Bursa Asia Bersiap Menguat, Pasar Menanti Pertemuan Trump-Xi Jinping

Bursa Asia bersiap menguat setelah reli saham AS. Investor kini menanti pertemuan Donald Trump dan Xi Jinping.

oleh Arthur GideonDiterbitkan 22 September 2026, 08:15 WIB
Beralih ke bursa asing, bursa saham Asia kompak berada di zona hijau. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta - Bursa Asia berpotensi menguat pada perdagangan Selasa (22/9/2026) setelah pasar saham Amerika Serikat (AS) mencatat reli pada perdagangan sebelumnya. Penguatan saham berbasis kecerdasan buatan (AI) menjadi salah satu pendorong utama pasar.

Mengutip CNBC, kontrak berjangka indeks Hang Seng Hong Kong berada di level 25.118, dibandingkan penutupan sebelumnya di 25.042,71. Sementara kontrak berjangka S&P/ASX 200 Australia berada di 8.809, setelah indeks tersebut ditutup di 8.731,90.

Pasar saham Jepang tidak diperdagangkan pada Selasa karena libur nasional.

Dari AS, kontrak berjangka S&P 500 naik tipis 0,02%, sedangkan Nasdaq-100 futures menguat 0,2%. Kontrak berjangka Dow Jones Industrial Average bertambah 4 poin atau 0,01%.

Penguatan Bursa Asia terjadi setelah indeks utama Wall Street menguat. S&P 500 melonjak 1,5%, Nasdaq Composite naik 2,3%, sementara Dow Jones Industrial Average bertambah 0,7%.

 

Saham Teknologi Jadi Pendorong

Steven Kaplan (tengah) saat bekerja dengan sesama pialang di New York Stock Exchange, Amerika Serikat, Rabu (11/3/2020). Bursa saham Wall Street anjlok karena investor menunggu langkah agresif pemerintah AS atas kejatuhan ekonomi akibat virus corona COVID-19. (AP Photo/Richard Drew)

Penguatan saham teknologi menjadi penggerak utama reli pasar AS. Saham Meta Platforms melonjak lebih dari 11%. Saham produsen chip Intel dan Advanced Micro Devices (AMD) masing-masing melesat 12% dan sekitar 10%.

Kenaikan saham AMD bahkan membawa kapitalisasi pasarnya menyentuh US$ 1 triliun. Sementara itu, saham Nvidia naik 2% dan Corning menguat hampir 6%.

Sentimen positif juga didukung penurunan harga minyak. Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) turun 4,5% menjadi US$ 95,78 per barel. Sementara harga minyak Brent melemah lebih dari 3% ke US$ 100,34 per barel.

Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun juga turun lebih dari 4 basis poin menjadi 4,951%.

Perhatian investor selanjutnya tertuju pada pertemuan Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping di Washington, DC. Kecerdasan buatan, perang Iran, tarif perdagangan, dan logam tanah jarang diperkirakan menjadi sejumlah topik utama.

Sebelum kunjungan Xi ke AS, Menteri Keuangan AS Scott Bessent juga telah bertemu Wakil Perdana Menteri China He Lifeng.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya