Meta Hadirkan Muse, Asisten AI Khusus Pengguna iPhone

Meta resmi merilis asisten AI untuk membantu pengguna iPhone menyelesaikan tugas-tugas mereka. Bagaimana dengan Mac?

oleh Aisyah Mustika ZamaniDiterbitkan 10 September 2026, 08:00 WIB
Anak muda Indonesia menjadi top kreator dunia untuk kampanye global Meta #BulanKebaikan. (Unsplash/MuhammadAsyfaul).

Liputan6.com, Jakarta - Meta meluncurkan aplikasi iPhone terbaru bernama Muse, yaitu asisten kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) personal untuk membantu menyelesaikan berbagai tugas pengguna.

Langkah ini mengikuti tren di kalangan perusahaan AI yang menciptakan karakter dengan kepribadian tertentu, serupa Grok Bot.

Dilansir 9to5Mac, Kamis (10/9/2026), karakter tersebut dirancang menyerupai obrolan agar agen AI terasa lebih akrab dan personal bagi pengguna.

Selain di iPhone, Muse juga tersedia di Mac melalui situs web muse.ai. Menariknya, sistem ini memungkinkan pengguna mengubah nama dan avatar agen AI sesuai selera.

Dari sisi aksesibilitas, Muse dapat digunakan secara gratis dengan batasan mingguan tertentu. Sementara pengguna berbayar akan memiliki akses lebih luas.

Saat ini, aplikasi Muse baru tersedia terbatas hanya untuk pengguna di wilayah Amerika Serikat (AS), sebelum nantinya akan diperluas ke negara lain secara bertahap.

Peluncuran ini melengkapi langkah meta yang meluncurkan aplikasi desktop berkapasitas lebih andal untuk pengguna Mac.

Kehadiran Muse bertepatan dengan peluncuran Siri AI dari Apple, menunjukkan upaya untuk meningkatkan kemampuan asisten suaranya di era chatbot ini.

Meskipun Siri AI kini mampu menjalankan sejumlah tindakan, sistem tersebut dinilai belum sepenuhnya menjadi sistem berbasis agentic jika dibandingkan dengan para pesaingnya seperti OpenAI, Anthropic, SpaceXAI, dan Meta.

Meta Lalai dalam Melindungi Anak-Anak?

Di sisi lain, persidangan yang tengah berlangsung di California, Amerika Serikat, kembali menyoroti dugaan peran Meta dalam memperburuk krisis kesehatan mental anak-anak.

Para jaksa agung negara bagian mendesak Meta untuk bertanggung jawab atas dampak platform media sosialnya terhadap anak dan remaja.

Mantan insinyur keselamatan Meta, Arturo Béjar, memberikan kesaksian dalam persidangan tersebut. Ia menyebut perusahaan sengaja menerapkan kebijakan “jangan tanya, jangan beri tahu” terkait upaya menjaga keselamatan anak-anak di platformnya.

Dikutip dari Futurism, Minggu (23/8/2026), Béjar mengatakan Meta mengetahui bahwa platformnya dapat membahayakan anak-anak. Salah satu persoalan yang disorot adalah munculnya konten seperti kekerasan dan materi seksual dalam feed pengguna muda.

Menurut Béjar, Meta tidak segera mencari solusi meski telah memahami persoalan tersebut. Hal ini dinilai bertolak belakang dengan klaim perusahaan yang berulang kali menyatakan tidak menempatkan keuntungan di atas keselamatan pengguna.

“Tampaknya dia (Zuckerberg) menciptakan kesan palsu dan menyesatkan mengenai komitmen Facebook terhadap anak muda,” ujar Béjar dalam kesaksiannya.

 

Bocoran dari Orang Dalam

Kesaksian Béjar bukan satu-satunya tudingan yang diarahkan kepada Meta. Sejumlah mantan orang dalam perusahaan sebelumnya juga pernah mengungkap dugaan strategi yang berkaitan dengan pengguna di bawah umur.

Tahun lalu, mantan Direktur Kebijakan Publik Facebook, Sarah Wynn-Williams, menerbitkan buku yang mengungkap strategi perusahaan dalam memperluas jangkauan iklan kepada anak di bawah umur sejak 2017.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya