Korea Selatan Tidak Akan Kirim Pasukan Tempur ke Selat Hormuz

Gelombang protes muncul di Korea Selatan dalam beberapa pekan terakhir, menolak kemungkinan pengerahan aset militer ke Selat Hormuz.

oleh Khairisa FeridaDiterbitkan 18 September 2026, 17:59 WIB
Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung berpidato dalam upacara peringatan 81 tahun Hari Pembebasan Korea di Seoul, Sabtu (15/8/2026). (Dok. AFP/Pool/Lee Jin-man)

Liputan6.com, Seoul - Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung menegaskan negaranya tidak akan mengirim pasukan tempur ke kawasan Selat Hormuz jika pengerahan tersebut berisiko menyeret negaranya ke dalam konflik di luar negeri.

"Saya tegaskan, tidak akan ada pengerahan pasukan yang membuat kami terlibat dalam konflik. Tidak akan ada keterlibatan atau campur tangan dalam perang," kata Lee dalam konferensi pers yang disiarkan televisi pada Jumat (18/9/2026), seperti dikutip kantor berita Yonhap.

Meski demikian, Lee mengatakan Seoul tetap perlu mengambil langkah untuk melindungi warga Korea Selatan, kapal dagang, serta jalur pengangkutan minyak mentah di sekitar Selat Hormuz.

"Tidak akan ada pengerahan pasukan untuk terlibat atau melakukan intervensi dalam perang. Hal itu dapat saya tegaskan," ujar Lee, seperti dikutip The Korea Herald.

"Namun, seperti yang dilakukan negara-negara lain, (Korea Selatan) harus melindungi keselamatan warga kami, kapal-kapal dagang, dan jalur pengangkutan minyak mentah. Hal itu juga jelas."

Menurut Yonhap, Lee menuturkan Korea Selatan hanya akan melakukan langkah yang diperlukan untuk melindungi warganya dan menjaga jalur pengangkutan minyak mentah.

Sejauh ini, satuan militer Cheonghae Korea Selatan telah memperluas cakupan misinya di kawasan tersebut. Pemerintah tengah mempertimbangkan langkah tambahan untuk memperkuat upaya pengamanan yang sudah dilakukan.

"Memang benar kami sedang mengkaji dan memikirkan cara untuk memperkuat langkah-langkah terkait hal ini," ungkap Lee.

Pernyataan tersebut disampaikan ketika Seoul tengah mempertimbangkan bentuk kontribusi yang dapat diberikan dalam upaya menjaga keamanan pelayaran di Selat Hormuz, di tengah tekanan dari Amerika Serikat.

Sejumlah aset yang dilaporkan masuk dalam pertimbangan antara lain pesawat patroli maritim, tim penjinak bahan peledak, serta sistem tanpa awak untuk mendeteksi dan membersihkan ranjau laut. Namun, Seoul menegaskan belum mengambil keputusan.

Bagi Korea Selatan, Selat Hormuz merupakan jalur penting untuk pasokan energi. Kekhawatiran terhadap pelayaran dan pasokan minyak mentah juga meningkat seiring konflik yang melibatkan Iran serta meningkatnya aktivitas kelompok Houthi di sekitar Selat Bab el-Mandeb.

Lee mengatakan Korea Selatan sempat kesulitan memperoleh pasokan minyak mentah pada awal konflik karena sejumlah kapal memilih menghindari perairan yang dinilai berisiko.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya