IHSG Rontok 1,49% ke 6.490, Analis Ungkap Penyebabnya

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) meninggalkan posisi 6.500 pada sesi pertama perdagangan saham Jumat, (11/9/2026).

oleh Agustina MelaniDiterbitkan 11 September 2026, 14:20 WIB
Pekerja tengah melintas di bawah layar Indeks harga saham gabungan (IHSG) di BEI. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta - Laju Indeks Harga Harga Saham Gabungan (IHSG) masih betah di zona merah hingga penutupan perdagangan saham sesi pertama, Jumat, (11/9/2026). Tekanan IHSG hari ini di tengah mayoritas sektor saham tertekan.

Mengutip data RTI, IHSG ditutup turun 1,49% ke 6.490,91 pada sesi pertama. Indeks saham LQ45 terpangkas 1,43% menjadi 646,61. Seluruh indeks saham acuan tertekan.

Analis PT MNC Sekuritas, Herditya Wicaksono menuturkan, koreksi IHSG terjadi didorong sentimen eksternal dan internal. Dari internal, rupiah kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat ke 17.600.

Selain itu, ketegangan geopolitik menyebabkan harga minyak naik ke atas US$ 100 per barel dan berpotensi meningkatkan tekanan fiskal.

Dari sentimen eksternal, ia menuturkan, investor merespons data Producer Price Index (PPI) Amerika Serikat yang naik 0,4% MoM sesuai konsensus. Ia menambahkan, tekanan utama berasal dari energi, dengan final-demand energy 4,2% MoM. Fokus pasar kini beralih ke rilis inflasi US malam ini waktu setempat.

“Meski core inflation melunak, probabilitas rate hike The Fed meningkat ke level 72% mengingat inflasi headline masih tinggi dan pasar tenaga kerja belum cukup melemah. UST 10 tahun naik ke 4,95%, mencerminkan kekhawatiran inflasi akibat minyak dan higher-for-longer,” kata dia saat dihubungi Liputan6.com.

Pada sesi pertama, IHSG berada di level tertinggi 6.552,79 dan terendah 6.462,96. Sebanyak 521 saham melemah sehingga bebani IHSG. 133 saham menguat dan 131 saham diam di tempat.

 

 

Sektor Saham

Karyawan beraktivitas di PT Bursa Efek Indonesia, Jakarta (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Total frekuensi perdagangan saham 1.236.971 kali dengan volume perdagangan saham 20,2 miliar saham. Nilai transaksi harian saham Rp 8,5 triliun. Seluruh sektor saham tertekan. Sektor saham transportasi memimpin koreksi. Sektor saham transportasi susut 2,12%. Sektor saham energi turun 1,68%, sektor saham basic melemah 1,62%, sektor saham industri terpangkas 1,18%, sektor saham consumer nonsiklikal tergelincir 1,23%.

Lalu sektor saham consumer siklikal susut 1,88%, sektor saham kesehatan melemah 1,18%, sektor saham keuangan turun 1,37%, sektor saham properti susut 1,01%, sektor saham teknologi melemah 0,65% dan sektor saham infrastruktur turun 1,77%.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya