Liputan6.com, Jakarta - Melihat bahu jalan tol yang kosong ketika arus utama sedang padat dan kendaraan bergerak merayap memang bisa menggoda pengemudi untuk berpindah lajur. Namun, menggunakan bahu jalan sebagai jalur alternatif untuk menyalip kemacetan merupakan tindakan yang keliru dan berisiko membahayakan keselamatan.
Bahu jalan tol memiliki fungsi khusus dan bukan diperuntukkan bagi kendaraan yang ingin menghindari antrean. Memahami aturan serta fungsi sebenarnya dari bahu jalan menjadi hal penting, terutama bagi pengemudi yang melakukan perjalanan jauh melalui jalan tol.
Advertisement
Berdasarkan informasi yang dilansir dari laman Daihatsu, Rabu (16/9/2026), bahu jalan tol pada dasarnya disediakan untuk kondisi darurat. Ketentuan tersebut merujuk pada Peraturan Pemerintah Nomor 15 Tahun 2005 tentang Jalan Tol, khususnya Pasal 41 ayat 2.
Bahu jalan dapat digunakan kendaraan yang mengalami kondisi darurat, seperti kerusakan kendaraan atau keadaan medis.
Area tersebut juga menjadi akses bagi kendaraan operasional dan layanan darurat, seperti ambulans, mobil patroli kepolisian, serta kendaraan penanganan teknis jalan tol.
Karena fungsi tersebut, bahu jalan tidak semestinya digunakan untuk mendahului kendaraan, berhenti untuk beristirahat, maupun melakukan aktivitas lain yang tidak berkaitan dengan kondisi darurat.
Ada sejumlah alasan keselamatan yang membuat penggunaan bahu jalan tol untuk menyalip dilarang.
1. Risiko Tabrak Belakang Tinggi
Bahu jalan berada tepat di sisi lajur utama yang dilalui kendaraan dengan kecepatan tinggi. Ketika kendaraan pribadi melaju di bahu jalan atau berhenti tanpa kondisi darurat, risiko terjadinya tabrakan dapat meningkat.
Perbedaan kecepatan antara kendaraan di lajur utama dan kendaraan yang berada di bahu jalan juga membuat manuver tersebut berbahaya.
Pengemudi yang berpindah ke bahu jalan maupun kembali ke lajur utama berpotensi mengejutkan pengguna jalan lainnya.
Kecelakaan di ruas Tol Cipali KM 177+200 menjadi salah satu contoh yang dikaitkan dengan manuver menyalip melalui bahu jalan.
2. Menghambat Jalur Evakuasi
Bahu jalan juga memiliki fungsi penting sebagai ruang bagi kendaraan darurat. Ketika kendaraan pribadi menggunakan area tersebut secara bebas, akses ambulans, mobil pemadam kebakaran, patroli, maupun kendaraan penanganan kecelakaan dapat terganggu.
Dalam situasi darurat, terhambatnya akses tersebut dapat memperlambat proses pertolongan dan evakuasi.
3. Bisa Memicu Kemacetan Baru
Menggunakan bahu jalan untuk melewati antrean tidak selalu membuat perjalanan menjadi lebih cepat.
Ketika kendaraan dari bahu jalan kembali masuk ke lajur utama, terjadi penyempitan arus atau bottle neck.
Manuver tersebut dapat mengganggu kelancaran kendaraan yang sudah berada di lajur utama dan pada akhirnya justru menambah kepadatan lalu lintas.
4. Ada Sanksi Hukum
Penggunaan bahu jalan secara tidak semestinya juga dapat berujung pada sanksi.
Berdasarkan materi yang mengacu pada Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, Pasal 287 ayat 1, pelanggar dapat dikenai pidana kurungan maksimal dua bulan atau denda paling banyak Rp 500.000.
Artinya, bahu jalan tol bukan sekadar area kosong di sisi lajur utama yang dapat digunakan ketika lalu lintas sedang macet.
Apa yang Harus Dilakukan Saat Mobil Mogok di Tol?
Berbeda dengan penggunaan bahu jalan untuk menyalip, kendaraan yang mengalami kerusakan atau kondisi darurat memang dapat menepi ke area tersebut. Namun, pengemudi tetap perlu melakukan langkah keselamatan.
Berikut beberapa hal yang perlu dilakukan:
- Segera nyalakan lampu hazard setelah kendaraan berhenti di posisi yang aman di bahu jalan
- Pasang segitiga pengaman di belakang kendaraan dengan jarak yang memadai, sekitar 10–15 meter, agar lebih mudah terlihat oleh pengemudi dari belakang
- Hubungi call center pengelola jalan tol atau layanan derek resmi untuk meminta bantuan evakuasi
- Jika kondisi memungkinkan, pengemudi dan penumpang sebaiknya berada di area yang lebih aman di luar pembatas jalan atau guardrail
- Jangan menggunakan bahu jalan untuk beristirahat. Jika hanya ingin melepas lelah, lanjutkan perjalanan menuju rest area terdekat apabila kondisi kendaraan memungkinkan.
Cek Kondisi Mobil Sebelum Perjalanan Jauh
Menjaga kelayakan kendaraan secara berkala merupakan salah satu cara untuk mengurangi risiko mogok secara tiba-tiba di jalan tol. Kondisi kendaraan yang prima juga menjadi bagian penting dari keselamatan saat melakukan perjalanan jauh.
Sebelum menempuh perjalanan antarkota atau antarprovinsi, pengemudi sebaiknya memastikan berbagai komponen kendaraan dalam kondisi baik.
Pemeriksaan dapat mencakup kondisi ban, sistem pengereman, oli, sistem pendinginan, kelistrikan, hingga komponen penggerak kendaraan.
Sistem transmisi dan komponen penggerak juga tidak kalah penting untuk diperiksa, terutama apabila mobil akan digunakan dalam perjalanan dengan jarak tempuh panjang.
Pada akhirnya, bahu jalan tol bukanlah jalur tambahan untuk menghindari kemacetan. Area tersebut disediakan terutama untuk kondisi darurat dan kebutuhan operasional tertentu.
Menahan diri untuk tidak menyalip melalui bahu jalan bukan hanya soal menghindari sanksi, tetapi juga bagian dari upaya menjaga keselamatan diri sendiri dan pengguna jalan lainnya.