Harga Bitcoin 19 September 2026 Kembali Sentuh Rp 1,44 Miliar

Harga bitcoin (BTC) dan ethereum (ETH) kompak melesat pada perdagangan Sabtu, (19/9/2026).

oleh Agustina MelaniDiterbitkan 19 September 2026, 09:48 WIB
Ilustrasi aset kripto Bitcoin. (Foto By AI)

Liputan6.com, Jakarta - Harga kripto jajaran teratas melesat pada perdagangan Sabtu, (19/9/2026) saat dipantau pukul 09.36 WIB. Kenaikan harga kripto jajaran teratas ini diikuti harga bitcoin (BTC) dan Ethereum (ETH).

Mengutip data Coinmarketcap.com, harga kripto kapitalisasi pasar terbesar bitcoin naik 5,81% dalam 24 jam terakhir. Selama sepekan terakhir, harga bitcoin naik 5,3%. Saat ini, harga bitcoin berada di posisi US$ 81.363 atau Rp 1,44 miliar (asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah di kisaran 17.810).

Harga Ethereum (ETH) melesat 6,36% dalam 24 jam terakhir. Selama sepekan terakhir, harga ETH melambung 4,2%. Kini, harga Ethereum berada di posisi US$ 2.618 atau Rp 46,63 juta.

Mengutip Vietnam.vn dari laporan the block, lonjakan harga bitcoin seiring pasar kripto merespons secara positif menyusul langkah badan-badan federal yang terus berinovasi melalui regulasi setelah Transparency Act (Undang-Undang Transparansi) terhenti di Senat.

Baru-baru ini, Commodity Futures Trading Commission (CFTC) AS mengajukan regulasi terkait aset mata uang kripto kepada Gedung Putih untuk ditinjau. Langkah ini diambil sehari setelah Securities and Exchange Commission (SEC) AS mengumumkan pengecualian baru yang telah lama dinanti, yang bertujuan "membawa pasar modal AS ke era digital" dengan mengizinkan tokenisasi saham serta perdagangannya di jaringan blockchain.

Sementara itu, sebuah komite di DPR AS memberikan suara untuk melanjutkan pembahasan U.S. Reserve Modernization Act, sebuah rancangan undang-undang yang mengusulkan agar Departemen Keuangan mengelola "fasilitas penyimpanan Bitcoin yang aman."

"Industri ini tidak membutuhkan Kongres," ujar pendiri Pantera Capital, Dan Morehead kepada CNBC pada 18 September.

"SEC dan CFTC sedang menegakkan berbagai hal yang seharusnya sudah tercakup dalam aturan yang jelas (Clarity)," Morehead menambahkan.

Ia optimistis terhadap Bitcoin karena Federal Reserve (The Fed) AS masih terlalu lambat dalam mengendalikan inflasi. “Suku bunga seharusnya jauh lebih tinggi daripada saat ini,” tutur dia.

 

Investor Masih Hati-Hati

Ilustrasi bitcoin dan ethereum (Foto: Unsplash/Thought Catalog)

Investor Kevin O'Leary mengatakan kepada The Starting Block sedang menambah kepemilikan mata uang kripto dan memantau bursa saham utama mana yang akan mengadopsi teknologi blockchain. "Saya telah kembali ke pasar, membuka posisi baru, dan bertaruh pada siklus berikutnya ini," ujar dia.

Pada 17 September, analis JPMorgan menyatakan, tingginya aktivitas short selling dan lindung nilai (hedging) terkait ETF IBIT milik BlackRock mengindikasikan para investor masih bersikap hati-hati terhadap Bitcoin. Namun, jika aktivitas lindung nilai ini mereda, hal tersebut dapat memberikan dukungan yang lebih kuat bagi BTC dibandingkan terhadap emas.

Direktur STS Digital, Jeff Anderson menuturkan, pasar menunjukkan kinerja yang sangat baik, bahkan terkesan mencurigakan setelah menghadapi guncangan ganda akibat kegagalan Transparency Act dan keputusan the Federal Reserve menaikkan suku bunga.

 

Disclaimer: Setiap keputusan investasi ada di tangan pembaca. Pelajari dan analisis sebelum membeli dan menjual Kripto. Liputan6.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan dan kerugian yang timbul dari keputusan investasi.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya