Paspor Dibungkus Aluminium Foil Jadi Tren di Bandara, Ternyata Ini Alasannya

Fenomena tersebut berkaitan dengan penggunaan paspor elektronik yang kini diterapkan di berbagai negara.

oleh Nurri Indah KholillahDiterbitkan 28 September 2026, 08:00 WIB
Tampak dalam paspor. (dok. Unsplash/Agus Dietrich)

Liputan6.com, Jakarta - Tren wisata baru tengah ramai diperbincangkan di media sosial. Sejumlah pelancong kini memilih membungkus paspor dengan aluminium foil sebelum bepergian sebagai langkah untuk menjaga keamanan data pribadi yang tersimpan di dalamnya.

Fenomena tersebut berkaitan dengan penggunaan paspor elektronik alias e-passport yang kini diterapkan di berbagai negara. Berbeda dari paspor konvensional, dokumen ini memiliki chip elektronik yang menyimpan informasi pemegang paspor dan dapat dibaca secara nirkabel untuk mendukung pemeriksaan identitas.

Melansir Euronews, Rabu, 23 September 2026, perhatian terhadap keamanan e-passport berkaitan dengan teknologi Radio Frequency Identification (RFID). Teknologi ini memungkinkan perangkat tertentu membaca informasi pada chip tanpa memerlukan kontak langsung dengan dokumen.

Kemampuan tersebut kemudian menimbulkan kekhawatiran di kalangan sebagian wisatawan, terutama saat berada di lokasi yang dipadati orang, seperti bandara, stasiun, atau kawasan wisata. Aluminium foil digunakan sebagai cara sederhana yang diyakini dapat membantu menghalangi pembacaan sinyal dari chip paspor.

Data yang tersimpan di dalamnya bukan sekadar informasi dasar pemilik dokumen. Menurut Federal Office for Information Security, chip paspor memuat foto, serta sejumlah identitas, termasuk nama, tempat lahir, jenis kelamin, warna mata, tinggi badan, dan tempat tinggal.

Informasi biometrik juga menjadi bagian dari data tersebut. Dua sidik jari yang direkam ketika paspor diterbitkan turut disimpan dalam chip, sehingga keamanan dokumen perjalanan semakin menjadi perhatian di tengah perkembangan teknologi identifikasi digital.

Risiko Pencurian Data Paspor Ternyata Sangat Kecil

Kekhawatiran yg menimbulkan tren perjalanan baru ini karena adanya risiko pelacakan data secara diam-diam. (Photo by Agus Dietrich on Unsplash)

Meski kekhawatiran terhadap keamanan data paspor terus berkembang, risiko pembacaan tanpa izin dalam situasi perjalanan sehari-hari dinilai sangat kecil oleh para ahli. Jangkauan chip pada paspor juga terbatas, sehingga perangkat pembaca perlu berada dalam jarak sangat dekat untuk dapat berkomunikasi dengan dokumen.

Penggunaan aluminium foil pun tidak dianggap sebagai perlindungan yang benar-benar diperlukan dalam kondisi normal. Material tersebut memang mampu menghambat gelombang radio, tapi manfaatnya sebagai pelindung paspor dinilai tidak sebanding dengan risiko yang hendak diantisipasi.

Di sisi lain, kebiasaan ini justru dapat memperlambat pemeriksaan di perbatasan. Pasalnya, wisatawan perlu membuka dan kembali membungkus paspor setiap kali dokumen diperiksa petugas.

Perlindungan Data yang Ketat untuk Paspor

Dengan adanya tren perjalanan baru ini membuat perlindungan data paspor akan lebih ketat lagi. (dok. Unsplash.com/CardMapr.nl)

Keamanan data dalam paspor elektronik juga didukung mekanisme penyimpanan yang dirancang untuk membatasi akses terhadap informasi pribadi. Di Jerman, misalnya, data yang terdapat pada chip paspor tidak dihimpun dalam satu basis data terpusat.

Pihak berwenang hanya menyimpan informasi yang pada dasarnya sudah tercatat sebelum sistem paspor elektronik diterapkan. Ketentuan serupa berlaku untuk data biometrik berupa sidik jari pemegang paspor.

Informasi tersebut tidak disimpan secara permanen dalam sistem pemerintah, melainkan hanya berada pada dokumen perjalanan yang bersangkutan. Setelah paspor diterima pemiliknya, data sidik jari yang digunakan dalam proses pembuatan dokumen akan dihapus secara permanen oleh pihak berwenang.

Praktik tersebut mengacu pada Pasal 16 Undang-Undang Paspor Jerman. Dengan mekanisme ini, data biometrik tidak menjadi bagian dari basis data terpusat setelah paspor diterbitkan dan diserahkan kepada pemiliknya.

Teknologi Biometrik Mulai Mengubah Cara Wisatawan

Tren perjalanan baru membukus paspor agar aman. (dok. Unsplash/Nicole Geri)

Perkembangan teknologi turut mengubah pengalaman wisatawan saat menjalani pemeriksaan di bandara. Proses yang sebelumnya mengandalkan pengecekan dokumen secara langsung kini mulai memanfaatkan sistem biometrik untuk mempercepat perjalanan.

Salah satunya diterapkan di Bandara Internasional Hamad, Qatar, yang bersama Qatar Airways menghadirkan layanan Fast Pass berbasis pengenalan wajah. Sistem ini memungkinkan penumpang melewati sejumlah titik pemeriksaan dengan lebih sedikit pemeriksaan dokumen secara manual.

Meski menggunakan layanan tersebut, penumpang tetap wajib membawa paspor yang masih berlaku. Dokumen fisik dapat diminta kembali apabila sistem kamera biometrik tidak berhasil mencocokkan identitas penumpang saat pemeriksaan imigrasi atau melalui gerbang elektronik.

Penggunaan teknologi ini menunjukkan bagaimana biometrik mulai terintegrasi dalam perjalanan udara. Kemudahan yang ditawarkan berjalan beriringan dengan kebutuhan menjaga keamanan informasi pribadi yang digunakan selama proses verifikasi identitas.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya