Mengapa Pipa Minyak East-West Arab Saudi Penting bagi Pasokan Dunia?

Pipa minyak East-West Arab Saudi ditutup setelah serangan drone. Jalur strategis ini penting untuk menjaga pasokan minyak global.

oleh Arthur GideonDiterbitkan 15 September 2026, 10:00 WIB
Gambar satelit yang disediakan oleh Vantor pada Minggu, 13 September 2026 ini memperlihatkan dampak setelah serangan drone terbaru di pipa minyak East-West di Arab Saudi. (Gambar satelit ©2026 Vantor melalui AP)

Liputan6.com, Jakarta - Pasar minyak dunia kembali mendapat tekanan setelah drone menyerang pipa minyak East-West Arab Saudi pada Kamis pekan lalu. Serangan tersebut membuat Arab Saudi menghentikan sementara operasi pipa strategis tersebut.

Mengutip Al Jazeera, Selasa (15/9/2026), pipa sepanjang sekitar 1.200 kilometer ini mengangkut sekitar 4-5 juta barel minyak per hari (bpd). Jalurnya menghubungkan ladang minyak utama Arab Saudi di bagian timur dengan pelabuhan Yanbu di Laut Merah.

Keberadaan pipa ini memungkinkan Arab Saudi mengirim minyak tanpa melewati Selat Hormuz, salah satu jalur perdagangan energi terpenting dunia yang sebagian besar terganggu sejak perang Amerika Serikat-Israel dengan Iran pecah pada Februari.

Kementerian Energi Arab Saudi menyebut penghentian operasi sebagai langkah “precautionary” atau pencegahan setelah serangan menyebabkan kerusakan dan korban luka di wilayah Riyadh serta Madinah.

Gangguan ini terjadi ketika arus minyak melalui Selat Hormuz sudah menurun tajam dan serangan Houthi di sekitar Laut Merah serta Bab al-Mandeb meningkat.

Seberapa Parah Kerusakannya?

Gambar satelit yang disediakan oleh Vantor pada hari Minggu, 13 Sept 2026 ini menunjukkan dampak dari serangan drone terbaru di pipa East-West di Arab Saudi. (Gambar satelit ©2026 Vantor melalui AP)

Hingga kini, tingkat kerusakan pipa belum diketahui secara pasti. Perkiraan mengenai waktu yang dibutuhkan untuk memperbaikinya juga beragam.

Sumber yang mengetahui insiden tersebut mengatakan bahwa perbaikan dapat memakan waktu lima hingga enam pekan. Namun, sumber lainnya memperkirakan operasi bisa kembali lebih cepat.

Pejabat Arab Saudi menyebut drone menyerang pipa di dua lokasi di sekitar Riyadh dan Madinah. Kementerian Luar Negeri Arab Saudi mengatakan serangan tersebut menyebabkan korban luka dan kerusakan infrastruktur.

Menurut otoritas Saudi, drone yang digunakan dalam serangan tersebut dilacak berasal dari Provinsi Maysan, Irak bagian tenggara, yang berada dekat perbatasan Iran dan dikenal sebagai wilayah dengan keberadaan kelompok bersenjata yang memiliki hubungan dengan Iran.

Serangan ini terjadi setelah insiden pada Maret di dekat kilang Saudi Aramco-ExxonMobil di Yanbu. Saat itu, pengiriman minyak mentah dari pelabuhan Laut Merah sempat terganggu, tetapi kembali pulih dalam beberapa hari.

Apa Itu Pipa East-West?

Gambar satelit yang disediakan oleh Planet Labs PBC pada 27 Juli 2026 ini memperlihatkan asap membumbung dari fasilitas pengolahan minyak Saudi Aramco di Abqaiq, Arab Saudi, 2026. (Planet Labs PBC melalui AP, Arsip)

Pipa East-West, yang juga dikenal sebagai Petroline, merupakan jaringan pipa minyak sepanjang sekitar 1.200 kilometer yang dibangun pada 1981.

Pipa tersebut mengangkut minyak mentah dari ladang minyak Arab Saudi di bagian timur, termasuk wilayah sekitar Abqaiq, melintasi Semenanjung Arab menuju pelabuhan Yanbu di Laut Merah.

Jalur tersebut memungkinkan Arab Saudi melewati Selat Hormuz.

Pipa East-West memiliki kapasitas maksimum sekitar 7 juta barel per hari. Namun, aliran aktual dalam beberapa bulan terakhir lebih rendah.

Data Kpler menunjukkan aliran melalui pipa hanya sekitar 2 juta barel per hari pada Agustus, menjadi yang terendah sejak Januari. Salah satu penyebabnya adalah serangan Houthi yang membuat rute Laut Merah semakin sulit digunakan.

Selama lima bulan pertama konflik, Arab Saudi meningkatkan pengiriman minyak mentah ke wilayah barat hingga sekitar 4-5 juta barel per hari.

Jumlah tersebut setara sekitar 4-5% pasokan minyak global dan membantu Arab Saudi mempertahankan ekspor ketika kondisi pelayaran di Selat Hormuz memburuk.

Mengapa Pipa Ini Sangat Penting?

Sebuah kapal tanker berlabuh di Selat Hormuz di lepas pantai Pulau Qeshm, Iran, Sabtu, 18 April 2026. (AP Photo/Asghar Besharati)

Penutupan pipa East-West terjadi ketika kondisi pasar minyak global sedang sangat sensitif.

Sebelum perang, Selat Hormuz memasok lebih dari seperlima kebutuhan minyak dunia atau sekitar 20 juta barel per hari. Kini, menurut perkiraan industri yang dikutip Reuters, alirannya menyusut menjadi sekitar 6-9 juta barel per hari.

Arab Saudi kemudian mengalihkan lebih banyak minyak mentah menuju Laut Merah. Namun, keberhasilan strategi ini bergantung pada pipa, fasilitas penyimpanan, dan keamanan kapal tanker.

Jika pipa tetap ditutup, persediaan di Yanbu hanya cukup menopang ekspor sekitar 5-7 hari. Fasilitas Mesir di Ain Sukhna dan Sidi Kerir yang menyimpan minyak Saudi dapat memberikan tambahan pasokan selama beberapa hari.

Cadangan tersebut memberi sedikit ruang bagi Arab Saudi. Namun, persediaan minyak global juga terus menurun.

Badan Energi Internasional (IEA) menyebut pasokan minyak Saudi pada Agustus mencapai level terendah dalam lebih dari tiga dekade akibat gangguan di Hormuz dan Laut Merah.

Risiko Harga Minyak Tembus US$ 150

IEA memperkirakan pasokan minyak dunia akan turun sekitar 5,7 juta barel per hari tahun ini atau setara 6% pasokan global.

Sejauh ini, harga minyak masih tertahan oleh penggunaan persediaan dan pelepasan cadangan strategis. Harga minyak Brent dalam beberapa bulan terakhir bergerak di kisaran US$ 70-90 per barel.

Namun, semakin lama gangguan berlangsung, cadangan akan semakin terkuras dan tekanan terhadap harga minyak berpotensi meningkat.

Pada Juni, IEA memperingatkan penarikan cadangan secara berkelanjutan dapat mencapai level kritis. Jika persediaan turun ke tingkat yang sangat rendah, harga Brent berpotensi melonjak hingga US$ 150 per barel.

Risiko semakin besar jika kerusakan pipa ternyata parah dan serangan terus mengancam Yanbu serta jalur pelayaran di sekitarnya.

Gavekal Research memperingatkan jika Yanbu yang memiliki kapasitas pengolahan lebih dari 1 juta barel per hari harus berhenti beroperasi akibat ancaman drone Houthi, “this would be a disaster for the world at a time when global refining capacity is already critically tight.”

Artinya, kondisi tersebut akan menjadi bencana bagi dunia ketika kapasitas pengolahan minyak global sudah sangat terbatas.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya