Liputan6.com, Jakarta - Permintaan batu bara global diprediksi cenderung menyusut dalam lima tahun ke depan, seiring semakin kuatnya penggunaan energi terbarukan. Namun, peluang permintaan masih terbuka dari India dan Asia Tenggara, terutama di 2027.
China dan India juga diperkirakan masih akan menjadi pasar utama ekspor batu bara Indonesia. Ini diungkapkan Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara Kementerian Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Tri Winarno.
Advertisement
“Pasar global dalam lima tahun ke depan diperkirakan cenderung mengalami penurunan tipis, di mana tekanan energi terbarukan menjadi semakin kuat, sementara India dan kawasan Asia masih memberikan ruang untuk pertumbuhan,” kata Tri melansir Antara di Jakarta, Jumat (11/9/2026).
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan ekspor batu bara Indonesia pada 2025 mencapai 390,93 juta ton, turun dibandingkan volume ekspor pada 2024 yang sebesar 405,76 juta ton.
Nilai ekspor batu bara pada 2025 turun 19,70% secara tahunan menjadi US$ 24,48 miliar dari sebelumnya US$ 30,49 miliar. Dari total volume ekspor tersebut, pengiriman batu bara ke India mencapai 100,24 juta ton, China 81,79 juta ton, Filipina 37,70 juta ton, Korea Selatan 28,29 juta ton, dan Jepang 27,17 juta ton.
Dari sisi nilai, ekspor batu bara ke India mencapai US$ 4,97 miliar, China US$ 4,58 miliar, Jepang US$ 2,86 miliar, Filipina US$ 2,20 miliar, dan Korea Selatan US$ 1,84 miliar.
Adapun total produksi batu bara nasional pada 2025 mencapai 817,48 juta ton. Sebanyak 63,89% produksi dialokasikan untuk ekspor, 30,2% untuk kebutuhan domestik, dan 5,9% menjadi stok.
Seimbangkan Produksi dan Kebutuhan Pasar
Dengan prospek permintaan global tersebut, Tri mengatakan pemerintah tidak lagi semata-mata mengejar volume produksi, tetapi menyeimbangkan produksi dan kebutuhan pasar.
Pendekatan tersebut mempertimbangkan kewajiban pemenuhan pasar domestik (domestic market obligation/DMO), kondisi harga, logistik, serta keberlanjutan cadangan.
Pemerintah juga menetapkan target produksi batu bara nasional melalui Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026 sekitar 600 juta ton, lebih rendah dibandingkan realisasi produksi 2025 yang mencapai 817,48 juta ton.
Tri menambahkan perubahan kondisi pasar global ke depan juga akan mendorong produsen batu bara untuk meningkatkan efisiensi dan menekan biaya produksi, sekaligus memperkuat penerapan aspek lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG).
Selain itu, hilirisasi juga diperlukan untuk meningkatkan nilai tambah batu bara dan memperpanjang rantai nilai komoditas tersebut di dalam negeri.