Liputan6.com, Washington, DC - Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy dalam pidatonya pada Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada Rabu (23/9/2026), menyerukan agar tekanan terhadap Rusia diperkuat untuk mengakhiri perang. Menurut dia, Rusia terus menanggung kerugian besar akibat memperpanjang konflik yang dampaknya kini terasa jauh di luar medan perang.
Ia menyebut Presiden Rusia Vladimir Putin sebagai satu-satunya pihak yang mendorong perang terus berlangsung.
Advertisement
"Selama hampir lima tahun, para jenderal Rusia berusaha menjalankan perintah gila Putin untuk merebut wilayah timur kami, wilayah Donetsk," katanya seperti dikutip dari situs web PBB.
Zelenskyy mengatakan Rusia telah mengalami kerugian sangat besar, tetapi hanya memperoleh sedikit wilayah. Ia mengklaim hampir 249.000 tentara Rusia tewas atau mengalami luka parah selama delapan bulan pertama tahun ini.
"Ini gila," katanya. "Namun, mereka tetap terus maju."
Dampak Perang Meluas ke Luar Ukraina
Zelenskyy menyoroti keterlibatan pasukan Korea Utara yang bertempur bersama Rusia sebagai salah satu dampak perang yang telah meluas ke luar Ukraina.
Menurut dia, pasukan Korea Utara mengalami kerugian besar dalam pertempuran. Sebagai imbalannya, Korea Utara disebut memperoleh keuntungan di bidang militer, termasuk peningkatan kemampuan rudal dan drone.
"Perang yang tidak dicegah tepat waktu, tidak dihentikan tepat waktu, dan Rusia tidak dihukum tepat waktu, terus meluas dan ikut menyebarkan kejahatan," tuturnya.
Zelenskyy juga memperingatkan bahwa Rusia mengancam negara-negara lain, termasuk Moldova, Polandia, dan negara-negara Baltik. Ia menuding Rusia tidak menghormati kedaulatan negara-negara di Kaukasus Selatan dan Asia Tengah.
"Semakin besar keleluasaan Putin untuk bertindak, semakin berbahaya dunia bagi semua orang," ujarnya.
Membatasi Kemampuan Rusia Membiayai Perang
Zelenskyy menegaskan bahwa sasaran Kyiv bukan industri minyak Rusia itu sendiri.
"Target kami adalah kemampuan Rusia untuk membiayai perang ini, memperpanjangnya, serta membuatnya semakin brutal dan semakin merusak," jelasnya.
Ia menyerukan agar sanksi terhadap Rusia terus diberlakukan, perdagangan dengan Rusia dibatasi, dan dukungan internasional kepada Ukraina tetap diberikan melalui bantuan pertahanan serta produksi senjata bersama.
"Ketika seseorang memberi Rusia lebih banyak uang melalui perdagangan, mereka juga memberi perang ini lebih banyak waktu," tambahnya.
Memperkuat Keamanan melalui Inovasi
Zelenskyy mengungkapkan Rusia telah meluncurkan ribuan rudal dan puluhan ribu drone serang ke Ukraina sejak awal tahun, termasuk rudal balistik dan drone Shahed bertenaga jet.
Sebagai tanggapan, Ukraina meningkatkan produksi drone pencegat sekaligus mengembangkan kemampuan pertahanan udara baru bersama negara-negara mitra di Eropa melalui inisiatif pertahanan antirudal balistik yang dikenal sebagai "Freya".
Industri pertahanan Ukraina yang berkembang pesat, sebut Zelenskyy, dapat menjadi sumber daya bagi keamanan negara-negara lain. Ia menyoroti kerja sama dengan sejumlah mitra internasional dalam teknologi drone dan sistem pertahanan terintegrasi.
Ia menyebut visi tersebut sebagai perdamaian melalui perlindungan.
Mempertahankan Kebebasan
Zelenskyy mengakui perang telah membawa dampak besar bagi rakyat Ukraina. Namun, ia menegaskan bahwa perjuangan negaranya pada dasarnya adalah untuk bertahan hidup dan mempertahankan kemerdekaan.
"Rakyat Ukraina tidak memilih perang ini," katanya. "Kami memilih untuk tidak mati, tidak kehilangan negara kami, keluarga kami, tidak kehilangan kemerdekaan dan kebebasan kami. Dan kami membela diri."
Melalui mimbar PBB, Zelenskyy memperingatkan pula bahwa perkembangan pesat teknologi militer dan kecerdasan buatan dapat membuat konflik pada masa depan semakin berbahaya. Karena itu, ia mendesak komunitas internasional mengakhiri perang-perang yang sedang berlangsung sebelum peperangan memasuki era teknologi baru.
"Pasien nol harus dihentikan," katanya, menggunakan istilah yang merujuk pada Putin sebagai sumber awal penyebaran konflik. "Batasi ruang geraknya, batasi uangnya, batasi perangnya."