GameStop Berpotensi Alami Rugi Rp 1,3 Triliun Terkait Aset Digital

GameStop mulai membangun posisi bitcoin pada kuartal pertama 2025.

oleh Agustina MelaniDiterbitkan 10 September 2026, 18:12 WIB
(Ilustrasi saham GameStop) Dok: Unsplash/Michael Fortsch

Liputan6.com, Jakarta - GameStop melaporkan laba operasional kuartal kedua tertinggi sepanjang masa US$ 160,2 juta atau Rp 2,80 triliun (asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah di kisaran 17.510) untuk periode 13 minggu yang berakhir 1 Agustus.  Selain itu, laporan kinerja perseroan juga menunjukkan kerugian sebesar US$ 75 juta atau Rp 1,31 triliun terkait aset digital dan piutang terkait.

Hal ini berbalik dari keuntungan US$ 28,6 juta atau Rp 500,91 miliar pada periode sama kuartal lalu. Kinerja keuangan itu berdasarkan laporan keuangan yang diserahkan kepada SECDemikian mengutip Yahoo Finance, Kamis, (10/9/2026).

Kerugian tersebut bersifat belum terealisasi (unrealized). GameStop tidak membeli atau menjual aset digital selama kuartal tersebut, dan laporan itu memasukkan kembali angka US$ 75 juta tersebut sebagai pos non-kas dalam laporan arus kas perusahaan.

Angka ini mencerminkan penurunan nilai pasar (mark-to-market) atas aset yang masih dimiliki perusahaan. Aset-aset tersebut, sekitar 4.709 BTC yang dijaminkan kepada Coinbase Credit untuk program opsi, menurut The Block, tercatat dalam neraca sebesar US$ 294,1 juta, turun dari US$ 528,6 juta pada akhir tahun fiskal sebelumnya.

GameStop mulai membangun posisi bitcoin-nya pada Maret 2025, saat perusahaan mengumumkan penawaran surat utang konversi (convertible note) senilai US$ 1,5 miliar yang dananya dapat digunakan untuk membeli bitcoin. Pendekatan ini meniru strategi pengelolaan kas perusahaan yang dipelopori oleh Strategy (sebelumnya MicroStrategy), yang memegang lebih dari 845.000 BTC.

 

Rekor Laba, Penurunan Penjualan

Ilustrasi Laporan Keuangan atau Laba Rugi. Foto: Freepik/ pch.vector

Laba operasional naik menjadi US$ 160,2 juta dari US$ 66,4 juta pada tahun sebelumnya seiring lonjakan margin kotor menjadi 43,7% dari 29,1%. Penjualan kategori barang koleksi (collectibles) tumbuh 57% secara tahunan menjadi US$ 356,3 juta dan kini mencakup 45,1% dari penjualan bersih, sementara beban SG&A (penjualan, umum, dan administrasi) turun menjadi US$ 187,1 juta dari US$ 218,8 juta akibat penutupan toko dan divestasi operasi GameStop di Prancis.

Penjualan bersih tetap turun 18,7% menjadi US$ 790,2 juta dari US$ 972,2 juta. Perusahaan mengaitkan penurunan tersebut terutama dengan peluncuran Nintendo Switch 2 pada tahun sebelumnya, serta rencana penutupan toko dan divestasi di Prancis. Laba bersih meningkat menjadi US$ 298,7 juta dari US$ 168,6 juta.

Angka ini terdongkrak oleh keuntungan sebesar US$ 166,3 juta dari aset derivatif dan keuntungan yang belum direalisasi sebesar US$ 72,1 juta dari investasi ekuitas GameStop di eBay, yang keduanya bukan berasal dari kegiatan operasional ritel inti.

GameStop kini menerbitkan opsi atas kepemilikan bitcoin-nya.Dokumen laporan menunjukkan bahwa perusahaan melakukan lebih dari sekadar menyimpan aset tersebut.

Berdasarkan rilis laporan keuangan, GameStop memperoleh dana sebesar US$ 18,2 juta dari penerbitan opsi atas aset digital pada semester pertama tahun fiskal dan mencatatkan keuntungan sebesar US$ 16,1 juta dari opsi-opsi tersebut pada kuartal kedua.

 

Disclaimer: Setiap keputusan investasi ada di tangan pembaca. Pelajari dan analisis sebelum membeli dan menjual Kripto. Liputan6.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan dan kerugian yang timbul dari keputusan investasi.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya