Nilai Tukar Rupiah Ditutup Melemah, Tertekan Sikap The Fed

Nilai tukar rupiah hari ini melemah ke 17.758 per dolar AS, tertekan harga minyak tinggi dan ekspektasi kebijakan hawkish The Fed.

oleh Arthur GideonDiterbitkan 18 September 2026, 18:00 WIB
Karyawan bank menunjukkan mata uang dolar Amerika Serikat (AS) di Jakarta. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup melemah pada perdagangan Jumat (18/9/2026). Rupiah turun 5 poin atau 0,03 persen menjadi 17.758 per dolar AS. Pada perdagangan sebelumnya, rupiah berada di level 17.753 per dolar AS.

Di sisi lain, kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia (BI) justru menguat. JISDOR tercatat di level 17.745 per dolar AS, dari posisi sebelumnya 17.753 per dolar AS.

Analis Bank Woori Saudara Rully Nova mengatakan pergerakan rupiah masih dipengaruhi sejumlah sentimen eksternal. Salah satunya risiko harga minyak yang bertahan di level tinggi.

“Penguatan obligasi pemerintah masih dibayangi risiko harga minyak yang masih di level tinggi di atas asumsi APBN (Anggaran Pendapatan Belanja Negara),” ucapnya dikutip dari Antara, Jumat (18/9/2026).

Harga minyak mentah Brent untuk pengiriman November turun 1,3 persen menjadi US$ 103,40 per barel.

Penurunan tersebut terjadi di tengah harapan adanya jalur alternatif pengiriman minyak dari Asia Barat menuju pasar global. Namun, ketidakpastian geopolitik masih menjadi perhatian investor.

 

Kemungkinan Bunga The Fed

Karyawan bank menunjukkan mata uang dolar Amerika Serikat (AS) di Jakarta. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Kekhawatiran mengenai konflik antara Arab Saudi dan Ansarullah Yaman turut membayangi pasar minyak. Ketegangan di Selat Hormuz juga menjadi faktor yang membuat harga minyak kembali berada di atas US$ 100 per barel.

Menurut sumber pasar, sejumlah pengiriman minyak yang dijadwalkan menuju Eropa pada September dibatalkan pada 15 September.

Selain harga minyak, sentimen terhadap rupiah juga datang dari kebijakan moneter Amerika Serikat. Sikap hawkish Federal Reserve atau The Fed mendorong indeks dolar AS menembus level 100 meskipun harga minyak mulai mengalami penurunan.

Rully mengatakan pasar masih memperhitungkan kemungkinan kenaikan suku bunga The Fed dalam waktu dekat.

“Stance kebijakan pengetatan The Fed dengan akselerasi yang tinggi sampai dengan akhir tahun ini. Saat ini, proyeksi kenaikan suku bunga The Fed untuk Oktober oleh pelaku pasar sudah di atas 50 persen,” ungkap Rully.

Di dalam negeri, perhatian investor kini beralih ke Bank Indonesia. Pelaku pasar menunggu hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI yang dijadwalkan berlangsung pada 22-23 September 2026.

Keputusan BI mengenai arah kebijakan suku bunga akan menjadi salah satu sentimen penting bagi pergerakan rupiah dan pasar keuangan domestik pada pekan depan.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya