Edward Rukidi, Jurnalis yang Terpilih Jadi Raja di Uganda

Jurnalis Edward Rukidi terpilih sebagai raja baru Kerajaan Tooro di Uganda, menggantikan Raja Oyo Rukidi IV yang wafat.

oleh Septian DenyDiterbitkan 13 September 2026, 16:00 WIB
Jurnalis Edward Rukidi terpilih sebagai raja baru Kerajaan Tooro di Uganda, menggantikan Raja Oyo Rukidi IV yang wafat. (Sumber: @ubctvuganda dan @favour_fm_104.1_gulu)

Liputan6.com, Kampala - Kerajaan Tooro di Uganda memasuki babak baru setelah dewan kerajaan menunjuk jurnalis Edward Rukidi Kijanangoma Kamurasi sebagai calon raja berikutnya, menyusul wafatnya Raja Oyo Rukidi IV.

Dikutip dari Anadolu, Minggu (13/9/2026), pengumuman tersebut disampaikan Kepala Dewan Kerajaan Tooro, Omujwera Musuuga Charles Kayondo Kamurasi, pada Sabtu. Ia mengumumkannya di hadapan para pelayat yang berkumpul untuk memberikan penghormatan terakhir kepada Raja Oyo.

Raja Oyo meninggal dunia pada usia 34 tahun pada 27 Agustus di Amerika Serikat, tempat ia menjalani perawatan kanker.

Musuuga yang juga merupakan pemimpin klan kerajaan Babiito, garis keturunan para raja Tooro, mengatakan keputusan tersebut diambil melalui mekanisme yang sesuai dengan hukum Uganda sekaligus mempertimbangkan adat dan norma Kerajaan Tooro.

“Saya ingin menginformasikan kepada Tooro dan Uganda secara keseluruhan bahwa Tooro memiliki raja baru. Dewan Babiito telah bersidang dan memilih Edward Rukidi. Apa yang telah kami lakukan sesuai dengan hukum Uganda, dan kami telah mempertimbangkan budaya serta norma Tooro. Mari kita semua menjaga persatuan dan selalu mengingat budaya kita,” kata Musuuga.

Namun, pengumuman tersebut langsung memunculkan reaksi beragam dari para pelayat. Penunjukan Edward menandai munculnya perselisihan sengit mengenai siapa yang berhak meneruskan takhta Kerajaan Tooro.

Keluarga Raja Oyo Tolak Keputusan Dewan Klan

Keluarga inti Raja Oyo, terutama ibunya, Ratu Best Kemigisa, dan saudara perempuannya, Putri Ruth Komuntale, sebelumnya secara terbuka menolak keputusan dewan klan.

Mereka bersikeras bahwa Raja Oyo meninggalkan wasiat yang menyatakan putranya yang selama ini tidak diketahui keberadaannya sebagai penerus takhta.

Namun, para pemimpin klan menyatakan seorang anak kerajaan harus diperkenalkan secara resmi kepada para tetua terlebih dahulu agar dapat dipertimbangkan sebagai calon pemimpin.

Persoalan tersebut menjadi semakin rumit karena Raja Oyo meninggal dalam kondisi belum menikah. Tidak ada anak yang diketahui oleh anggota klan maupun masyarakat luas.

Kondisi itu kemudian memicu krisis suksesi dengan cepat di Kerajaan Tooro.

Raja Oyo merupakan raja ke-13 Kerajaan Tooro, yang didirikan lebih dari 200 tahun lalu dan menaungi lebih dari dua juta orang.

Jenazah Raja Oyo dimakamkan di Makam Kerajaan Karambi, Kota Fort Portal, Uganda bagian barat, pada Sabtu.

 

Naik Takhta Sejak Usia 3 Tahun

Raja Oyo Nyimba Kabamba Iguru Rukidi IV dari Kerajaan Tooro, Uganda. (Dok. AP Photo/Marc Hofer)

Raja Oyo memiliki kisah yang tidak biasa sejak awal pemerintahannya. Ia dinobatkan sebagai raja ketika baru berusia 3 tahun pada 1995 setelah ayahnya meninggal dunia.

Ia kemudian tercatat dalam Guinness World Records sebagai raja berkuasa termuda di dunia.

Karena masih terlalu muda untuk memimpin, Oyo menjalankan kerajaan melalui para wali yang ditunjuk hingga dirinya mencapai usia 18 tahun.

Statusnya sebagai “raja cilik” modern membuat Oyo mendapat perhatian luas pada awal pemerintahannya. Salah satu tokoh dunia yang memiliki hubungan dengan Kerajaan Tooro adalah mantan pemimpin Libya, Moammar Gadhafi.

Gadhafi beberapa kali mengunjungi Tooro dan selama bertahun-tahun memberikan dukungan kepada Oyo serta ibunya, sang ibu suri, sebelum Gadhafi meninggal pada Oktober 2011.

Oyo kemudian menghabiskan waktu di Inggris untuk menyelesaikan pendidikannya di Winchester University.

Kepergiannya dari Uganda sempat memicu tantangan terhadap kedudukannya. Pada 2015, sepupunya, Pangeran David Kijanangoma, menyatakan dirinya sebagai raja Tooro yang sah dan menuduh Oyo mengabaikan wilayah tersebut. Namun, upaya tersebut gagal.

Kerajaan Tradisional Tetap Bertahan di Uganda

Uganda merupakan negara republik yang dipimpin presiden hasil pemilihan umum. Meski demikian, sejumlah kerajaan tradisional masih dipertahankan dan menjalankan peran dalam wilayah kerajaan masing-masing.

Kekuasaan para raja tersebut sebagian besar bersifat simbolis. Namun, mereka memiliki pengaruh besar dalam bidang budaya dan sosial.

Secara hukum, para raja tradisional tidak diperbolehkan terlibat dalam politik partisan dan tidak memiliki kewenangan politik.

Kini, Kerajaan Tooro kembali menghadapi ujian besar setelah kematian Raja Oyo. Penunjukan Edward Rukidi oleh dewan klan berhadapan dengan klaim keluarga mendiang raja mengenai keberadaan penerus lain yang disebut tercantum dalam wasiat Oyo.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya