Liputan6.com, Jakarta - Cinta Laura Kiehl menyoroti pentingnya mempersiapkan masa depan sejak usia produktif, termasuk melalui pendidikan, kebiasaan hidup sehat, pengembangan diri, dan perencanaan finansial. Hal tersebut ia sampaikan dalam peluncuran riset DBS Foundation bertajuk "Indonesia Menuju Populasi Menua: Seberapa Siapkah Kita?"
Riset tersebut membahas kesiapan Indonesia menghadapi perubahan demografi menuju masyarakat menua. Populasi lansia di Indonesia disebut telah mencapai 12 persen pada 2025 dan diproyeksikan melampaui 20 persen pada 2045.
Advertisement
Sebagai Artist, Entrepreneur and Founder of Cinta Laura Foundation, Cinta melihat pendidikan sebagai salah satu bagian penting untuk membangun kemandirian di masa depan. Menurutnya, kesempatan mengembangkan kapasitas diri masih belum merata sehingga dukungan terhadap generasi muda tetap dibutuhkan.
"Kemandirian di masa depan dibangun dari keinginan untuk terus belajar. Namun, kesempatan untuk mendapatkan pendidikan dan mengembangkan kapasitas diri belum dimiliki semua orang. Karena itu, Cinta Laura Foundation mendukung mahasiswa menyelesaikan pendidikan sekaligus mengembangkan leadership, communication, financial literacy, problem solving, dan career readiness agar mereka lebih siap membangun masa depan yang mereka inginkan," ujar Cinta.
Pendidikan Jadi Bagian dari Persiapan Jangka Panjang
Cinta menilai kemampuan untuk terus belajar dan mengembangkan kapasitas diri dapat menjadi bagian dari persiapan menghadapi kebutuhan di masa mendatang. Hal tersebut juga menjadi salah satu fokus Cinta Laura Foundation melalui dukungan kepada mahasiswa.
Di sisi lain, riset DBS Foundation menunjukkan bahwa kesiapan menghadapi masyarakat menua perlu dibangun sepanjang siklus kehidupan. Persiapan tersebut tidak hanya berkaitan dengan kondisi finansial, tetapi juga pendidikan, kesehatan, pekerjaan, serta kemampuan beradaptasi.
Indonesia saat ini masih berada dalam periode bonus demografi dengan 69 persen populasi berada pada usia produktif 15 hingga 65 tahun pada 2025. Namun, jendela tersebut semakin menyempit seiring perubahan struktur penduduk, termasuk penurunan tingkat fertilitas dan meningkatnya harapan hidup.
Literasi Finansial Juga Perlu Dibangun Sejak Produktif
Kesiapan finansial menjadi bagian lain yang disoroti dalam riset tersebut. Pada kelompok usia 18–50 tahun, inklusi keuangan telah mencapai 93,5–95,1 persen, sedangkan tingkat literasi keuangan berada pada kisaran 72,1–74,1 persen.
Data tersebut menunjukkan bahwa akses terhadap layanan keuangan perlu diikuti pemahaman mengenai cara memanfaatkannya. Kepemilikan tabungan atau dana pensiun masih tercatat 5,37 persen, sementara pemahaman mengenai pentingnya dana pensiun berada di angka 27,79 persen.