Di KTT BRICS, Prabowo Tawarkan Industrialisasi Bersama

Presiden Prabowo mengajak negara BRICS melakukan industrialisasi bersama dengan mengoptimalkan sumber daya, teknologi, dan rantai pasok global.

oleh Immanuel ChristianDiterbitkan 13 September 2026, 22:15 WIB
Presiden Prabowo Subianto saat menghadiri sesi pertemuan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) BRICS 2026 (Sekretariat Presiden)

Liputan6.com, Jakarta - Indonesia mendorong negara-negara BRICS menjadikan sumber daya, kapasitas produksi, teknologi, dan pasar bersama sebagai basis industrialisasi kolektif. Kerja sama tersebut dinilai mampu meningkatkan investasi, memperkuat industri, menciptakan lapangan kerja, serta mendongkrak nilai ekonomi bagi seluruh negara anggota.

Indonesia menilai BRICS memiliki modal sumber daya melimpah yang dapat menjadi fondasi pengembangan industri masa depan. Sumber daya tersebut mencakup mineral kritis, logam tanah jarang (rare earth), energi, hingga sumber daya terbarukan untuk mendukung teknologi bersih dan teknologi tinggi.

Presiden Prabowo Subianto menyatakan bahwa negara-negara anggota BRICS memiliki kombinasi sumber daya, kapasitas produksi, kemampuan teknologi, serta pasar yang sangat besar. Kekuatan raksasa ini dapat disinergikan untuk menghadapi tantangan sekaligus menciptakan peluang ekonomi baru.

“Karena itu, izinkan saya menawarkan sesuatu yang konkret. Mari kita melakukan industrialisasi bersama dan mengoptimalkan sumber daya serta kapasitas yang kita miliki bersama,” ujar Prabowo dalam pertemuan BRICS, Minggu (13/9/2026).

Ia menjelaskan bahwa industrialisasi bersama ini bakal membuka kran investasi yang lebih besar serta memperkuat struktur industri negara anggota. Penguatan sektor industri tersebut diyakini dapat menyerap lebih banyak tenaga kerja dan memperluas peluang ekonomi bagi masyarakat.

Ekosistem Rantai Pasok BRICS

Presiden Prabowo Subianto saat menghadiri sesi pertemuan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) BRICS 2026 (Sekretariat Presiden)

Sebagai bukti nyata peningkatan kapasitas produksi, Indonesia menjadikan sektor pangan sebagai contoh transformasi. Presiden mengungkapkan bahwa Indonesia yang selama bertahun-tahun menjadi salah satu importir terbesar biji-bijian, beras, dan jagung, kini telah berhasil mentransformasi diri menjadi eksportir.

Perubahan tersebut menunjukkan bahwa peningkatan kapasitas produksi terbukti mampu memperkuat ketahanan ekonomi nasional. Selain itu, Indonesia juga menilai pengembangan ekonomi hijau sebagai peluang strategis untuk memperkuat posisi negara dalam rantai nilai global (global value chain).

Prabowo menambahkan bahwa BRICS sebenarnya telah memiliki ekosistem rantai pasok yang solid. Tugas para negara anggota saat ini adalah mengoneksikan dan mengoptimalkannya agar menghasilkan nilai tambah ekonomi yang jauh lebih besar.

“BRICS sudah menjadi rantai pasok. Tugas kita adalah menghubungkan dan mengoptimalkannya agar kekuatan yang sudah ada ini dapat menjadi sumber nilai yang lebih besar bagi kita semua,” kata Prabowo.

Ia menegaskan kembali bahwa integrasi sumber daya dan kapasitas antarnegara anggota akan mendorong iklim investasi, mengokohkan industri, dan menciptakan lapangan kerja, sehingga pertumbuhan ekonomi dapat dirasakan langsung oleh masyarakat luas.

“Bersama-sama, kita dapat mengubah berbagai tantangan yang saling berkaitan menjadi peluang untuk meningkatkan investasi, memperkuat industri, serta menciptakan lebih banyak lapangan kerja dan peluang yang lebih baik bagi rakyat kita,” tutur Prabowo.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya