisyaratkan bahwa Rusia dapat menghadapi serangan Ukraina lebih lanjut terhadap infrastruktur pemanas dan energinya sebagai respons atas serangan Moskow terhadap Ukraina.

“Warga Ukraina memahami bahwa musim dingin ini bisa sangat berat bagi kami, tetapi sebagai respons, kami tidak punya pilihan selain membuat Rusia merasakan sakit juga,” ujarnya.

 

Serangan Drone Jadi Sorotan Zelenskyy

Serangan drone juga menjadi salah satu poin utama dalam pidato Zelenskyy. Ia menuding Rusia telah menggunakan 63.000 drone serang dari berbagai jenis untuk menyerang Ukraina sepanjang tahun ini.

Di saat yang sama, Zelenskyy menyoroti perkembangan peran Ukraina dalam teknologi drone. Ia mengatakan Kyiv telah menandatangani kesepakatan drone dengan Finlandia, perjanjian keamanan yang melibatkan drone dengan Australia, serta tengah mempersiapkan kesepakatan lebih lanjut dengan Kanada.

Perang terus diwarnai serangan drone dan rudal dalam skala besar dari kedua pihak. Serangan Rusia menghantam Kyiv dan Zaporizhzhia pada Rabu, sementara Rusia mengatakan sistem pertahanan udaranya telah mencegat lebih dari 500 drone Ukraina.

Sebelum menyampaikan pidatonya, Zelenskyy juga mengunggah pernyataan di X mengenai serangan drone Rusia terhadap Kyiv.

“Hingga saat ini, dua orang dilaporkan tewas dan 24 lainnya terluka. Belasungkawa saya kepada keluarga dan orang-orang terkasih mereka. Serangan juga terjadi di kota-kota dan komunitas di delapan wilayah,” tulis Zelenskyy.

Jumlah korban luka kemudian direvisi oleh otoritas setempat menjadi lebih dari 40 orang.

Di sela-sela Sidang Umum PBB, Zelenskyy bertemu dengan Presiden AS Donald Trump. Dalam pertemuan tersebut, Trump kembali mengatakan bahwa dirinya meyakini kesepakatan untuk mengakhiri perang pada akhirnya dapat dicapai.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya