Liputan6.com, Jakarta - Kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) kini bukan lagi sekadar teknologi eksperimental. Bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Indonesia, AI telah bertransformasi menjadi alat produksi harian yang ampuh untuk meningkatkan produktivitas, menghemat biaya, hingga membuka akses ke pasar internasional.
Pemerintah melalui Kementerian Perdagangan merespons peluang ini dengan mendorong pemanfaatan AI dalam strategi pemasaran digital UMKM.
Advertisement
Dalam program pendampingan "Gapai Pasar Global dengan AI", Menteri Perdagangan Budi Santoso menegaskan bahwa adopsi AI--mulai dari riset pasar, pembuatan konten, hingga komunikasi lintas negara--menjadi kunci utama bagi pelaku usaha lokal untuk menjangkau konsumen global secara lebih presisi.
Meski penetrasi internet di Indonesia telah mencapai 72,78% (BPS, 2025), pemanfaatan AI di sektor UMKM dinilai belum merata.
Data Kementerian UMKM (2026) menunjukkan lebih dari 90% UMKM belum memanfaatkan teknologi AI secara optimal dalam operasional bisnis mereka.
VP & Country Manager Exabytes Indonesia, Indra Hartawan, menilai tantangan utama saat ini terletak pada efektivitas penggunaan teknologi tersebut. Menurutnya, fokus transformasi digital harus bergeser dari sekadar keberadaan bisnis di ranah daring menjadi kesiapan memanfaatkan AI (AI-ready).
"Tantangannya sekarang bukan lagi apakah UMKM bisa mengakses AI, melainkan sejauh mana AI dapat membantu mereka bekerja lebih efektif, menghemat biaya, dan meningkatkan omzet," ujar Indra, dikutip Rabu (16/9/2026).
Sektor usaha kecil tidak perlu membentuk tim teknis khusus untuk beradaptasi. Menurut Indra, menjadi AI-ready berarti memahami titik operasional yang dapat dioptimalkan oleh AI, didukung oleh fondasi digital yang memadai, serta tetap menempatkan kendali keputusan pada manusia.
Tata Kelola dan Meaningful AI
Langkah penguatan adopsi AI di sektor usaha juga diimbangi dengan regulasi. Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) menekankan pentingnya konsep Meaningful AI, yaitu pemanfaatan AI yang memberikan dampak nyata dengan tetap mengedepankan aspek etika, keamanan data, akuntabilitas, dan transparansi.
Pemerintah saat ini terus memperkuat tata kelola teknologi tersebut melalui Peta Jalan AI Nasional dan Kerangka Etika AI.
Konsep ini menempatkan AI sebagai alat bantu (enabler), sementara keputusan strategis bisnis tetap berada di tangan pelaku usaha.
Sederhanakan Solusi untuk Pertumbuhan Inklusif
Untuk menjembatani kesenjangan kemampuan teknis, pelaku industri mendorong penyediaan solusi AI yang praktis dan relevan dengan kebutuhan harian UMKM.
Pemanfaatan AI untuk optimalisasi mesin pencari (SEO), pembuatan konten, hingga pembuatan situs web perlu dirancang agar mudah dioperasikan tanpa membutuhkan keahlian teknis yang rumit.
"Digitalisasi UMKM tidak seharusnya menciptakan kesenjangan baru. Peran penyedia teknologi bukan hanya menyediakan tools, melainkan juga membantu menjembatani pemahaman agar teknologi dapat memberikan nilai tambah," Indra menambahkan.
Pemanfaatan AI yang bertanggung jawab, didukung peningkatan literasi digital dan pelindungan data pribadi, diharapkan mampu mendorong daya saing produk lokal di ranah global tanpa mengikis nilai unik dan keotentikan dari bisnis UMKM itu sendiri.