BTN Targetkan Bayar Dividen 20% dari Laba Bersih

Direktur Utama BTN, Nixon L.P Napitupulu menuturkan, besaran kebijakan dividen tergantung pada saat Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS).

oleh Arief Rahman HDiterbitkan 10 September 2026, 20:15 WIB
Gedung kantor Bank BTN. (dok: BTN)

Liputan6.com, Jakarta - Direktur Utama PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN), Nixon L.P Napitupulu menargetkan pembagian dividen sebesar 20% dari laba bersih. Namun, keputusan finalnya tetap ada di pemegang saham.

Nixon menerangkan, angka tersebut seperti yang telah tercantum dalam Rencana Bisnis Bank (RBB) BTN. Sejauh ini, dia masih berpegang pada kisaran angka tersebut dan belum mengungkap angka baru.

"Sekarang di RBB kita di 2026 memang kita tulis 20-25%. Jadi kita masih konsisten dengan angka yang ditulis RBB," kata Nixon dalam Public Expose Live 2026, Kamis (10/9/2026).

Asal tahu saja, BTN telah mengantongi laba bersih secara konsolidasi sebesar Rp 2,4 triliun pada semester-I 2026. Angka itu lebih tinggi 40,8% dari periode yang sama tahun lalu (year on year).

Nixon menegaskan, kebijakan dividen akan diputuskan dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) perseroan. "Tapi sekali lagi nanti ini bergantung pada saat RUPS diumumkan. Karena memang dividen itu games-nya, pemegang saham ya," ujar dia.

Nixon juga mengungkap belum ada rencana pembayaran dividen interim tahun buku 2026. "Memang kalau kita lihat sampai 5 tahun kebelakang BTN belum pernah membayarkan dividen interim, dan sampai hari ini kita belum merencanakan adanya dividen interim," tuturnya.

Bidik Porsi Kredit 30 Persen Non Perumahan

Sebelumnya, PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) tengah mempercepat perluasan bisnis di luar sektor perumahan. Targetnya kredit di luar sektor perumahan bisa memiliki porsi 30% dalam empat tahun ke depan.

Direktur Utama BTN, Nixon L.P Napitupulu mengatakan Perseroan menargetkan porsi kredit non-perumahan mencapai sekitar 30% dari total kredit pada 2030. Adapun, posisi per Juni 2026 di angka 20,4% dan 18,0% pada akhir 2025. Sektor non perumahan seperti furnitur hingga kendaraan jadi sasaran untuk diperluas.

"Porsi non-house akan kita perbesar terutama sekali melihat yang risikonya lebih kecil dan marginnya lebih baik," kata Nixon dalam Public Expose Live 2026, Kamis, 10 September 2026.

 

Tak Tinggalkan Sektor Inti

Nasabah melakukan transaksi di ATM Bank BTN, Jakarta. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Menurut dia, pengembangan bisnis non-perumahan bukan berarti BTN meninggalkan kompetensi utamanya di sektor perumahan. Sebaliknya, strategi tersebut diarahkan untuk memperkuat model bisnis BTN dengan membangun sumber-sumber pertumbuhan baru yang masih memiliki keterkaitan dengan basis nasabah dan ekosistem Perseroan.

"BTN tetap menjadi bank yang fokus pada sektor perumahan. Namun, kebutuhan nasabah tidak berhenti ketika mereka memiliki rumah. Melalui Beyond Mortgage, kami ingin hadir lebih luas dalam kebutuhan finansial nasabah sekaligus masuk ke ekosistem-ekosistem baru yang memiliki potensi bisnis besar,” jelas dia.

BTN mengembangkan pendekatan bisnis berbasis ekosistem dengan memperluas kemitraan di luar sektor perumahan. Hingga Juni 2026, BTN telah bekerja sama dengan 59 pemerintah daerah, 57 universitas, serta 26 rumah sakit di berbagai wilayah Indonesia.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya