Rupiah Hari Ini Melejit ke 17.818 Per Dolar AS, Analis Ungkap Pemicunya

Rupiah menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) tetapi masih di kisaran 17.800 pada Rabu, (23/9/2026).

oleh Agustina MelaniDiterbitkan 23 September 2026, 19:05 WIB
Teller menghitung mata uang rupiah di bank, Jakarta (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) mempertahankan penguatan hingga penutupan perdagangan Rabu, (23/9/2026). Analis menilai, kondisi eksternal yang masih terjaga membantu penguatan rupiah terhadap dolar AS.

Mengutip Antara, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS naik 66 poin atau 0,37% menjadi 17.818 per dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya di level 17.884 per dolar AS.

Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia juga bergerak melesat ke level 17.803 per dolar AS dari sebelumnya 17.883 per dolar AS.

“Sentimen terhadap rupiah relatif terbantu oleh kondisi eksternal Indonesia yang masih terjaga,” kata Research and Development Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX) Muhammad Amru Syifa dikutip dari Antara, Rabu (23/9/2026).

Sementara itu, cadangan devisa (cadev) Indonesia pada akhir Agustus 2026 meningkat menjadi US$ 146,5 miliar dari US$ 145,3 miliar pada bulan sebelumnya. Namun, menurut Amru, rupiah masih menghadapi tekanan akibat penguatan dolar AS dan meningkatnya volatilitas pasar global.

“Inflasi Indonesia pada Agustus juga naik menjadi 3,19 persen secara tahunan, sehingga ruang pelonggaran kebijakan moneter perlu tetap mempertimbangkan stabilitas nilai tukar dan inflasi,” ujar dia.

Dia juga telah memprediksi bank sentral yang memutuskan untuk mempertahankan BI-Rate di level 5,75%. Amru menuturkan, BI akan lebih menekankan stabilitas nilai tukar, antara lain melalui intervensi di pasar valas dan pengelolaan likuiditas, dibandingkan memberikan sinyal pelonggaran agresif.

BI melalui RDG Bulanan periode September 2026 yang berlangsung pada Selasa dan Rabu ini, memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan (BI-Rate) pada level 5,75%.

Suku bunga deposit facility diputuskan untuk tetap pada level 4,75%. Begitu pula suku bunga lending facility yang diputuskan untuk tetap pada level 6,5%.

Sentimen Global

Keputusan ini dinyatakan tetap konsisten dengan strategi stabilisasi nilai tukar di tengah tekanan eksternal yang masih kuat guna mendukung pencapaian sasaran inflasi 2,5 plus minus 1% pada 2026 dan 2027, serta mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

Melihat sentimen global, pasar disebut masih mencermati arah kebijakan Federal Reserve (The Fed).

"Pernyataan Presiden Richmond Fed Thomas Barkin pada 22 September yang menilai risiko inflasi masih lebih besar dibandingkan risiko terhadap pasar tenaga kerja membuat ekspektasi penurunan suku bunga AS lanjutan menjadi lebih terbatas. Kondisi tersebut masih menjadi faktor yang menahan penguatan rupiah,” kata dia.

 

 

 

Rupiah Hari Ini Melesat ke 17.857 Jelang Keputusan BI Rate

Teller menukarkan mata uang dolar ke rupiah di Jakarta (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Sebelumnya, nilai tukar rupiah melesat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan Rabu, (23/9/2026). Penguatan rupiah terhadap dolar AS itu didorong peluang Bank Indonesia (BI) menahan suku bunga acuan atau BI Rate dalam pertemuan Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada 22-23 September 2026.

Mengutip Antara, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS naik 27 poin atau 0,15% menjadi 17.857 per dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya di 17.884 per dolar AS.

"Rupiah hari ini diperkirakan menguat pada kisaran Rp17.830-Rp17.880 dipengaruhi oleh domestik hasil keputusan RDG BI hari ini yang diperkirakan akan menahan suku bunga acuan di 5,75 persen,” ujar Analis Bank Woori Saudara Rully Nova, dikutip dari Antara.

Sejumlah ekonom telah memprediksi suku bunga acuan (BI-Rate) tetap di level 5,75% pada RDG BI September 2026 ini, dengan peluang kenaikan terjadi pada akhir tahun jika tekanan eksternal semakin persisten.

 

 

Eskalasi Konflik Timur Tengah

Ilustrasi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (BAY ISMOYO/AFP)

Eskalasi konflik di Timur Tengah dan perang Rusia-Ukraina telah mendorong beberapa bank sentral untuk meninjau kembali sikap kebijakan moneternya, termasuk The Fed, European Central Bank, dan Bank of Japan.

Di sisi lain, The Federal Reserve (the Fed) juga telah mengindikasikan kenaikan suku bunga lebih lanjut masih dapat menjadi opsi pada 2026, meskipun kondisi pasar tenaga kerja AS relatif tetap kuat.

Secara keseluruhan, tekanan global terutama datang dari kombinasi kebijakan The Fed yang lebih hawkish, penguatan dolar AS, ketidakpastian geopolitik, dan harga minyak yang tinggi.

Menurut Rully, BI pada Rabu pekan ini akan menunjukkan sikap hawkish untuk menjaga stabilitas rupiah melalui perluasan instrumen seperti Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), pasar valas spot, hingga derivatif Non-Deliverable Forward (NDF) dan swap.

"Dari global, harga minyak menunjukkan tren penurunan mendorong penurunan indeks dolar dan yield obligasi pemerintah AS,” ujar dia.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya