Liputan6.com, Jakarta - Pemerintah memasang target untuk mengalirkan akses listrik ke 10.068 lokasi di seluruh Indonesia melalui Program Listrik Desa (Lisdes) periode 2025–2029.
Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) Muhammad Qodari menyampaikan, program ini berlandaskan Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Nomor 316 Tahun 2025 tentang Pertajaman Program Listrik Pedesaan dan Bantuan Pasang Baru Listrik.
Advertisement
"Program ini menyasar dusun dan desa yang selama ini belum sepenuhnya menikmati akses listrik, termasuk yang berada di wilayah sulit seperti kawasan pegunungan dan pulau terpencil dengan populasi yang minim," ujar Qodari di Kantor Bakom, Rabu (16/9/2026).
Qodari menjelaskan, masuknya pasokan listrik ke pelosok daerah diharapkan tak sekadar menerangi pemukiman, melainkan turut menggenjot produktivitas ekonomi warga serta mendorong pemerataan pembangunan nasional.
Ia merinci, target elektrifikasi 10.068 lokasi tersebut tersebar di 8.561 desa, 2.295 kecamatan, 375 kabupaten/kota, dan 36 provinsi di Indonesia.
"Dari total target tersebut, elektrifikasi sejauh ini telah terealisasi di 1.516 lokasi atau sekitar 15 persen dari target. Implementasi dari program listrik desa atau disingkat Lisdes, dilaksanakan secara bertahap sesuai peta jalan 2025-2029," kata Qodari.
Dua Skema Utama
Pelaksanaan Lisdes dimulai dari tahapan verifikasi lokasi, penyusunan rancangan teknis dan anggaran, pembangunan infrastruktur, hingga tahap penyambungan dan pemeliharaan berkala.
Untuk merealisasikannya, pemerintah menggunakan dua skema utama. Pertama, sebanyak 5.466 lokasi dipasok langsung dari penyambungan dan perluasan jaringan listrik PLN yang sudah ada (existing).
Kedua, sebanyak 4.602 lokasi terisolasi yang belum terjangkau jaringan PLN akan dibangunkan pembangkit skala kecil berbasis Energi Baru dan Terbarukan (EBT) yang bersifat independen (off-grid).
"Sementara 4.602 lokasi lainnya berada di wilayah yang belum dapat dijangkau oleh jaringan existing, sehingga memerlukan pembangunan pembangkit skala kecil yang bersifat off-grid dengan total kebutuhan kapasitas pembangkit baru sekitar 508 MW," jelas Qodari.
Ia menambahkan, pemilihan jenis pembangkit EBT di lokasi off-grid akan disesuaikan dengan potensi sumber energi lokal yang melimpah di wilayah setempat, seperti tenaga surya, air, maupun biomasa.