Harga Minyak Dunia Melesat Setelah Arab Saudi Tutup Jalur Pipa Vital

Arab Saudi belum mengungkapkan seberapa besar kerusakan jalur pipa vital yang berkapasitas 7 juta barel setelah serangan drone.

oleh Agustina MelaniDiterbitkan 14 September 2026, 06:47 WIB
Seorang pekerja mengumpulkan oli mesin saat bekerja di stasiun degassing di ladang minyak Zubair, yang operasinya telah dikurangi karena perang Timur Tengah yang dipicu oleh serangan AS dan Israel terhadap Iran, dekat Basra, Irak, Sabtu, 28 Maret 2026. (AP Photo/Leo Correa)

Liputan6.com, Jakarta - Harga minyak mentah melonjak pada Minggu, 13 September 2026 waktu setempat setelah Arab Saudi menutup jalur pipa vital yang melintasi wilayah daratan untuk menghindari Selat Hormuz.

Mengutip CNBC, Senin, (14/9/2026), harga minyak West Texas Intermediate (WTI) naik 2,8% menjadi US$ 102,87 per barel pada pukul 18.27 waktu setempat (ET). Harga minyak Brent yang menjadi acuan internasional mendaki 3,1% menjadi US$ 107,87 per barel.

Serangan pesawat nirawak (drone) yang diluncurkan dari Irak merusak jalur pipa Timur-Barat pada Kamis, memaksa pemerintah Saudi menutup jalur utama distribusi minyak mentah tersebut. Pihak Riyadh belum mengungkapkan seberapa parah kerusakan pipa itu atau berapa lama penutupan akan berlangsung.

Pertemuan diplomatik antara Iran dan negara-negara Arab Teluk untuk membahas situasi di Hormuz, yang sedianya dijadwalkan berlangsung Senin di Oman, ditunda secara mendadak setelah terjadinya serangan terhadap jalur pipa tersebut.

"Demi mencapai konsensus, pertemuan regional yang dijadwalkan besok di Salalah telah ditunda," ujar Menteri Luar Negeri Oman, Badr Albusaidi, dalam sebuah unggahan media sosial pada Minggu.

"Kami tetap berkomitmen untuk mendorong dialog yang mendukung stabilitas dan kerja sama jangka panjang di kawasan kami,” ia menambahkan.

Situasi keamanan di Hormuz masih rawan; sebuah kapal tanker lainnya diserang pada Minggu yang menyebabkan kebakaran hebat di atas kapal, menurut Pusat Operasi Perdagangan Maritim Inggris (UKMTO).

Jalur pipa Saudi, yang memiliki kapasitas angkut 7 juta barel per hari, telah memainkan peran kunci dalam meredakan gangguan pasokan minyak parah akibat konflik yang melibatkan Iran. Jalur ini membentang melintasi wilayah kerajaan dari Timur ke Barat, menghubungkan kawasan penghasil minyak di dekat Teluk Persia dengan terminal ekspor di pesisir Laut Merah.

 

Jalur Pipa Vital Arab Saudi

Situasi ini memicu lonjakan harga minyak di atas USD 100 per barel, serta mengancam stabilitas ekonomi dunia dan inflasi bahan bakar. Tampak dalam foto, para pekerja melakukan perawatan pipa di stasiun degasifikasi di ladang minyak Zubair, yang operasinya telah dikurangi karena perang Timur Tengah yang dipicu oleh serangan AS dan Israel terhadap Iran, dekat Basra, Irak, Sabtu, 28 Maret 2026. (AP Photo/Leo Correa)

Arab Saudi mengandalkan jalur pipa ini untuk mengalihkan ekspor minyak mentah agar tidak bergantung pada jalur Teluk di tengah perebutan kendali atas Selat Hormuz antara Iran dan AS.

Jalur pipa ini memainkan peran yang lebih penting dalam menstabilkan pasar minyak dibandingkan pelepasan besar-besaran cadangan strategis yang dipimpin oleh Amerika Serikat, demikian disampaikan CEO Saudi Aramco, Amin Nasser, dalam panggilan konferensi laporan keuangan perusahaan Agustus.

Arab Saudi menghadapi peningkatan serangan dari kelompok militan yang bersekutu dengan Iran dalam beberapa hari terakhir. Militan Houthi di Yaman menyerang fasilitas energi dan aset sipil lainnya di wilayah kerajaan tersebut pada awal pekan lalu, yang mengakibatkan lebih dari 70 orang terluka, menurut laporan media pemerintah Saudi.

Kelompok Houthi dilaporkan telah menguasai Pulau Perim yang strategis di Selat Bab el-Mandeb setelah merebut kota pelabuhan Mokha di pesisir barat Yaman. Kemajuan ini akan memberikan posisi yang lebih kuat bagi kelompok militan tersebut untuk mengganggu arus minyak melalui Bab el-Mandeb, yang menghubungkan bagian selatan Laut Merah dengan pasar global. Kelompok Houthi telah menyatakan embargo maritim terhadap Arab Saudi pada Juli.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya