Jejak Konsumsi Obat Tertua di Dunia Ditemukan di Sulawesi, Berusia 25.000 Tahun

Bukti tertua di dunia mengenai konsumsi obat tidak ditemukan di benua Eropa atau Amerika, melainkan di Indonesia, tepatnya di Pulau Sulawesi.

oleh IskandarDiterbitkan 14 September 2026, 16:00 WIB
Buah pinang (sumber: Pixabay)

Liputan6.com, Jakarta - Praktik penggunaan zat psikoaktif atau obat-obatan oleh manusia ternyata memiliki sejarah yang jauh lebih panjang dari perkiraan sebelumnya. Menariknya, bukti tertua di dunia mengenai kebiasaan ini tidak ditemukan di benua Eropa atau Amerika, melainkan di Indonesia, tepatnya di Pulau Sulawesi.

Para peneliti menemukan bahwa pemburu dan peramu pada Zaman Es di Sulawesi sudah memiliki kebiasaan mengulum biji pinang (Areca catechu) secara rutin.

Mengutip Live Science, Senin (14/9/2026), biji pinang mengandung zat neuroaktif yang memberikan efek mati rasa pada area mulut.

Temuan ini dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Science Advances. Tim ilmuwan mengungkap bukti tersebut setelah menganalisis cerukan unik pada gigi dua kerangka manusia purba yang ditemukan di Sulawesi.

Kedua kerangka tersebut berasal dari rentang waktu yang jauh berbeda. Kerangka pertama adalah seorang pria berusia 40 hingga 50 tahun yang hidup antara 25.000 hingga 16.000 tahun lalu, bertepatan dengan puncak Zaman Es.

Kerangka kedua, yang belum diketahui jenis kelaminnya namun memiliki perkiraan usia kematian yang sama, hidup sekitar 7.600 hingga 6.300 tahun lalu.

Alur yang cukup dalam pada gigi kedua individu ini diduga kuat terbentuk akibat kebiasaan mengulum biji pinang secara terus-menerus. Motivasi utamanya diduga untuk meredakan rasa sakit akibat gigi berlubang atau kerusakan gigi yang parah.

Biji pinang mengandung senyawa neuroaktif bernama arekolin (arecoline). Pada era modern, masyarakat mencampur pinang dengan kapur sirih (slaked lime) untuk mendapatkan efek stimulan yang kuat.

Namun, manusia purba Sulawesi kala itu mengulum biji pinang secara langsung tanpa campuran, yang memberikan efek anastesi atau mati rasa lokal di mulut.

 

'Lingkaran Setan' Pereda Nyeri

Meski bertujuan mengurangi rasa sakit, kebiasaan mengulum pinang justru memperburuk kondisi gigi mereka dalam jangka panjang.

Adam Brumm, arkeolog dari Griffith University, Australia, yang memimpin studi ini, menjelaskan bahwa semakin sering mereka mengulum pinang untuk meredakan sakit gigi, kian parah pula kerusakan struktur gigi yang terjadi.

Gesekan berulang membuat alur pada gigi semakin parah hingga menembus rongga pulpa bagian dalam. Hal ini diperkirakan justru memicu rasa sakit yang amat sangat.

Sebelumnya, studi pada 2017 menunjukkan manusia purba Neanderthal pernah menggunakan kulit kayu pohon Populus sebagai pereda nyeri. Namun, temuan di Sulawesi ini menjadi bukti paling awal mengenai penggunaan zat obat-obatan dari tumbuhan yang dilakukan secara rutin.

 

Evolusi Budaya Menyirih

Tradisi menyirih yang kita kenal saat ini--mengunyah pinang yang dicampur kapur sirih--diperkirakan baru berkembang pada era Neolitikum sekitar 4.000 tahun lalu di Sulawesi.

Kala itu, manusia purba mulai mengenal kapur sirih yang digunakan dalam pembuatan tembikar agar tidak retak saat dibakar.

Para ilmuwan meyakini tradisi menyirih modern merupakan evolusi dari kebiasaan yang jauh lebih sederhana dan purba, yaitu sekadar mengulum biji pinang utuh.

Saat ini, kebiasaan menyirih diperkirakan masih dilakukan oleh sekitar 600 juta orang di seluruh dunia, khususnya di Asia Selatan dan Oseania.

 

Mengubah Sudut Pandang Sejarah

Temuan ini sekaligus menjawab perdebatan panjang di kalangan arkeolog mengenai apakah manusia mulai menggunakan tanaman neuroaktif sebelum atau sesudah ditemukannya sistem pertanian.

Manusia purba di Sulawesi terbukti sudah mengonsumsi zat psikoaktif ribuan tahun sebelum berkembangnya era pertanian (Neolitikum), baik di Indonesia maupun di kawasan Fertile Crescent (Bulan Sabit Subur) di Asia Barat yang baru memulai pertanian sekitar 12.500 tahun lalu.

Elisa Guerra Doce, pakar arkeologi prasejarah dari University of Valladolid, Spanyol, menilai studi ini memberikan bukti langsung yang sangat kuat mengenai sejarah penggunaan obat-obatan pada manusia.

Temuan tersebut juga menegaskan bagaimana masyarakat prasejarah di Sulawesi mampu mengeksplorasi alam sekitar, memanfaatkan sumber daya medis, hingga akhirnya membentuk tradisi sosial dan budaya yang bertahan selama puluhan ribu tahun.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya