Harga Sulfur Tinggi, Tantangan Vale Jelang Ekspansi HPAL

PT Vale Indonesia Tbk (INCO) dihadapkan dengan kenaikan harga sulfur menjelang pengembangan fasilitas pengolahan nikel baru berbasis HPAL.

oleh Thurfah Mahira AhnafDiterbitkan 10 September 2026, 18:15 WIB
Direksi PT Vale Indonesia Tbk (INCO) dalam Public Expose Live 2026, Kamis (10/9/2026).

Liputan6.com, Jakarta - PT Vale Indonesia Tbk (INCO) menghadapi kenaikan harga sulfur menjelang pengembangan sejumlah fasilitas pengolahan nikel menggunakan teknologi High Pressure Acid Leach (HPAL).

Presiden Direktur dan CEO PT Vale, Bernardus Irmanto, mengatakan harga asam sulfat dan elemental sulfur saat ini berada pada level tinggi. Meski sudah dimitigasi, kenaikan harga ini menjadi perhatian karena sulfur termasuk input penting dalam pengolahan HPAL.

“Memang pada saat ini, memang harga asam sulfat dan elemental sulfur sedang tinggi di pasar. Jadi ini menjadi salah satu input utama kalau kita bicara asam sulfat untuk pabrik HPAL,” ujarnya pada Public Expose Live 2026, Kamis (10/9/2026).

Soal fasilitas nikel matte di Sorowako, manajemen menyebut dampak kenaikan harga sulfur pada 2026 belum signifikan karena perusahaan telah melakukan mitigasi sejak awal tahun. PT Vale memiliki persediaan kebutuhan yang dinilai cukup hingga kuartal III 2026.

"Kita sudah melakukan mitigasi yang cukup pada saat awal tahun 2026, jadi kita mempunyai stok yang cukup sampai dengan kuartal 3 tahun ini,” kata Bernardus.

Namun, perusahaan tetap mengantisipasi potensi dampak pada kuartal IV 2026 dan ke depan. Ia mengungkap, “Kalaupun terdampak itu di kuartal keempat dan kemudian kita harus antisipasi juga di tahun 2027.”

Di sisi lain, sejumlah proyek HPAL PT Vale masih dibangun dan dipersiapkan menuju operasi.

Sebelumnya, perusahaan menargetkan proyek-proyek tersebut menjadi diversifikasi produk nikel PT Vale, yang dinilai penting dalam menghadapi dinamika harga dan pasokan nikel jangka pendek, sekaligus menjaga prospek bisnis jangka menengah dan panjang.

Produksi Nikel INCO Sentuh 29.773 Ton hingga Semester I 2026

PT Vale Indonesia Tbk (INCO) (Foto: tangkapan layar/laman Vale Indonesia)

Sebelumnya, PT Vale Indonesia Tbk (INCO) mencatat produksi nikel dalam matte melonjak hingga semester I 2026. Perseroan menilai didukung disiplin dalam pelaksanaan operasional serta keberlanjutan peningkatan kapasitas operasi penambangan, perseroan tetap berada pada posisi yang baik untuk menciptakan nilai berkelanjutan di tengah dinamika pasar yang terus berlangsung.

Mengutip keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), ditulis Kamis, (30/7/2026), PT Vale Indonesia Tbk memproduksi 16.153 metrik ton nikel dalam matte pada kuartal II 2026, naik 19% dibandingkan kuartal sebelumnya 13.260 ton.

Seiring hal itu, total produksi nikel matte pada semester pertama 2026 mencapai 29.773 ton. Pada periode sama tahun lalu, produksi nikel mencapai 35.584.

Perseroan mencatat kinerja operasional yang lebih kuat setelah selesainya proyek Pembangunan Kembali Tanur Listrik 3 pada Juni 2026, dengan tetap mempertahankan fokus yang tinggi pada keselamatan kerja dan keandalan operasional.

Perseroan tetap berada pada jalur yang tepat untuk mencapai target produksi tahunan, serta berada dalam posisi yang baik untuk memanfaatkan fundamental pasar nikel yang kondusif.

 

 

Perkuat Platform Pertumbuhan

Vale Indonesia (INCO) menghadirkan komponen utama autoclave, yang menjadi fase krusial dalam pembangunan fasilitas High Pressure Acid Leaching (HPAL) Sambalagi di Morowali, Sulawesi Tengah. (Foto: istimewa)

Selain produksi nikel dalam matte, PT Vale terus memperkuat platform pertumbuhannya melalui pengoperasian tiga hub pertambangan di Sorowako, Bahodopi, dan Pomalaa, yang menandai tonggak penting dalam transformasi Perseroan. Ekspansi strategis ini menghasilkan pertumbuhan yang signifikan pada volume produksi dan penjualan bijih nikel.

Pada kuartal kedua 2026, Blok Bahodopi membukukan penjualan bijih nikel saprolit sebesar 1,07 juta wet metric ton (wmt), meningkat dari 886 ribu wmt pada triwulan sebelumnya, sehingga total volume penjualan pada semester pertama mencapai 1,96 juta wmt.

Sementara itu, Blok Pomalaa mencatat peningkatan signifikan dalam penjualan bijih nikel menjadi 1,26 juta wmt pada kuartal kedua 2026, dibandingkan 89 ribu wmt pada kuartal pertama 2026, sehingga volume penjualan kumulatif pada semester pertama mencapai 1,35 juta wmt.

Kinerja kuat dari kedua proyek pertumbuhan tersebut menunjukkan keberhasilan peningkatan kapasitas operasi serta memperkuat strategi PT Vale untuk mendiversifikasi sumber pendapatannya dan membangun fondasi operasional yang lebih kokoh guna mendukung pertumbuhan jangka panjang.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya