Nilai Tukar Rupiah Melemah, Pasar Tunggu Keputusan BI

Rupiah melemah 0,50% ke 17.847 per dolar AS. Pasar kini mencermati ketegangan geopolitik dan keputusan suku bunga BI.

oleh Arthur GideonDiterbitkan 21 September 2026, 18:15 WIB
Karyawan menunjukkan uang rupiah dan dolar AS di Jakarta. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) melemah pada penutupan perdagangan Senin (21/9/2026). Rupiah turun 89 poin atau 0,50 persen menjadi 17.847 per dolar AS, dibandingkan posisi penutupan sebelumnya di level 17.758 per dolar AS.

Pelemahan juga tercermin pada kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia (BI). Pada Senin, JISDOR berada di level 17.813 per dolar AS, melemah dari posisi sebelumnya 17.745 per dolar AS.

Analis mata uang sekaligus Direktur Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuabi menilai pergerakan rupiah turut dipengaruhi oleh meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Asia Barat.

“Ketegangan di Timur Tengah tetap tinggi setelah kelompok (Ansarullah) Houthi Yaman menyatakan telah menyerang lokasi-lokasi sensitif di ibu kota Arab Saudi, Riyadh, menggunakan rudal dan pesawat nirawak (drone), serta menyerang fasilitas Aramco di kota Yanbu yang terletak di tepi Laut Merah dan merupakan pusat utama ekspor minyak,” ucapnya dikutip dari Antara. 

Menurut Ibrahim, perkembangan tersebut menjadi salah satu sentimen yang diperhatikan pelaku pasar karena berpotensi memengaruhi kondisi pasar energi dan ekonomi global.

Pasar Tunggu Keputusan Suku Bunga BI

Karyawan menunjukkan uang rupiah dan dolar AS di Jakarta. (Liputan6.com/Johan Tallo)

Selain ketegangan geopolitik, perkembangan harga minyak dan jalur perdagangan energi juga menjadi perhatian pasar. Serangan Ansarullah Yaman terhadap jalur pipa Timur-Barat milik Saudi Aramco disebut mendorong perusahaan energi negara tersebut meningkatkan ekspor melalui Selat Hormuz pada bulan ini dan bulan depan.

Sebelumnya, sebagian pengiriman melalui Yanbu sempat dihentikan.

Dari dalam negeri, perhatian pasar kini beralih pada keputusan Bank Indonesia terkait kebijakan suku bunga. Pelaku pasar akan mencermati perkembangan nilai tukar rupiah, inflasi, serta arah kebijakan bank sentral di berbagai negara.

Ibrahim menyebut kebijakan bank sentral global saat ini bergerak dengan arah yang berbeda-beda.

“Sebagian mengambil sikap hawkish, sebagian lainnya masih memiliki ruang pelonggaran dengan mempertahankan posisi suku bunga acuan. Namun, melihat situasi inflasi global yang tinggi, kemungkinan gubernur Bank Indonesia dalam rapat di hari Rabu (23/9) akan menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 bps (basis points),” ungkap Ibrahim.

Dengan demikian, keputusan BI pada Rabu (23/9/2026) menjadi salah satu faktor yang akan dicermati pasar setelah rupiah kembali melemah pada perdagangan awal pekan.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya