Trump Dukung Larangan Ekspor Solar AS

Presiden AS Donald Trump menuturkan, AS memproduksi banyak diesel atau solar sehingga dapat mempengaruhi harga.

oleh Agustina MelaniDiterbitkan 23 September 2026, 10:00 WIB
Presiden Amerika Serikat Donald Trump di Ruang Oval, Gedung Putih, Kamis (29/1/2026). (Dok. AP/Allison Robert)

Liputan6.com, Jakarta - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyatakan dukungannya terhadap usulan untuk menghentikan ekspor diesel atau solar Amerika Serikat. Hal ini untuk meringankan beban harga bagi masyarakat.

Mengutip BBC, Rabu, (23/9/2026), pernyataan ini muncul setelah anggota parlemen dari Partai Republik mendesak presiden menjelang pemilihan umum sela November untuk membatasi ekspor, seiring melonjaknya harga diesel hingga mencapai rekor tertinggi di AS.

Saat berbicara di sela-sela Sidang Umum PBB, Trump mengisyaratkan mempertahankan pasokan diesel di dalam negeri dapat turut menurunkan harga bensin secara umum.

"Saya juga sudah menyerukan hal itu. Saya bilang, jangan kirim diesel ke luar negeri. Kita memproduksi banyak diesel. Hal itu bisa sedikit berdampak pada harga bensin untuk kendaraan biasa," ujarnya.

Sementara itu, Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengonfirmasi, para pejabat sedang mengkaji "apakah larangan total atau sebagian akan efektif" tanpa mengganggu kemampuan kilang minyak.

Menurut data American Automobile Association, rata-rata harga nasional diesel melampaui US$ 6,50 per galon pada Selasa, yang merupakan rekor tertinggi baru.

Konflik di Timur Tengah telah membatasi pasokan minyak global, sehingga menekan harga bahan bakar di tingkat konsumen.

Lonjakan harga diesel telah menciptakan urgensi politik menjelang pemilihan umum sela yang krusial pada 3 November. Sejumlah anggota Partai Republik mendesak pemerintah untuk membatasi ekspor bahan bakar tersebut guna meringankan beban finansial para pemilih.

 

Dukungan DPR AS

Sampai pembukaan perdagangan Rabu 4 Maret 2026, harga minyak masih berada di atas US$ 80 per barel. Tampak foto yang menunjukkan sebuah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) Aral di Bochum, Jerman, pada Rabu 4 Maret 2026. (Ina FASSBENDER/AFP)

Anggota DPR AS Ashley Hinson, seorang politikus dari Partai Republik yang mencalonkan diri untuk kursi Senat di Iowa, mengatakan pada Senin kalau konsumen di negara bagian tersebut "terhimpit dan seharusnya tidak perlu menanggung biaya tinggi di SPBU."

Di Alaska pada Selasa, Senator Dan Sullivan juga mendesak adanya "penghentian sementara ekspor diesel Amerika" untuk memulihkan cadangan dalam negeri.

Menambah volatilitas pasar global, serangan Ukraina terhadap fasilitas energi Rusia telah melumpuhkan kapasitas pengilangan minyak negara tersebut.

"Itu merupakan pukulan telak bagi Rusia," kata Trump dalam pertemuan dengan mitranya dari Ukraina, Volodymyr Zelensky, pada hari Selasa. "Itu juga berdampak serius terhadap harga diesel."

Trump mengonfirmasi akan membahas serangan-serangan tersebut dengan presiden Ukraina, serta upaya yang lebih luas untuk merundingkan penyelesaian konflik. "Saya rasa hal itu akan terjadi," ujarnya.

 

Memicu Kenaikan Harga di Tingkat Global

Ketidakpastian terkait potensi penurunan ketegangan Amerika Serikat dan Iran membuat pasar tetap waspada. Tampak dalam foto, harga bensin yang melebihi 8 delapan dolar AS per galon terlihat tertera di sebuah SPBU Chevron di Los Angeles, California, pada 28 April 2026. (Frederic J. BROWN/AFP)

Kyiv telah meningkatkan serangan pesawat nirawak (drone) terhadap fasilitas pengolahan minyak Rusia dalam beberapa bulan terakhir guna memutus sumber utama pendanaan perang bagi Kremlin.

Mengingat posisi Rusia sebagai salah satu pemasok utama diesel dunia, penurunan kapasitas kilang ditambah dengan kebijakan larangan ekspor yang ketat dari Moskow telah sangat menekan cadangan global.

Meskipun pembatasan ekspor AS dapat memberikan kelegaan jangka pendek bagi para pengemudi di Amerika, kebijakan pelarangan tersebut berisiko memicu kenaikan harga di tingkat internasional.

AS mengekspor sekitar 1,3 juta barel diesel per hari hampir seperempat dari total produksi kilangnya.

Pengurangan pasokan ini dapat membebani ketersediaan bahan bakar bagi sekutu Barat, termasuk Inggris dan Belanda, yang selama ini mengandalkan bahan bakar Amerika untuk menutupi kekurangan akibat sanksi terhadap sektor energi Rusia.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya